
"Faris, bagaimana bisa? Kamu, melakukan hal sekeji itu kepada Yasmin". Indah, menatap tajam ke arah adiknya.
"Mbak,aku juga tidak tahu? Kenapa,pria suruhan aku nekat masuk kedalam. Aku, meminta dia untuk menemui Yasmin di diluar saja. Tidak meminta dia, melakukan pelecehan itu. Aku juga syok, melihat kejadian kemarin". Faris, memijit pelipisnya.
"Kamu itu,yah. Menyuruh seseorang melakukan hal itu,tapi tidak diskusi dengan kami. Sekarang apa,kamu mendapatkan suruhan gadungan. Jadinya, seperti ini". Bu Yahya, geram kepada Faris.
"Memang yah,kamu itu selalu saja mencari masalah Faris. Jika tidak mau bersama Yasmin,tinggal kamu ceraikan apa susahnya". Hamid, menggeleng kepalanya.
"Masalahnya,aku ingin meyakinkan Diana. Jadi,bukan aku sengaja meninggalkan Yasmin. Tetapi, karena Yasmin selingkuh". Sahut Faris,dia kebingungan karena Yasmin nekat melaporkan kasus ini ke polisi.
"Sekarang apa, Faris? Kamu,malah bawa Mbak mu ke penjara. Kok bisa, indah terseret kasus ini". Hamid, kebingungan jadinya.
"Pak polisi,kenapa anakku indah ikutan masuk ke dalam penjara? Bukankah, Faris menyuruh seseorang melecehkan Yasmin". Bu Yahya, langsung menanyakan kepada polisi.
"Begini bu, pelaku pertama tertangkap suruhan bu indah. Dia,juga membajak WhatsApp bu Yasmin. Besok hari, bu Yasmin dan keluarganya akan datang. Mereka akan berpikir, bagaimana kedepannya nanti".
Bu Yahya, langsung menghela nafas panjang. "Sialan,awas kamu Yasmin".
"Bu,kita di suruh pulang. Tapi,mau tinggal dimana? Diana, sudah mengusir kita". Kata Hamid, kebingungan. Sekarang mereka,tidak memiliki apapun.
"Kita kerumah Diana, mengambil barang-barang di sana. Siapa tahu, milik Faris ada. Mana mungkin,dia tidak ada uang". Bisik bu Yahya, langsung di angguki Hamid.
Bu Yahya, pamit kepada anaknya indah. Dia, tidak memperdulikan bagaimana keadaan Faris.
"Sekarang,aku nyesal Mbak. Rupanya, ibu memiliki masalah besar di masa lalu Diana". Kata Faris,terduduk lesu.
"Ck,aku tidak perduli dengan mu. Yang penting,aku bebas dari sini. Palingan,kamu yang di penjara. Toh,aku cuman meminta mengirim pesan dan membajak WhatsApp Yasmin". Kata indah, tersenyum smrik.
"Mbak,tega sekali kepadaku. Benar-benar niat, menghancurkan rumah tangga kami". Faris,mengusap wajahnya ke belakang.
"Eee..Masih untung aku, Faris. Daripada kamu, menyuruh seseorang menemui istrimu. Nyatanya,dia mengambil kesempatan untuk melecehkan Yasmin. Jika terlambat, kemungkinan Yasmin sudah di per kaos oleh pria itu". Kata indah,yang geram kepada Faris.
"Aaarghhh... Kenapa, seperti ini? Berharap, Yasmin memaafkan kesalahanku". Gumam Faris, meremas kepalanya.
Indah, memutarkan bola matanya dengan memelas. Benar-benar muak, melihat Faris.
__ADS_1
*************
"Bu, barang-barang kita". Hamid, bergegas menuju tumpukan pakaian. Rupanya, Diana sudah mengeluarkan milik bu Yahya dan anak-anaknya.
"Tapi,mana barang berharganya bu? Cuman ada pakaian,doang". Kata Hamid, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dianaaaaa....Keluar kamu,heeAeiiii....keluar kamu, Dianaaaa..Mana barang-barang, berharga Faris". Teriak bu Yahya, menggedor-gedor pintu rumah Diana.
Pintu terbuka lebar, terlihat sesosok Diana tersenyum smrik. "Pergiiiiii.....Jangan pernah lagi, menginjak kaki di rumah ini". Tegas Diana.
"Mana Ponsel dan dompet, Faris? Berikan semuanya kepadaku,itu hak anak saya". Tegas bu Yahya, dengan suara keras.
"Besok,aku kasih ke Faris. Karena aku,tau otak bu Yahya. Ingin menguasai seluruh,milik Faris". Kata Diana, langsung menutup pintu rumahnya.
Braakkkk....
"Kurang ajar kamu, Diana". Teriak Hamid, sekeras mungkin."Sekarang kemana,bu. Uang tidak cukup, untuk mencari kontrakan rumah".
"Kita ke tempat Yasmin,pasti dia ada di rumah belakang sekolah". Bu Yahya dan Hamid, langsung memungut pakaian dan memasukkan ke dalam tas. Jalan satu-satunya tujuan, adalah kerumah Yasmin. Karena mereka tidak, memiliki apapun lagi.
Sudah beberapa kali, Hamid memanggil nama Yasmin. Namun, tidak ada yang menjawabnya. "Bu, tidak terkunci". kata Hamid,membuka handle pintu.
"Baguslah,kita masuk kedalam rumah. Siapa tahu, Yasmin ada". kata bu Yahya, langsung masuk kedalam. Keadaan sekitar,memang sangat sepi.
Mereka berdua, calingukan melihat sekeliling. Rupanya, perabotan Yasmin masih utuh. Hanya saja, beberapa pakaian yang di bawanya.
"Lumayanlah, kita tinggal di sini dulu. Kamu, secepatnya cari pekerjaan Hamid. Takutnya,kita di usir dari sini". Bu Yahya, membersihkan seisi rumah. Yang berantakan sekali dan berdebu.
"Iya, Hamid usahakan kok. Doakan saja". Jawab Hamid,mulai santai-santai."Kemana yah, Yasmin? Bahkan,dia tidak membawa perabotan rumah tangganya".
"Palingan dia, pulang ke rumah orangtuanya. Kemana lagi, kalau tidak ke sana". Sahut bu Yahya , langsung.
**************
Besok harinya, Yasmin dan orangtuanya tiba di kantor polisi. Begitu juga,bu Yahya dan Hamid.
__ADS_1
"Nak, kamu yang sabar. Jangan lemah di hadapan mereka,pasti mereka akan mengejek dirimu". Bu Aminah, menguatkan hati anaknya.
"Iya,bu. Yasmin,paham. Sekarang Yasmin, tidak akan memberikan kesempatan lagi". Jawab Yasmin, tersenyum kecil.
Mereka masuk kedalam, terlihat bu Yahya menatap sinis terhadap orangtuanya Yasmin.
"Silahkan,duduk dulu". Polisi itu, mempersilahkan duduk.
Barulah Faris dan indah,di bawa ke sebuah ruangan. Dimana ada Yasmin dan keluarganya dan keluarga Faris.
Tangan mereka di borgol dan di tuntun oleh polisi.
"Yasmin...". Lirih Faris, berharap sang mantan istri memaafkan kesalahannya.
Yasmin, berusaha menahan air matanya. Agar tidak jatuh, rasanya tidak Sudi menangis pria sebejat itu. Sakit sekali, mengingat kejadian dimana dirinya hampir di per kaos.
Semuanya terdiam sejenak,saat polisi memberikan penjelasan kepada mereka.
Setelah selesai, barulah polisi menyerahkan kepada Yasmin. "Silahkan,bu Yasmin. Apa kasusnya masih berlanjut atau tidak, kami siap melayani bu Yasmin".
"Baik,pak. Saya akan memberikan mereka pelajaran, terutama mantan suami saya. Mengikuti prosedur berjalan,pasal dan hukuman. Saya serahkan,kepada pihak berwajib. Saya ikhlas,dia mendekam di penjara". Ucap Yasmin, dengan tegas.
Yasmin, tidak memperdulikan bagaimana keadaan mantan suaminya. Dia, berhak mendapatkan hukuman atas perbuatannya.
"Baiklah,kami terima". Jawab pak polisi, langsung.
"Yasmin, jangan seperti ini. Tolonglah, berikan kesempatan untuk mas. Mas janji,akan memperbaiki hubungan kita. Mas,hilaf dek. Tolong, bebaskan mas. Cabut tuntutanmu,dek". Faris, memohon kepada Yasmin.
"Yasmin...". Bu Aminah, menggenggam jemari tangan anaknya.
"Ck, meminta kesempatan lagi. Jangan harap Faris,aku sebagai orangtuanya. Benar-benar marah, kepadamu. Jika kamu,memang tidak menyukai anakku lagi. Apa susahnya ha,? Kembalikan dia, baik-baik kepadaku. Aku, dengan senang hati menyambut anakku. Sekarang,kamu terima hukumannya. Sungguh kejam perlakuan mu, Faris". Bentak pak Jamal, dadanya naik turun mengontrol dirinya.
"Pak, Faris tidak tahu apa-apa. Faris, tidak menduga pria itu tega melakukan hal yang tidak wajar. Mohon ampun,pak". Faris, bahkan bersimpuh di hadapan orangtuanya Yasmin.
Yasmin,masih terdiam membisu. Mulutnya kelu, tak bisa berkata apa-apa. Rasa cinta , yang begitu dalam. Kini Sirna sudah,yang ada sebuah kebencian.
__ADS_1