
Hari demi hari berlalu, Yasmin menghabiskan waktunya di dalam kamar.
Dia seringkali termenung, seakan-akan tidak bersemangat untuk menjalankan aktivitas seperti biasa.
Matanya sembab karena menangis terus-terusan, dirinya tak terurus banyak pikirannya.
Makan pun tidak berselera, badannya mulai kurusan. Dia lebih suka mengurung dirinya,di dalam rumah.
Hari ini Aina, berkunjung ke rumah Yasmin. Tak lupa membawa makanan dan cemilan lainnya.
"Yasmin, sampai kapan kamu seperti ini? Jangan terus-menerus memikirkan hal itu, sama saja menyiksa diri sendiri". Aina, sangat mengkhawatirkan keadaan temannya.
"Entahlah Aina,aku seperti tidak semangat untuk hidup. Jiwa dan raga ku, ikut mati bersamaan anakku". Jawab Yasmin,tanpa ada senyuman kecil.
"Istighfar Yasmin! Kamu masih memiliki suami,apa kamu tidak memikirkan perasaannya? Pastilah suamimu sangat terpukul,atas kehilangan anak kalian. Jangan egois Yasmin, takutnya kamu yang nyesal nanti". Tegur Aina, menyentuh punggung tangan Yasmin.
"Kau salah Aina, suamiku malah senang melihatku terpuruk seperti ini. Dia sangat bahagia melihat menderita,bisa jadi dia tertawa terbahak-bahak di sana". Sahut Yasmin, tersenyum smrik.
Aina menghela nafas beratnya dan menatap lekat ke arah Yasmin. "Makanlah dulu,yang banyak. Setelah ini, bagaimana kita jalan-jalan? Jangan diam mulu di rumah, sudah 1 mingguan kamu mengurungkan diri. Kita jalan-jalan ke mall, belanja". Kedip mata Aina, membujuk temannya.
Yasmin memandang lekat ke arah temannya, apa yang di katakan Aina memang benar. "Hmmmm... Ayo,kita makan sama-sama".
"Yasmin, apa kamu yakin? Tidak ingin menghubungi suamimu. Setidaknya tanya kan kabar, tidak baik kamu abaikan dia". Usulnya Aina,dia takut rumah tangga temannya kenapa-kenapa.
"Sudahlah Aina,jangan memikirkan hal itu. Dia baik-baik saja, tanpa ada aku". Jawab Yasmin, langsung.
Bohong itulah yang di rasakan Yasmin, sejauh ini dia memikirkan keadaan suaminya. Tetapi,dia mampu menyembunyikan dan menepisnya.
__ADS_1
"Aina,aku ingin bekerja. Biar ada aktivitas lainnya, supaya aku tidak terpuruk seperti sekarang". Kata Yasmin, menoleh ke arah temannya.
"Kerja? Kamu yakin,mau kerja? Pulihkan dulu kondisi mu, Yasmin. Takutnya orangtuamu, marah-marah kepada ku". Kekehnya Aina, tersenyum sumringah.
"Biar aku ada aktivitas lainnya, tidak seperti sekarang. Kerjaannya cuman diam dan melamun. Siapa tahu aja,aku bisa melupakan kejadian itu". Ucap Yasmin, menghela nafas panjang.
"Hmmmm...Ada benarnya juga,sih. Mendingan kamu cari kerja di desa orangtuamu,jauh lebih baik Yasmin. Takutnya suamimu membawamu pulang,gak mungkin kan. Baru kerja, langsung berhenti begitu saja. Mendingan kamu,cari aman aja". Usul Aina, langsung.
"Gak mungkin Aina, suamiku datang ke sini. Dia mana mau, mengkhawatirkan keadaan ku. Sudah 1 minggu, tidak ada kabar darinya". Jawab Yasmin, dengan santainya.
"Ciyeeee.... Nungguin yah,di perhatikan oleh suamimu tercinta". Ledek Aina, cekikikan tertawa.
"Maksud ku, tidak seperti itu. Seharusnya ada usaha lah, untuk membujuk ku Aina. Apa lagi,aku belum siap untuk bersamanya. Terlalu sakit, mengingat apa yang terjadi ". Kata Yasmin, tertunduk sedih.
Aina,memusut pundak Yasmin."Yasmin, apakah kamu ingin pisah dengan suamimu". Tanya Aina, penasaran.
Jujur saja Yasmin, tidak kepikiran sampai di situ. "Ak-aku tidak memikirkan hal itu,Aina. Tapi,jika suamiku melepaskan diri ku. Aku ikhlas Aina,biar aku merasakan lebih sakit lagi". Tak terasa air matanya, menetes di pipinya.
"Yasmin, maafkanku yah. Bukan maksudku, untuk menambah pikiran mu. Seorang pria pasti meminta kepastian,apa lagi kamu abaikan begitu saja. Sudah pasti suamimu, memikirkan hal yang bukan-bukan. Karena dia,merasa tidak ada artinya untuk mu. Daripada kamu, tersakiti olehnya. Bisa jadi suamimu, melepaskan mu jauh lebih baik". Aina, mencoba Yasmin berpikir panjang lagi.
"Tapi,aku belum siap untuk bersamanya. Terlalu sakit mengingat semuanya, gara-gara dia aku kehilangan segalanya". Yasmin, langsung menepis perkataan temannya.
"Yasmin,aku tidak mau kau menyesalinya. Tidak bisakah kamu, memaafkan kesalahannya dan membuka lembaran baru". Aina, benar-benar kebingungan jalan yang di ambil Yasmin.
"Aku tidak menyesalinya,Aina. Jika kami berpisah, berarti jodoh kami habis". Jawab Yasmin, dengan santainya. "Pulanglah Aina,kita tidak jadi pergi. Aku lelah dan banyak pikiran".
Dengan berat hati, Aina langsung beranjak pergi meninggalkan Yasmin. Saat di ambang pintu, dia menghentikan langkahnya. "Pikir lah baik-baik Yasmin, sebelum seseorang memungut suamimu. Di situlah kamu menyesal atas kehilangannya,". Aina langsung menutup pintu rumah, Yasmin. "Asal kamu tahu, Yasmin. Suamimu seringkali mengirim pesan kepada ku,cuman ingin mengetahui keadaan mu. Rupanya suamimu adalah teman kecilku,cinta pertamaku. Tidak rela melihat dia menjerit-jerit meminta bantuan kepada ku, untuk membujuk ku. Tanpa memperdulikan perasaan ku,yang hancur berkeping-keping". Gumam Aina, meninggalkan perkarangan rumah Yasmin. Air matanya mengalir deras, hatinya sangat sakit.
__ADS_1
Degggg..
Lagi-lagi Yasmin,terpaku mendengar ucapan temannya tadi. Berusaha sabar, tangisnya pecah sudah.
************
Sedangkan Hanafi,mulai beraktivitas seperti biasanya. Keluar rumah cuman bekerja,lalu pulang setelah selesai berkerja.
"Nak Hanafi, bapak mau bicara". Pak Jamal, menemui menantunya itu.
"Bicaralah pak, apakah ada sesuatu? Siapa tahu, Hanafi bisa membantu". Jawab Hanafi, tersenyum.
"Sudah 1 minggu,kalian berpisah nak. Apakah kamu, tidak memikirkan untuk menemui Yasmin ke sana? Siapa tahu,dia luluh dengan kedatangan mu. Tidak baik seperti ini,maaf memintamu untuk membujuk Yasmin". Pak Jamal, merasa tak nyaman dengan menantunya.
"Hanafi memang berniat untuk menemui, Yasmin. Tetapi, takutnya Yasmin malah murka kepada ku pak. Takut mengguncang kondisi, Yasmin". Jawab Hanafi, setiap detik memikirkan keadaan istrinya. "Rupanya Aina teman kecilku,pak. Dia seringkali memberikan kabar kepadaku,jika Yasmin dalam keadaan baik-baik saja. Aku meminta dia, membelikan kesukaan Yasmin. Tak lupa juga,aku mengirim uang kepada Aina".
"Nak Hanafi, jangan menyerah seperti ini. Bapak sangat sedih melihat rumah tangga kalian,". Pak Jamal, menepuk pundak menantunya.
"Jika aku ,yang berjuang sendiri. Sudah pasti sia-sia saja,pak. Bukankah selama ini aku, selalu berjuang untuk Yasmin. Tidak mungkin dia, tidak tahu. Malahan Yasmin, belum siap menjalani rumah tangga ini". semaksimal mungkin, Hanafi memahami keadaan istrinya. walaupun sang istri,belum tentu memahaminya.
"Maafkan anak bapak,nak. Maaf, sifatnya masih kekanak-kanakan dan main pergi saja". Pak Jamal, tertunduk sedih.
"Sudahlah pak, besok Hanafi mencoba menemuinya ke kota. Doakan saja, semoga Yasmin berubah pikiran dan menerimaku". Ucap Hanafi,ada senyuman kecil terbit di sudut bibir pak Jamal.
"Masya Allah, terimakasih nak. Terimakasih sudah berjuang untuk mengambil hati, putri bapak. Bapak merasa tak nyaman, dengan mu". Pak Jamal, bersyukur memiliki menantu seperti Hanafi.
"Insyaallah,pak. Semoga Yasmin, menerima Hanafi dan membawanya pulang ke rumah ini". Hanafi, berjanji untuk membawa Yasmin membina rumah tangga kembali. Walaupun dia,ragu untuk melakukannya.
__ADS_1