
"Bapak, sudah merencanakan pernikahan mu Yasmin. Jangan menunda lagi, lebih cepat lebih baik. Apa lagi,mantan suamimu ada. Pastilah,dia berusaha meluluhkan hati mu dan menggagalkannya". Ucap pak Jamal. Maafkan,bapak Yasmin. Ini semua demi kebaikanmu, bapak yakin. Nak Hanafi, mampu membahagiakan dirimu dan menjagamu.
Nafsu makan Yasmin, seketika hilang. Mengelak perkataan ayahnya, tidak mungkin. "Iya,pak". Jawabnya, berusaha tersenyum. Ya Tuhan,apa secepat ini? Bisakah,aku menjalani rumah tangga bersama pria yang bermuka dua.
"Dokumennya ada di meja ruang tamu,kamu urus sendiri untuk pindah jadi warga sini lagi. Di kantor kepala desa, sudah ada nak Hanafi membantumu untuk mengurusnya". Perintah pak Jamal, langsung di angguki Yasmin.
Sebenarnya dia,enggan untuk bertemu dengan Hanafi. Yasmin, membenci Hanafi yang bermuka dua. Haruskah,aku berhadapan dengan pria sombong dan licik itu. Batin Yasmin.
"1 lagi Yasmin, jangan bersifat kekanakan kepada Hanafi. Sudah cukup, membuat malu bapak". Pinta pak Jamal, menatap tajam ke arah Yasmin.
Yasmin, menghela nafas beratnya dan mengangguk. Selesai makan dan beberes,dia pergi ke kantor kepala desa.
Langkah kakinya,terasa berat memasuki kantor kepala desa. Matanya tertuju pada seorang pria, begitu gagah menggunakan baju dinasnya. Ada seringai tajam, ke arah Yasmin.
Yasmin, merasakan sesuatu yang tidak beres. Tetapi,dia berusaha waspada terhadap Hanafi.
"Silahkan,duduk calon istri ku". Kata Hanafi, tersenyum smrik.
Yasmin,duduk secara berlahan. "Ini dokumennya". Meletakkan sebuah dokumen di meja kerja Hanafi. Dia, sangat tidak menyukai perkataan calon suaminya itu. Menikah dengan Hanafi,bukan membina rumah tangga seperti surga. Melainkan seperti neraka, akankah dia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan di pernikahannya.
"Apa kamu sudah mendengar ucapan, bapakmu. Jika kita, sebentar lagi akan menikah. Karena bapakmu,takut jika mantan suamimu berbuat apa-apa. Aku, ingin nanti-nanti saja. Untuk akad nikah, karena aku tidak ada niat untuk bersama mu. Namun,aku kasian kepada bapakmu terus-terusan merengek-rengek meminta aku segera menikahi putrinya. Yang berstatus janda,". Ucap Hanafi, tanpa memikirkan perasaan Yasmin.
Yasmin, mengepalkan kedua tangannya. Berusaha membendung air matanya,jangan sampai terlihat lemah di hadapan Hanafi. "Mas Hanafi, untuk apa melakukan ini semua. Aku, tidak percaya jika bapak bermohon-mohon kepada mu. Apa jangan-jangan, segitunya kamu merendahkan harga diri bapakku. Katakan mas, untuk apa semua ini? Kamu, bisa-bisanya bermuka 2 dan licik".
"Untuk apa? Masa kamu, tidak memikirkan dan mencerna perkataan ku. Hemmm...mana mungkin,kamu bodohkan". Sahut Hanafi, menghembuskan asap rokok di mulutnya dan mematikan potong rokok di asbak. "Aku,mana ada merendahkan harga diri bapakmu. Cuman menyakiti perasaan mu,saja". Sambungnya lagi.
__ADS_1
Balas dendam? Mana mungkin,mas Hanafi melakukan itu.Batin Yasmin,dia menebak asal. "Ap jangan-jangan,mas Hanafi ingin balas dendam kepada ku. Waktu itu,aku menolak lamaran mu".
Hanafi, menyunggingkan senyumnya. Saat mendengar ucapan, Yasmin. "Tepat sekali, aku ingin balas dendam Yasmin. Lalu, bagaimana rasanya jika dirimu di salahkan oleh bapakmu sendiri. Malu dan sakit hatikan, begitu juga aku. Aku, sangat malu dan sakit hati. Di saat kamu, menolak mentah-mentah lamaranku. Tanpa berpikir panjang, sampai detik ini aku belum nikah karena trauma".
Yasmin, tidak menyangka jika sikap Hanafi benar-benar ingin menyakitinya. "Oh,jadi ini alasannya kamu melakukan skenario licik ini". Yasmin, menggeleng kepalanya. Air matanya luruh sudah, hatinya sudah terluka karena sifat Suaminya. Kini, calon suaminya malah menambah luka lagi.
"Lalu, bagaimana jika akad nikah nanti. Aku, tidak ada Yasmin. Pastilah,aku menceritakan alasannya kenapa aku tidak ada? Pertama, karena mantan suami dan kedua karena suruhan mu. Bagaimana,kau menghadapi amarah dan caci maki habis-habisan dari orang-orang sekitar. Sedangkan kamu, tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka,lebih mempercayai ku di bandingkan dirimu. Di tambah lagi,kedua orangtuamu dan abangmu membencimu". Seringai tajam Hanafi,dia puas mengaduk-aduk perasaan Yasmin.
"Lakukan mas,yang mana bisa membuatmu bahagia. Lakukan, terserah kamu mas. Apa kamu tidak berpikir, dengan jernih. Kenapa, aku menolak lamaran mu? Pertama,aku memiliki kekasih. Karena kekasih ku,mengajak menikah. Begitu juga kan, pendapat mas Hanafi. Mana mungkin, menikah dengan orang lain. Sedangkan mas, memiliki kekasih. Yang kedua, bukan salah ku mas. Karena kamu sendiri, tidak bertanya kepada ku. Aku memiliki kekasih atau tidak, bukannya mas memiliki mulut dan tidak bisu. Apa susahnya mas, untuk bertanya sebelum melamar orang. Selidiki dulu, wanita itu jangan gegabah. Seandainya, aku tidak memiliki kekasih. Kemungkinan, aku menerima lamaran mas". Ucap Yasmin,dalam isak tangisnya. Hanafi, dibuat bungkam oleh Yasmin.
"Lakukan,yang kamu lakukan mas. Jangan sampai, sebuah kesalahan membuat mu dirimu tidak tenang sepanjang hidup mu". Tegas Yasmin, tersenyum smrik. Dia, beranjak berdiri dan menatap tajam ke arah Hanafi.
"Yasmiiiinn... Yasmiiiinn.... Kamu, tidak apa-apa kan". Faris, tiba-tiba menghampiri Yasmin. Dia, terlihat ketakutan.
"Dia,dia berkata kepadaku. Jika kamu,akan di lecehkan di sini Yasmin. Mas, ketakutan kepadamu. Mas, tidak rela jika pria ini macam-macam dengan mu". Faris, ngos-ngosan mengatur nafasnya.
"Cukup mas,jangan berbicara aneh-aneh. Lihatlah,aku tidak apa-apa. Dasar,bikin masalah aja". Gerutu Yasmin. "Tidak seperti dirimu, licik dan berhati iblis".
"Brengseeekk....".
Buughhh....
"Mas Hanafiii....". Pekik Yasmin,di saat wajah Hanafi mendapatkan bogem mentah dari Faris. "Mas Faris,kamu apa-apaan sih? Tidak sopan,main pukul orang".
"Dia,memang pantas mendapatkan bogem mentah ku. Karena dia, berbohong kepadaku Yasmin. Dia, berniat untuk melecehkan dirimu". Teriak Faris, sekeras mungkin.
__ADS_1
Sreeetttttt.....
"Mas,kamu....". Yasmin, terkejut dengan sikap Hanafi. Dia, tiba-tiba merobek rok Yasmin.
"Kurang ajar,kamu mencoba melecehkan Yasmin". Faris, berusaha untuk menghajar Hanafi. Tetapi,di halat para pekerja di kantor kepala desa.
Hanafi, tersenyum sumringah dan memiliki ide cemerlang.
"Stop....".
"Wahhh... Apa-apaan ini,".
"Bantu, untuk memisahkan mereka pak". Ucap lainnya, terkejut melihat pertikaian antara kepala desa dan warga.
"Lepaskan,dia ingin melecehkan Yasmin. Lihatlah,rok Yasmin robek". Ucap Faris, sambil menunjukkan ke arah rok Yasmin.
"Tidak pak,bukan aku yang ingin melecehkan Yasmin. Tetapi dia". Hanafi, menunjukkan jarinya ke arah Faris. Sontak mata mereka, tertuju kepada nya."Aku ingin menolong Yasmin. Tapi,dia malah menampar wajah ku". Bantah Hanafi,dan menggelengkan kepalanya.
Yasmin, terkejut mendengar ucapan Hanafi. Apa lagi,yang di rencanakan untuk menjatuhkan harga dirinya. Kali ini, Yasmin harus melawannya. "Bapak-bapak,kalian salah paham. Rok saya sobek,karena kena pagar tadi di luar. Mang Udin, melihat kok dan membantu Yasmin". Elak Yasmin, langsung.
"Benar pak,saya membantu non Yasmin. Bisa jadi, mereka salah paham". Sahut mang Udin, langsung. Hati Yasmin,merasa lega.
"Lalu,yang mana yang benar? Kenapa kamu, menampar pak Hanafi? lantas,kamu siapa pak? Bukan warga desa ini,yah". Tanya seorang Bapak,yang tertua.
Hanafi, menatap tajam ke arah Yasmin. Karena rencana, tidak berhasil. Sekarang Yasmin,bebas dari jeratan liciknya.
__ADS_1