
Yasmin, tercengang melihat sesosok wanita di depan pintu kamarnya. Dia, mempersilahkan masuk ke dalam. Sepertinya,dia mirip dengan wanita yang di foto tadi. Apa benar,dia sepupunya mas Hanafi. Batin Yasmin, menatap lekat.
"Makasih, sudah memperbolehkan masuk. Kenalkan namaku, Widya. Sepupunya bang Hanafi, aku sering ke sini. Tapi,kita baru bertemu mbak".
Yasmin,membalas uluran tangan Widya. Dia, tersenyum dan merasakan sesuatu yang tidak enak. "Salam kenal, Widya. Pasti kamu tau, namaku siapa? Mana mungkin,mas Hanafi tidak cerita".
"Kamu itu, tidak tahu malu yah. Dulu,menolak lamaran bang Hanafi. Sekarang sudah berstatus janda, menerima lamaran abangku. Ck,apa kamu tidak menyesal mbak Yasmin? Karena sudah menolak, lamaran bang Hanafi". Kata Widya, tersenyum smrik.
Yasmin,menghela nafas dan duduk di pinggir ranjang. "Menyesal? Aku,sama sekali tidak menyesal. Pernikahan ini,di jodohkan orangtuaku. Tidak ada sangkut pautnya, dengan ku. Demi kebahagiaan mereka dan tidak mengecewakan orangtua. Aku, terpaksa harus menikah dengan mas Hanafi. Pastilah, kamu mengetahuinya kan! Jika abangmu itu, memiliki rencana tersembunyi di balik dia menjadikan ku sebagai istri".
"Iya,aku mengetahuinya. Bahkan,aku menyetujui niat bang Hanafi. Wanita seperti dirimu,di berikan pelajaran. Sok belagu, menolak lamaran orang. Lihatlah, rumah tangga mu saja hancur mbak". Ejek Widya, tersenyum.
"Kamu, tidak tahu apa-apa Widya. Apa jangan,kamu suruhan mas Hanafi. Agar kamu, menjelek-jelekkan diriku". Yasmin, sudah berusaha untuk sabar.
"Sebenarnya,aku kasian dengan bang Hanafi. Kenapa,dia menikah dengan mu? Padahal,banyak gadis-gadis cantik lainnya. Termasuk,teman kuliahku. Aku kira,bang Hanafi sangat mencintaimu. Tidak bisa melupakan selama ini, akhirnya aku menemukan jawabannya. Jika bang Hanafi, ingin balas dendam dan bersiap untuk menyakiti perasaan mu. Sama seperti kamu,menolak pinangannya dulu". Hardik Widya, menatap tajam ke arah Yasmin.
"Terserah, apa yang kamu katakan. Aku, tau peduli sama sekali. Apapun yang terjadi nantinya,aku ikhlas dan menerima dengan lapang dada. Yang salah bukan aku,tapi dia. Kenapa,aku menolak lamaran waktu dulu. Karena aku, memiliki kekasih dan ingin menikah juga. Mana mungkin,aku memutuskan hubungan demi lamaran orang lain. Seandainya, aku tidak ada kekasih. Bisa jadi,aku menerima lamaran mas Hanafi. Sekarang,dia ingin balas dendam karena sakit hatinya. Entahlah,apa yang di pikiran abangmu. Jujur saja Widya, aku tidak menginginkan pernikahan ini. Jika terjadi,sama saja. Aku, memasuki neraka baru dalam hidupku. Aku, masih trauma menjalin rumah tangga. Hatiku hancur berkeping-keping, semangat untuk hidup. Seakan-akan, tidak ada Widya. Jika abangmu, menyakiti hatiku. Sama saja, tidak ada artinya. Karena aku,masih berduka". Yasmin, menghapus air matanya dengan kasar. "Asalkan kamu tahu, Widya. Abangmu, tidak mungkin hadir besok di akad nikah. Karena dia, ingin mempermalukan diri ku dan menyakiti ku". Sambungnya Yasmin, menyunggingkan senyumnya.
Widya,terdiam membisu. Mulutnya kelu, tak bisa berkata apa-apa. Dia, langsung keluar kamar dan menutupnya. Apa yang di katakan mbak Yasmin,memang benar? Astaga, apa yang sudah aku lakukan kepada mbak Yasmin. Aku, sudah menoreh luka di hatinya. Batin Widya,dia sudah salah berbicara seperti itu
__ADS_1
Sedangkan Yasmin,menangis kesegukan di atas ranjang. Entah,apa yang terjadi besok hari. Dia, bersiap-siap menjaga kewarasan. Tak lupa,dia sudah memasukan baju-baju ke dalam tas. Lalu, di menyimpan ke bawah ranjang. Jika akad nikah, gagal besok hari. Kemungkinan, dia tidak akan pernah ke desa ini. Malu, itulah yang di rasakannya. Apa lagi atas fitnah,yang di buat oleh Hanafi.
************
Widya, langsung menanyakan kepada Hanafi. Perihal,masa lalu dulunya. "Bang,jangan aneh-aneh. Segitu teganya menyakiti mbak Yasmin,yang salah abang. Kenapa dulu, tidak mencari tahu yang sebenarnya? Jika Abang tahu, Mbak Yasmin memiliki kekasih. Pastilah,abang tidak sembarangan melamar orang. Bang, pikirkan baik-baik. Aku melihat dengan mataku sendiri,mbak Yasmin orangnya baik".
"Diamlah, Widya!! Aku, tidak peduli dengan kata-kata mu dan Yasmin. intinya,aku ingin balas dendam dan menebus rasa sakit hati dan malu". Bentak Hanafi, langsung.
"Bang,apa benar yang di katakan Mbak Yasmin? Jika besok akad nikah,abang tidak datang. Apa Abang, ingin membuat Mbak Yasmin menanggung rasa malu? Bang,aku tidak setuju dengan ide mu. Aku,yang pertama membela Mbak Yasmin. Tidak memperdulikan Abang, sudah membiayai hidupku selama ini. Karena kebenaran,harus di bela. Tidak perduli,jika abang marah kepadaku". Tegas Widya, menggeleng kepalanya.
"Oh, jadi kamu mau melawan abangmu ini ha? Apa tidak ingat, siapa abang? Selalu, menuruti kemauan mu dan biaya pendidikan lainnya". Tanya Hanafi, menatap tajam ke arah sepupunya itu.
"Ini urusan Abang,kamu tidak berhak ikut campur. Ingat itu,cukup jangan membahas ini lagi. Besok hadirnya abang, atau tidak. Itu semua, bukan urusanmu Widya". Tegas Hanafi, meninggalkan Widya yang masih mematung.
"Maafkan aku, mbak Yasmin. Karena gagal, membujuk bang Hanafi. Aku, banyak berjasa kepada bang Hanafi. Selama ini, membiayai kehidupan ku dan membayar pendidikan sampai menggapai cita-cita ku". Gumam Widya,tak mampu berbuat apa-apa
************
Yasmin, mondar-mandir di dalam kamar. Waktu menunjukkan pukul,11 malam. Di luar tengah,hujan deras.
__ADS_1
Hatinya tak karuan, pikirannya berkecamuk kemana-mana. Dia,masih tidak bisa jika besok akad nikah. Tetapi, calon suaminya tidak ada.
"Bagaimana,ini? Aku, tidak siap untuk besok hari. Jika mas Hanafi, tidak ada. Ya Allah, tidak sanggup melihat kedua orangtuaku. Tidak masalah,aku di fitnah orang-orang sekitar. Tetapi, bagaimana dengan bapak dan ibu?". Ucap Yasmin,mengusap wajahnya.
"Apa aku,kabur saja malam ini? Aaakkkhh.... Tidak mungkin, bagaimana bapak dan ibu. Duhhhh...Apa yang harusnya aku lakukan? Pikirkan ku, benar-benar buntu. Tunggu dulu, bagaimana jika aku hujan-hujanan. Lalu, besoknya sakit-sakitan dan akad nikah di undur sampai aku sembuh. Aahhh...Kamu, benar-benar sangat cemerlang Yasmin ".
Yasmin, langsung memulai aksinya.Dia,membuka pintu jendela.Tidak memperdulikan, Sambaran petir menggelegar. Memang benar-benar,niat untuk mencari masalah baru.
Yasmin, mendekati pintu jendela dan terkena percikan air hujan. Lama-lama tubuhnya, basah kuyup. Matanya terpejam dan merasakan setiap percikan air.
Tubuhnya gemeteran sudah, merasakan hawa dingin sekujur tubuhnya. Air hujan, bercampur dengan air matanya.
Hampir dua jam, Yasmin berdiri di depan pintu jendela. Dia, menutupnya kembali. Tak kuat menahan,rasa dingin dan tubuhnya menggigil.
"Aaciiimmm... Aaciiimmm.... Baguslah,aku sakit. Jika bisa,besok aku tak sanggup untuk duduk". Inilah yang di cari Yasmin, berharap dia sakit besok hari. Agar akad nikah,gagal dan mengundur waktu.
Yasmin, langsung mengganti pakaiannya. Setelah selesai,dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Huuuu....Huuuu... Dingin sekali, aaciiimmm....".
Malam semakin larut, Yasmin terlelap dalam tidurnya. Tak kuar manahan rasa kantuk,yang dia tahan sejak tadi.
__ADS_1