Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Morning sickness


__ADS_3

"Dok, bagaimana keadaan menantu saya?". Tanya bu Marni, langsung bertanya kepada dokter.


"Iya,dok. Sakit apa sebenernya, menantu kami? Tolong jangan menyembunyikan sesuatu dari kami". Sambung pak Jamal, mengkhawatirkan keadaan menantunya.


Yasmin, sedari tadi tak henti-hentinya menangis dan mengelus punggung tangan suaminya. "Mas,bangun. Jangan seperti ini,mas". Lirih Yasmin, menghapus air matanya.


"Tenang yah,bapak dan ibu. Sebenarnya, pasien tidak kenapa-kenapa. Tidak ada penyakit apapun,kita harus memeriksa istrinya dulu". Jawab sang dokter tersenyum.


"Loh,kenapa anak saya yang di periksa dok? Yang sakit menantu saya, lihatlah berbaring lemah". Pak Jamal, kebingungan jadinya.


"Iya,dok. Anak kami tidak kenapa-kenapa, lihatlah". Sambung bu Marni, melihat dokter dan mendekati Yasmin.


"Dok, kenapa suami saya tidak bangun-bangun". Tanya Yasmin.


"Sebentar lagi,akan sadar. Ayo,ikut saya ke ruangan. Anda harus di periksa, terlebih dahulu". Pinta dokter, langsung di geleng kepala oleh Yasmin.


"Saya gak kenapa-kenapa,dok. Saya sehat,kok". Bantah Yasmin, langsung.


"Begini bu, pasien tidak kenapa-kenapa. Bisa jadi Suami,yang mengalami morning sickness ini merasakan mual sepanjang hari mulai dari pagi atau siang hari, dan paling umum terjadi selama trimester pertama kehamilan sang istri. Mual yang dirasakan suami ini bisa disertai dengan muntah, tapi bisa juga tidak. Sang suami akan mengalami perasaan tidak nyaman di perut atau adanya keinginan untuk muntah dan lainnya. Tenang saja,saya akan memberikan obat. Untuk menghentikan mual-mual nya,". Sang dokter menjelaskannya.


"Hamil? Saya hamil dok,". Tanya Yasmine,yang tidak percaya. Memegang perutnya yang masih rata,dia sudah lama tidak haid.


"Maka dari itu,kita periksa dulu yah". Kata sang dokter tersenyum.


"Alhamdulillah,jika kamu benar-benar hamil. Ayo, ikut saran dokter nak". Bu Marni, terharu mendengar ucapan sang dokter. Begitu juga pak Jamal, menitikkan air matanya.


"Ya Allah,bapak senang mendengarnya nak. Semoga kamu memang benar-benar hamil,". Sahut pak Jamal, mengelus lembut pucuk kepala anaknya.


"Ayo,ibu temanin. Biar bapak,yang menemani Hanafi". Ucap bu Marni, langsung di angguki anaknya.

__ADS_1


Bu Marni dan Yasmin, mengikuti langkah kaki sang dokter. Mereka masuk ke ruangan, untuk di periksa.


Yasmin,di suruh testpack di kamar mandi. Membuat dirinya gugup sekali, hatinya tak karuan. Ya Allah, semoga aku benar-benar hamil. Ini adalah kabar kebahagiaan kami, semoga doaku selama ini dikabulkan. Batin Yasmin, menunggu hasil testpacknya.


Setelah keluar dari kamar mandi, Yasmin di minta berbaring di ranjang pasien. Sang dokter kandungan,mulai meraba-raba perutnya. Hasil testpack positif, namun Yasmin masih ragu. "Hmmmm... Saya merasakan anda, benar-benar hamil. Tapi, tidak salahnya untuk USG. Agar kita mengetahui berapa usai kandungannya,saya kira-kira baru 5 mingguan ini".


"Alhamdulillah,Ya Allah. Baik dokter,saya akan USG nanti". Jawab Yasmin, tersenyum dan air matanya luruh sudah. Puskesmas di desa,memang tidak ada alat USG. Jika mau USG,harus ke kota dulu.


"Makan yang bergizi dan seimbang. Jangan lupa makan buah-buahan yah,di jaga janinnya. Jangan lupa setiap bulan,harus di periksa kandungannya". Kata dokter tersenyum. "Saya akan memberikan obat vitamin untuk ibu hamil,di tunggu yah. Sekalian saya akan ke ruang pasien,pak Hanafi".


"Terimakasih banyak,dok. Kami permisi dulu,". Ucap bu Marni, merasakan kebahagiaan yang tiada duanya. "Selamat nak,kamu hamil akhirnya". Langsung memeluk tubuh Yasmin, memberikan kecupan di kening.


"Alhamdulillah,yang di nantikan akhirnya. Aku senang sekali,bu. Pasti mas Hanafi, bahagia mendapatkan kabar ini". Kata Yasmin,dalam isak tangisnya.


Bu Marni,tak henti-hentinya berucap syukur dan berdoa. Atas kehamilan anaknya itu, selalu di tunggu anaknya.


Pintu kamar inap Hanafi, terbuka lebar. Ada senyuman manis di sudut bibirnya, Yasmin. Melihat suaminya sudah sadarkan diri dan duduk bersandar. "Yasmin,". Lirih Hanafi,tak sabar memeluk istrinya.


Yasmin, langsung menghampiri suaminya dan memeluk erat. "Akhirnya kamu sadar,mas. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan mu,". Tangis Yasmin, langsung pecah di pelukkan suaminya.


"Bagaimana bu, apa hasilnya?". Tanya pak Jamal,yang penasaran.


"Alhamdulillah,pak. Anak kita hamil,kita akan memiliki cucu lagi". Jawab bu Marni, menghapus air matanya.


"Alhamdulillah,ya Allah". Pak Jamal, langsung berdoa.


"Terimakasih, Yasmin. Kamu sudah mengandung anakku,buah hati kita. Sungguh aku sangat bahagia mendengarnya". Hanafi, menciumi seluruh wajah sang istri. Ada buliran bening mengalir di kedua pipinya.


"Alhamdulillah,mas. Akhirnya aku hamil, terkabulkan doa-doa kita selama ini". Kata Yasmin, penuh dengan kebahagiaan.

__ADS_1


Mereka semua menumpahkan rasa kebahagiaan ini, sudah pasti Yasmin akan menjaga kehamilannya.


Sang dokter tersenyum lalu, memeriksa kondisi Hanafi. "Keadaan pak Hanafi, baik-baik saja. Sehabis 1 botol infus,di perbolehkan pulang. Di minum obat mencegah mual-mual nya. Sabar yah,pak. istri hamil,anda yang kena morning sicknessnya".


"Tidak apa dok,demi buah hati kami. Apapun akan saya,terima dengan ikhlas". Jawab Hanafi, tersenyum sumringah.


"Baiklah,di minum obat vitamin yah. Bagus untuk perkembangan janin,agar tetap sehat. Tolong di jaga kehamilannya,makan yang sehat dan bergizi. Untuk suaminya,di jaga istrinya yah. Jangan sampai dia kelelahan atau banyak pikiran. Itu bisa saja, mempengaruhi kehamilan sang ibu". sang dokter, menjelaskan semuanya.


Setelah selesai, barulah sang dokter keluar dari ruangan. Yasmin, mendekati suaminya yang masih melemah. "Mau makan apa,mas? Pagi sampai sekarang, gak ada makan loh. Biar Yasmin,yang nyuapin mas".


"Mas mau gado-gado,kayanya enak". Jawab Hanafi, itulah yang melintas di benaknya.


"Pak, carikan kado-kado untuk mantu kita". Bu Marni, langsung memerintahkan suaminya.


"Eee...Biar Jo,yang mencarinya bu. Masa bapak, yang cari". Cegah Hanafi, langsung.


"Gak papa,nak. Mumpung bapakmu,gak ada kerjaan. Lagipula Jo, pamit ke kamar mandi tadi". Jawab pak Jamal, langsung pergi.


"Duhhh...Jadi gak enak akunya,bu". Kekehnya Hanafi, tersenyum.


"Alahhh...Gak papa,nak. Biasanya kalau sang suami mengalami morning sicknessnya,bisa jadi kamu yang ngidam. Apapun yang kamu mau,harus di turuti loh. Takutnya anak kalian ileran, amit-amit jabang bayi". Ucap bu Marni,duduk di samping Yasmin.


"Iya,bu. Insyaallah, semoga gak ngidam apapun". Jawab Hanafi, tak mau melepaskan genggaman tangan istrinya. Kenapa aku yang mengalami morning sickness? Ini benar-benar menyiksa ku,badan besar tapi lemah seperti ini. Mau taruh dimana wajahku, seorang kepala desa berbaring lemah.


"Gak papa,mas. Bilang aja,kalau mau apa? kan ada Jo,sama bapak. Pasti mereka mau bantuin dan memenuhi keinginan mu. Gak mau yah,anak kita ileran nantinya". Sahut Yasmin, mengerucutkan bibirnya.


"Hmmmm... Gampanglah nantinya,". Jawab Hanafi, tersenyum manis.


"Mas,jangan aneh-aneh yah. Takutnya bapak,malah stres memikirkannya". Kata Yasmin, tersenyum merekah. Sepertinya mas Hanafi, mendapatkan karmanya. Lihatlah,dia seringkali berbuat semena-mena terhadap ku dulu. Sekarang dia, mendapatkan ganjarannya. Aku yang hamil, tapi mas Hanafi merasakan morning sickness. Duhhh...Aku pengen ketawa-ketawa sendiri jadinya, batin Yasmin cengar-cengir tidak jelas.

__ADS_1


__ADS_2