Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Pengganggu


__ADS_3

(Halo! Bang Hanafi,ibuku sakit . Beliau ingin bertemu dengan mu,katanya kangen. Bisakan ke rumah orangtuaku,bang? Maaf,aku menceritakan tentang abang ke ibu. Katanya ada yang di sampaikan, sangat penting. Mumpung bang Hanafi,ke kota).


Aina, tiba-tiba menelpon dirinya. Memang benar bahwa Hanafi,ke kota. Itupun ada hal perlu,saat mengunggah status video dirinya di taman kota.


Tiba mau pulang karena pekerjaan sudah selesai, mendapatkan telpon dari Aina teman kecilnya itu.


Hanafi,menghela nafas beratnya dan menyetujui ajakan teman kecilnya itu.


"Sayang,mas mau kerumahnya Aina. Ibunya, tengah sakit dan mau bertemu denganku. Sudah lama juga, tidak bertemu dengan ibunya. Apakah kamu mengijinkan ku,tidak?". Tanya Hanafi, melalui telepon selulernya.


(Jangan mau,bang. Karena ibu kandungnya, Aina sudah lama meninggal). Jawab Yasmin,syok mendengar ucapan sang suami.


"Astagfirullah, innalilahi? Apakah benar,yang kamu katakan sayang. Tapi,mengapa Aina menyuruhku ke rumahnya?". Hanafi, kebingungan jadinya.


(Aku benar-benar serius,mas. Pergilah ke rumah Aina, tapi jangan sendirian. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak, bisakan pergi ke rumah Rt atau tetangganya dulu. Aku benar-benar serius dan tidak berbohong. Ibu kandungnya Aina, sudah lama tiada). Yasmin, berusaha untuk mempercayai ucapannya.


"Emang sih,mas tidak pernah bertanya soal ibunya. Kemarin kata Aina, main-main kerumah. Mas kira,ibunya masih ada. Ya sudahlah,mas pulang saja. Takut ujungnya menjadi buah penyesalan,aku gak mau kehilanganmu". Kekehnya Hanafi, senyum-senyum sendiri.


(Jangan gitu,mas. Aina,orangnya nekat sekali. Mas pergilah ke rumah,Aina. Tapi, harus ingat yah. Jangan sendirian, apa perlu bawa Rt. Jangan lama-lama,pulang yah. Yasmin,kangen dengan mas) kata Yasmin, dengan suara manjanya.


"Aaaarrgghh.... Oh, sudah bisa menggoda mas yah. Awas nanti,kalau datang. Siap-siaplah, sayangku. Mas,tutup dulu telponnya. Assalamualaikum,sayang".


(Wa'alaikum salam, suamiku. Uuummaaahh...).


Yasmin, langsung mematikan telponnya. Sontak membuat Hanafi,jadi gregetan dan ingin cepat-cepat pulang.


Hanafi, langsung berbelok dan menuju ke rumah teman kecilnya itu.


30 menit kemudian, hampir sampai di rumah Aina. Mobilnya berhenti di pinggir jalan,keluar dari dan menuju rumah orang lain.

__ADS_1


"Pak,boleh nanya nih?". Kata Hanafi, kepada seorang pria yang umurnya beda jauh dengannya.


"Boleh,mau nanya apa?". Ucap pria itu, cengengesan.


"Di sana rumahnya Bu Nunik,kan? Anaknya bernama Aina,benar gak?". Tanya Hanafi, mencari informasi tentang Aina.


"Waahh...Benar,itu rumahnya bu Nunik. Tetapi,bu Nunik sudah lama meninggal dunia. Sekitar 1 tahun yang lalu,emangnya kenapa?". Pria itu,malah balik bertanya kepada Hanafi.


Hanafi, mengerutkan keningnya. Apa yang di katakan sang istri, memang benar. "Makasih banyak,pak. Sebenarnya,saya di hubungi Aina. Kami teman kecil pak, keluarga kamu saling kenal dan dekat. Tadi Aina, menghubungi saya dan ibunya mau bertemu katanya. Saya, tidak tahu apa-apa soal ibunya karena lama tidak berjumpa. Kata temannya,ibu Aina sudah meninggal dunia. Tetapi, saya kebingungan di sini. Kata bapak,ibunya Aina sudah meninggal. Sedangkan Aina,bilang ibunya kangen sama saya". Jawab Hanafi, mengatakan sebenarnya.


"Hati-hati itu, takutnya terjadi apa-apa. Maksudnya, terjadi sebuah fitnah nantinya. Bertamu ke rumah Aina, tetapi gak ada orang lain cuman berdua. Beruntung sekali,kamu bertanya dan menemui saya. Mau ke sana,biar saya temanin. Panggil saja,pak Sam," Pak sam, mengenalkan dirinya.


"Makasih,pak Sam. Salam kenal,nama saya Hanafi". Hanafi, tersenyum. "Tidak perlu pak,saya mau pulang saja. Jadi takut kenapa-kenapa, nantinya. Permisi pak, pulang dulu". Pamit Hanafi, sedikit membungkukkan badannya.


"Sama-sama,nak. Hati-hati di jalan". Ujar pak Sam,yang di angguki Hanafi.


Hanafi, menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan sedang. Buru-buru meninggalkan perkarangan rumah, pak Sam. Takutnya Aina, mengetahui dirinya yang sudah dekat.


"Assalamualaikum, Aina! Ada apa?". Tanya Hanafi, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


(Wa'alaikum salam,bang.kenapa gak sampai-sampai? Ibuku, sudah gelisah dan tidak sabar menemui mu. aku juga mondar-mandir dari tadi, menunggu di teras rumah).


Hanafi, tersenyum kecil. Saat mendengar ucapan Aina, begitu jelas kebohongannya.


"Maaf, aku harus segera pulang Aina. Ada sesuatu yang terjadi di kebun sawit, mereka membutuhkan ku". Alibinya,sabar untuk tidak membongkar kebohongan teman kecilnya itu.


(Yah...Gak bisa gitu dong,bang. Ibu, pasti kecewa dengan sikap bang Hanafi. Cuman sebentar kok, gak papa). Terdengar suara kecewa,yang keluar dari mulut Aina.


"Maaf,lain kali aja. Titip salam kepada ibumu. Sekali lagi,aku gak bisa. Bukan apa-apa,ini masalah pekerjaan". Ucap Hanafi, sambil menyetir mobilnya.

__ADS_1


(Baiklah,jika ke kota lagi. Janji yah, mampir ke sini). Rengeknya Aina, terdengar jelas


"Oke,tapi tidak janji. Aku akan membwa Yasmin, bukankah kalian teman dekat". Jawab Hanafi, tersenyum kecil.


(Jangan bawa Yasmin, maksudnya. Aku ada masalah dengannya,plisss...Jangan bawa Yasmin,bang. Ini adalah momen kebersamaan kita, bukankah dulu kita sangat dekat. Ibuku, tidak mau di ganggu orang lain). Pintanya Aina, semakin di curigai Hanafi.


"Yasmin,bukan orang lain. Dia adalah istri ku, satu-satunya. Kalau tidak mau, kemungkinan aku tidak akan datang. Yasmin, seorang wanita yang berarti bagiku". Tegas Hanafi, tidak memperdulikan perasaan Aina.


(Bang Hanafi, sebenarnya ada yang ingin aku pertanyakan). Lirih Aina,pelan.


"Aku sedang di jalan, Aina. Sudah dulu,takut kenapa-kenapa". Akhirnya Hanafi, memutuskan panggilan telponnya.


Semakin kesini, memuakkan baginya. Sudah berbohong, entah mau apa lagi? Hanafi, tidak suka dengan orang yang berbohong kepadanya.


Beberapa kali Ponselnya berdering, tertera nama Aina. Sudah pasti di abaikannya, lebih baik menelpon sang istri.


*************


Malam harinya, Yasmin mencoba mencek ponsel suaminya itu. Dia terkejut melihat Aina, menghubungi suaminya.


"Angkat gak,yah? Mas Hanafi, lagi di kamar mandi". Gumam Yasmin, bimbang untuk mengangkatnya.


"Kenapa dengan ponselku, sayang". Tanya Hanafi,di ambang pintu dan mendekati istrinya.


"Eehh....Ada telpon dari Aina,mas. Yah....Aku bingung harus menjawab atau tidak, takutnya jadi masalah". Kekehnya Yasmin,jatuh ke pelukan suaminya.


"Angkat saja, siapapun yang menelpon mas. Karena aku, tidak macam-macam. Cuman dirimu,yang aku cintai". Hanafi, mengecup kening istrinya.


Lagi-lagi dering ponselnya berbunyi, tertera nama Aina. "Assalamualaikum,ada apa?". Tanya Hanafi, langsung.

__ADS_1


(Wa'alaikum salam,bang. Tolong Aina, bang. Hiks....Hiks... Tolong bang,ada seseorang yang meneror diluar rumah. Tolong... Tolongin, Aina... Hiks.... Hiks...". Terdengar isakan tangisnya, Aina.


Yasmin, menatap lekat ke arah suaminya. Sedangkan Hanafi, mengangkat kedua bahunya.


__ADS_2