Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Berbohong


__ADS_3

"Mas Hanafi,aku mau bicara sebentar". Kata Yasmin, menemui Hanafi duduk santai di warung. Menikmati kopi hitam dan gorengan, sebelum berangkat bekerja.


Hanafi,melirik jam tangannya. "Baiklah,masih ada waktu 20 menit".


"Tapi,jangan di sini". Pinta Yasmin, karena warung bu Mini,nampak ramai ada orang lain.


"Oke,di pos ronda". Kata Hanafi, mematikan puntung rokoknya dan beranjak berdiri. "Misi dulu,pak". Pamit Hanafi, terlihat ramah.


"Silahkan,nak Hanafi. Monggo-monggo...". Bapak-bapak, mengangguk dan tersenyum sumringah.


Apa mas Hanafi,marah kepadaku? Gara-gara dulu, terdengar dari suaranya yang tegas. Batin Yasmin, mengekori Hanafi di belakang.


Di pos ronda,masih ada hansip desa ini. "Mang Udin,bisa misi bentar gak?". Tanya Hanafi,melirik Yasmin.


"Silahkan,nak Hanafi. Mang Udin,pamit dulu". Mang Udin, langsung pergi meninggalkan mereka.


"Bicaralah,karena waktuku tidak banyak". Ucap Hanafi,tanpa menoleh ke arah Yasmin.


"Hmmm...Apa benar,mas Hanafi ingin menikahi ku? Tapi,mas tahukan statusku". Tanya Yasmin, sebenarnya ragu untuk bertanya. Huuuff.... Rileks Yasmin, jangan kelihatan gugup.


Hanafi, tersenyum sinis dan melirik Yasmin. "Mana ada seorang pria,mau menikahi janda. Apa lagi, wanita itu sudah menolaknya dulu". Jawab Hanafi, menyunggingkan senyumnya.


sontak membuat Yasmin terkejut."Mas,tapi kata bapak". Astagfirullah,apa bapak berbohong kepadaku. Tapi,mana mungkin bapak berbohong. Apa mas Hanafi, yang berbohong. Ya Allah,yang mana yang benar.


"Iya, bapakmu memohon-mohon kepada ku. Agar menikahi anaknya,mana ada pria sini mau menikah dengan mu yang kehidupan persis seperti orang kota. Buktinya,kamu betah lama-lama di kota. Semua orang sini, menilai mu buruk Yasmin. Asal kamu tahu,itu. Apa lagi,atas pelecehan terhadap mu". Hanafi, menyunggingkan senyumnya. "Sudahlah, waktu ku habis".


Hanafi, langsung meninggalkan Yasmin. Yang masih terduduk lemas,air matanya mengalir deras. Kata-kata Hanafi, mampu menusuk hatinya yang sudah terluka parah. "Apa salahnya,aku tinggal di kota untuk bekerja dan mandiri. Sedangkan aku, tidak melakukan apapun". Gumam Yasmin, menghapus air matanya dengan kasar.

__ADS_1


Yasmin, pulang ke rumah. Dia, merasa risih atas tatapan orang-orang sekitar dan bisik-bisik tetangganya.


"Yasmin, darimana kamu? Jangan keluyuran,". Bu Aminah, langsung menarik tangan anaknya.


"Bu,apa mereka menilai Yasmin buruk? Apakah, Yasmin sudah membuat ibu dan bapak malu. Katakan bu,biar Yasmin pergi dari rumah ini". Kata Yasmin, menangis kesegukan di pelukkan ibunya. Mana mungkin,aku tahan melihat orangtuaku di permalukan seperti ini.


"Huusssstttt....Jangan ngomong aneh-aneh, seiring waktunya berjalan. Gosip itu,akan hilang nak. Jangan pernah, menanggapi ucapan orang lain. Karena kita tidak, menumpang makan dan hidup dengan mereka". Bujuk bu Aminah,kepada anaknya.


"Tapi,kenapa bapak memohon-mohon kepada mas Hanafi? Agar mas Hanafi, menikahi bu. Aku, tadi berbicara dengan nya. Dia, tidak mau menikah dengan ku". Kata Yasmin, memandang wajah ibunya


"Jangan di percaya, dengan ucapan nak Hanafi. Dia,suka bercanda Yasmin. Nak Hanafi,orangnya baik dan semua orang tau sifatnya suka rumor". Kekehnya bu Amina.


Yasmin, menggeleng kepalanya. Nyatanya,saat dia berbicara tadi. Hanafi, tidak bersifat seperti itu. "Bohong,bu. Mas...".


"Yasmiiiinn....". Teriak pak Jamal, dengan tatapan tajam.


"Jangan halangi bapak,bu. anak ini harus di didik bu,agar Yasmin tidak selalu mencari masalah". Kata pak Jamal, membuat Yasmin kebingungan.


"Maksudnya apa,pak? Bicaralah, dengan tenang jangan terbawa emosi". Bu Aminah, mengelus lembut pundak suaminya.


"Ibu, ingin tahu? Apa yang di lakukan,anak ini. Dia, berani sekali memarahi Hanafi. Yasmin, memaki-maki Hanafi untuk membatalkan pernikahannya". Tunjuk pak Jamal,tepat di wajah Yasmin.


"Pak, maksudnya apa? Yasmin, tidak ada memaki-maki mas Hanafi ". Yasmin,syok mendengarnya. Bukankah, Hanafi sudah menjelekkan dirinya.


"Alahhh...Jangan berbohong kepada ku, Yasmin. Kami semua tahu, bagaimana sifat nak Hanafi? Kamu,jangan berbelit-belit. Masih untung,nak Hanafi mau menikahi mu. Kamukan tau,di desa ini paling antik dengan janda. Apa lagi,kamu sempat di lecehkan pria brengsek itu. Inilah, sifat mu selalu ingin tinggal kota. Menikmati suasana sendiri,tanpa dampingan orangtua". Bentak pak Jamal, menatap tajam ke arah anaknya.


"Bapak, sudah di bohongi mas Hanafi. Malah dia,yang sudah menjelekkan aku pak. Dia, mengada-ada agar aku salah". Kata Yasmin,dalam isak tangisnya.

__ADS_1


"Untung saja,nak Hanafi tidak mengambil hati atas perkataan mu yang kekanak-kanakan itu. Pokoknya,kamu segera menikah dengan Hanafi. Tidak ada penolakan, Yasmin". Ucap pak Jamal, berusaha mengontrol dirinya . "Asalkan kamu tahu, Yasmin. Nak Hanafi, tidak menikah karena menunggu mu. Saat mendengar perceraian mu,dia menawarkan diri untuk menikahi mu".


"Tidak,kata mas Hanafi. Bapak,yang memohon-mohon kepadanya, untuk menikahi ku. Mas Hanafi, tidak berbicara seperti itu". Bantah Yasmin.


"Mana mungkin,bapak bermohon-mohon kepada nak Hanafi. Dia,kepala desa di sini Yasmin. Sangat mengenal, bagaimana sifat nak Hanafi. Jangan coba-coba, kamu menjelekkan perilaku Hanafi". Bentak pak Jamal, merasa tak nyaman dengan Hanafi.


Sedangkan Yasmin, terduduk lemas dan menatap ke arah ibunya. "Ibu, kecewa dengan mu Yasmin. Turuti perkataan bapak, sudah cukup kamu menantang. Itulah akibatnya, menantang perkataan orangtua. Rumah tangga mu, hancur. Bahkan, suamimu tega melakukan hal sekeji itu. Apa lagi,ibu mertua dan kakak iparmu. Yasmin,kamu pikirkan baik-baik lagi". Pinta bu Aminah.


"Bu,mas Hanafi... ".


"Huusssstttt... cukup Yasmin,jangan menjelekkan orang lain. Bercermin lah, dirimu sendiri". Bu Aminah, langsung pergi. Dia, ingin menenangkan hati dan pikirannya.


Dengan berat hati, Yasmin harus menemui Hanafi dan meminta penjelasan. Baru keluar dari rumah,dia bertemu dengan sahabatnya dulu Irna.


Dulu, mereka saling dekat. Tetapi Irna, selalu menjelekkan sifat Faris. Membuat Yasmin, enggan berkomunikasi dengan Irna.


"Wahhhh...Lama yah,kita tidak bertemu Yasmin". Ucap Irna, tersenyum dan mengelus perutnya yang buncit.


"Irna, selamat atas kehamilan mu". Mata Yasmin, tertuju pada perut temannya.


"Makasih,mana suamimu Yasmin? Oh,apa gosip ibu-ibu memang benar. Jika kamu, sudah bercerai dan dia masuk ke penjara. Karena perlakuannya,yang tidak wajar". Irna, tersenyum mengejek.


"Tidak perlu,di bahas lagi Irna. Itu, urusan dalam kehidupan ku". Sahut Yasmin,menghela nafas panjang.


"Makanya, apa yang di katakan orangtua nurut Yasmin. Lihatlah,aku jauh beda dengan mu". Kata Irna, tersenyum kecil. Tentunya, Irna memperlihatkan kebahagiaan di rumah tangganya. Tidak seperti Yasmin, rumah tangganya hancur berkeping-keping.


"Sudahlah Irna, tidak perlu kamu mengejek-ejek ku. Cukup, berlalu biarlah berlalu. Intinya,aku memang menikah dengan pilihan ku sendiri. Tidak ada namanya, perjodohan". Tegas Yasmin, menatap tajam kearah Irna. Dengan kesal Yasmin,masuk kedalam rumah lagi.

__ADS_1


__ADS_2