
Yasmin, memasang wajah masam. Dia, mengira pagi tadi akan sakit keras. Namun, harapan tidak sesuai dengan keinginan.
Dia, sehat-sehat saja dan tidak sakit atau flu lainnya. Membuat dirinya, semakin kesal.
Yasmin, memandang dirinya di pantulan cermin. Kebaya pengantin, berwarna putih. Melekat pada tubuh, wajahnya di makeup tipis. Terpancar aura kecantikan,di wajahnya. Tanpa ada, senyuman manis.
"Aaaarrgghh....Sial, kenapa aku tidak sakit?". Gerutu Yasmin, ingin sekali menghapus make up di wajahnya. Tetapi,mana mungkin dia lakukan sekarang.
"Masya Allah,nak. Lihatlah, kamu sangat cantik. Tidak seperti dulu, pertama kali kamu nikah. Auranya keluar,". Kata ibu-ibu lainnya, bisik-bisik mulai terdengar oleh Yasmin.
"Bu,tolong tutup pintu kamarnya". Rengek Yasmin,tak ingin mendengar cibiran dari ibu-ibu lainnya.
Namanya juga pengantin, sudah pasti orang lain mengerumuninya. Yasmin,merasa gerah dan sesak. Kamarnya,di penuhi ibu-ibu dan anak-anak kecil.
"Ayo,keluar dulu. Pengantinnya, kepanasan dan sesak". Pinta mua, yang merias wajah Yasmin.
Berharap,aku pingsan saat ini. Batin Yasmin, menghela nafas beratnya.
Jam dinding sudah, menunjukkan pukul delapan pagi. Tetapi,acara belum mulai juga. Yasmin, semakin gelisah dan tak karuan. Tidak ada tanda-tanda,memulai acaranya. Apakah benar, Hanafi tidak akan datang.
"Bukankah, acaranya sudah mulai. Lalu,kenapa belum? Ya Allah, apakah mas Hanafi benar-benar tidak datang? Tidak mungkin,Ya Allah aku tidak sanggup bertahan hidup". Gumam Yasmin,air matanya luruh sudah.
Dia, tidak berselera makan. Langsung di buang ke jendela, takutnya sang ibu memaksa dirinya. "Bagaimana,nasip bapak dan ibu? Mas Hanafi, begitu tega kah dirimu kepada orangtuaku. Aku, yang sudah menyakiti perasaan mu. Tetapi,kenapa orangtuaku ikut-ikutan dan menanggung rasa malu. Bisa jadi, bapak dan ibu tidak menganggap ku sebagai anak lagi". Yasmin,meremas kebaya pengantinnya.
Jam dinding, seakan-akan menghantui pikirannya. Dia, mondar-mandir ke sana kemari. Tidak ada tanda-tanda,orang masuk kedalam kamar.
Ceklekk....
Pintu kamar terbuka, masuklah mua yang merias Yasmin. "Astaga,kamu kenapa menangis? Lihatlah, riasannya jadi berantakan". Tegur mua,yang gelabakan.
"Maaf,aku cuman terharu atas pernikahan ku Mbak. Maaf, sudah merusak riasan mu". Alibi Yasmin, tersenyum.
"Tidak apa, cuman sedikit. Pasti gugup sekali yah,kita harus keluar. Karena ijab kabul, sudah selesai". Ucap mua, dengan santainya.
"Apa? Ijab Kabul sudah selesai, kapan Mbak ". Tanya Yasmin, tidak mengetahui sama sekali.
__ADS_1
"Loh,ijab kabulnya di rumah suamimu tadi. Tidak jadi di rumah orangtuamu. Emangnya, tidak tau". Tanya mua,yang penasaran.
"Tidak, Mbak. Jadi,ijab kabul sudah selesai...". Yasmin, langsung tak sadarkan diri.
"Ya Allah, Yasmiiiinn.... Yasmiiiinn....". Mua, ketakutan dan langsung meminta pertolongan.
"Bu iis,mana Yasmin? Dia,harus keluar dari kamar. Tuh,nak Hanafi dan lainnya sudah menunggu". Ibu-ibu lainnya,juga menunggu kehadiran Yasmin.
"Ituuu....Yasmin,Yasmin" Mua, gugup dan jantungnya berdegup kencang.
Hanafi, langsung menoleh ke sumber suara. Dia, bangkit dari duduknya.
Ibu-ibu lainnya, langsung menyelonong masuk kedalam kamar. Benar sekali, Yasmin tidak sadarkan diri.
Bu Aminah, langsung memangku anaknya. Mencoba membangun Yasmin,akan tetapi nihil. "Bangun nak,jangan bikin ibu khawatir". Ucap sang ibu, dengan derai air matanya.
Pak Jamal,meminta ibu-ibu lainnya untuk keluar dari kamar dulu. Biarkanlah,pihak orangtua dan suaminya masuk.
"Ya Allah,kenapa kamu nak. Bangun nak Yasmin,nak". Pak Jamal, sudah mengkhawatirkan keadaan anaknya.
************
Setengah jam berlalu, Yasmin sudah di periksa oleh dokter. Suasana juga mulai tenang, tidak seperti tadi.
"Bagaimana, keadaan anak saya dok Anwar? Dia, baik-baik saja kan". Tanya pak Jamal,yang mengkhawatirkan anaknya.
"Alhamdulillah,anak bapak dan ibu tidak apa-apa. Dia,cuman kelelahan dan banyak pikiran. Tolong,pola makannya di jaga. Satu lagi,jangan membebani pikirannya. Bisa terpengaruh, dengan kesehatan anak pak Jamal". Ucap dokter Anwar, tersenyum.
"Terimakasih, dokter Anwar. Beruntung sekali,anda ada di rumah". Kata Hanafi, tersenyum.
"Biarkan istri mu istirahat dulu. Lebih baik,jangan di lanjuti acara pernikahannya. Takutnya, kondisi istri mu semakin memburuk. Setelah bangun nanti,tolong berikan dia makan. Sepertinya, perutnya kosong dan tidak makan sama sekali". pinta dokter, langsung.
"Tidak makan? Tapi, makanannya habis di meja. Ibu, sudah memintanya makan pak". Sahut bu Aminah,dia ingat sekali karena membawa makanan kepada Yasmin.
Tidak makan?Apa dia,sengaja melakukan hal ini. Batin Hanafi, melihat ke luar jendela. Ada makanan,yang di buang di sana. "Baiklah,dok. Nanti aku sendiri,yang memberikannya makan". Kata Hanafi, tersenyum.
__ADS_1
Dokter Anwar,pamit pulang. Begitu juga dengan orangtuanya Yasmin, harus menyelesaikan diluar. Pak Jamal, menyerahkan Hanafi untuk menjaga putrinya.
"Aaakkhh.... Sshhhttt.... Kepalaku sakit sekali,". Ucap Yasmin, meringis kesakitan.
"Ck, sudah sadar. Puas, membuat keributan sejagat raya". Hanafi, langsung menatap tajam ke Yasmin.
"Mas,kamu....Mas, ngapain di dalam kamar ku? Sana keluar,jangan macam-macam mas". Tegur Yasmin,masih menahan rasa sakit di bagian kepalanya.
"Kamu lupa, Yasmin? Jika kita sudah sah Suami-istri,". Sahut Hanafi, dengan lirikan mata yang tajam.
"Aaakkkhh.....Aku kira,akad nikah ini tidak akan terjadi. Kenapa,kamu berubah pikiran mas? Apa kamu, tidak tega melihat ku terluka". Delik mata Yasmin, tersenyum meremehkan Hanafi."Atau, demi orangtuaku lagi. cuman itu mas,yang bisa kamu jadikan alasan".
"Jangan kepedean kamu,aku tidak kabur demi Widya. Dia, memohon-mohon kepada ku. Agar tidak kabur,saat akad nikah. Dia, mengancam dengan bunuh diri". Tegas Hanafi, dengan lantang.
Yasmin, menyunggingkan senyumannya. Dia, seakan-akan tidak percaya. Matanya, melihat sang suami keluar dari kamar. Dia,baru bernafas lega. "Syukurlah,dia tidak kabur. Terimakasih,Ya Allah. Sudah mendengarkan doa-doa ku,". Gumam Yasmin, kakinya turun dari ranjang.
Ceklekk....
Lagi-lagi Hanafi, masuk kedalam kamar dan membawa makanan.
Hanafi, meletakkan makanan di meja. "Makanlah,jangan di buang lagi. Bikin susah orang saja,apa lagi keributan dimana-mana". Bentak Hanafi, menjauhkan diri dari Yasmin.
"Aku, tidak mau makan". Tolak Yasmin, langsung.
"Makan Yasmin,jangan ngelunjak dan sudah cukup merepotkan orang lain. Gara-gara kamu pingsan,suka sekali bikin ulah yang tidak bermutu". Bentak Hanafi,lagi.
Yasmin, mengepalkan kedua tangannya. Terpaksa,dia menyuapkan makanan ke mulutnya.
Selesai makan, Yasmin langsung menuju ke arah lemari. Dia, langsung menggantikan pakaiannya. Tak perduli dengan tatapan tajam, Hanafi.
"Keluar mas,aku mau ganti baju". Pinta Yasmin, memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kamu, tidak ada hak mengusirku Yasmin. Karena aku, suamimu. Mau,jadi istri durhaka". Suara Hanafi, menggelegar seisi kamar Yasmin.
"Ck,ini kamar ku mas. Suka-suka akulah,aku tidak perduli jika mas suamiku". Delik mata Yasmin, tersenyum smrik.
__ADS_1
Malas menghadapi sikap Yasmin, Hanafi keluar dari kamar.