
Esok harinya, Diana terus membujuk Faris. Karena Faris, terlihat diam dalam kesedihannya.
"Faris,kamu yang sabar. Ada aku,yang selalu ada untukmu". Diana, mengelus pundak Faris.
Faris, menggeleng kepalanya. "Diana,aku masih tidak percaya dengan Yasmin. Dia, setega itu mengkhianati pernikahan kami. Bahkan,aku rela berkorban dan menjauhi keluarga ku. Demi dia, Diana. Nyatanya,dia balas dengan kepedihan".
"Faris, sudahlah. Lupakan semuanya,buka lembaran baru dan bersama ku". Diana, menggenggam jemari tangan Faris.
"Diana,selama ini aku merasa nyaman dengan mu. Ada kamu, di samping ku. Rasa sakit ku,berkurang. Kau, seperti sebuah keberuntungan untuk ku". Faris,mulai tersenyum kecil.
"Jadi,kita resmi jadian nih". Tanya Diana, malu-malu kucing.
Faris, melirik ke arah Diana dan tersenyum. "Kamu tidak masalah? Seorang sopir,jadi kekasih mu".
"Hmmmm... Tidak masalah, asalkan jangan selingkuh di belakang ku". Diana menyadarkan kepalanya di pundak Faris.
"Iyah,aku juga bosan dengan Yasmin. Kehidupan rumah tangga kami, tetap seperti itu. Tidak ada maju-majunya, malahan jadi beban". Gerutu Faris,dia menggenggam erat jemari Diana.
"Tapi, bagaimana dengan keluargamu? Mereka,pasti banyak menuntut ini, itu. Apa lagi,aku seorang wanita karir". Diana, menyeringai tajam. "Aku, gak mau di manfaatkan oleh keluarga mu".
"Masalah itu,aku serahkan semuanya kepadamu. Asalkan,aku tidak lagi menjadi sopir mu. Bagaimana,jika kamu mengajariku berbisnis? Ayolah,ini permintaan kecilku". Faris,mengelus rambut Diana.
Diana, terkejut mendengar ucapan Faris."Hmmm...Boleh, gampang masalah itu. Bagaimana,jika kakakmu Hamid menjadi sopir pribadi kita. Gak masalah, keluargamu tinggal di rumah besar ku. Asalkan, mereka patuh dengan perintah ku".
Faris, berpikir sejenak. Demi uang,dia mengangguk kepala. Sudah waktunya, membuat mereka tunduk kepadanya.
"Faris,aku senang sekali. Akhirnya,aku memilikimu". Diana, bergelut manja di pangkuan Faris.
__ADS_1
"Maaf, Aku tidak tahu soal itu. Seandainya, aku bertemu denganmu duluan. Kemungkinan,aku yang akan menikahi mu. Bukan Yasmin,tukang selingkuh". Gerutu Faris, sorot matanya membenci mantan istrinya itu.
"Makanya,aku tidak nikah-nikah. Karena aku,setia menunggu dirimu". Diana, mengecup sekilas di bibir Faris. "Besok,kamu resmi menjadi pemimpin di hotel milikku. Aku serahkan kepadamu,tapi masih di bawah pengawasan ku".
"Terimakasih,sayang. Akhirnya,aku bisa menggapai impian ku selama ini. Tidak lelah, seperti mencari uang. Sekarang,aku memiliki jabatan tinggi. Tenang saja,aku akan mengelola hotelmu jauh lebih baik". Kata Faris, tersenyum. Ck, untung saja aku bisa bertemu dengan Diana. Dia, sangat gampang untuk di manfaatkan.
Faris,kamu memang pria bodoh. Jangan kira,aku memberikan fasilitas ini dengan kemurahan hati. Aku, memiliki dendam kepada mu dan keluarga mu itu. Batin Diana, tersenyum manis.
"Diana, kenapa kita pacaran? Tidak bisakah, langsung menikah saja". Kata Faris, tentu saja Diana gelabakan.
"Eeee...Itu,aku pikirkan nanti. Lebih baik, kita pacaran saja". Alibi Diana,dia tak bermaksud menjalin hubungan serius.
Baguslah, jika Diana tau mau menikah. Aku, bisa menjalankan aksiku. Batin Faris, tersenyum. "Oke,aku nurut sama kamu sayang". Faris, mencubit pipi mulus Diana. Ternyata, sangat enak sekali. Jika kita, memiliki uang dan pekerjaan bagus. Tidak capek-capek, aaaakkhh....Aku, tidak akan pernah melepaskan kesempatan emas ini. Maafkan aku, Yasmin. Demi masa depan yang lebih baik,aku mengorbankan dirimu.
***************
"Aaahhh...kamu, serius indah. Terus, Farisnya kemana? Apa dia,ke sini". Tanya bu Yahya, calingukan mencari sesosok Faris.
"Tidak,dia ikut pulang bersama Diana. Aku melihat secara langsung,jika Faris bermesraan dengan Diana. Pastilah, mereka memiliki hubungan spesial". Jawab indah,tak sabar untuk memiliki segalanya.
Wajah bu Yahya, berbinar-binar. Saat mendengar ucapan anaknya,dia tak sabar untuk memanfaatkan Faris. "Bagus,kita bisa melancarkan aksi. Ibu,akan memanfaatkan kebaikan Faris. Gak masalah,kita baikin dia. Bagaimana,kita menyusul Faris? Siapa tahu, kita bisa tinggal di rumah mewah Diana".
"Bu, masalahnya adalah... pria,yang aku sewa untuk mengerjai Yasmin. Jauh beda dengan,kami grebek tadi. Sumpah bu, entah bayaran siapa". Indah, merasakan sesuatu yang mengganjal tadinya.
"Alahh.... Baguslah, jika beda Indah. Kalau ketahuan,kamu bebas dah tidak bersalah. Jangan-jangan, suruhan Diana. Aaaahh...Ibu, yakin sekali itu". Sahut bu Yahya, langsung di angguki Indah.
"Aku, tau sabar bu. Meminta pekerjaan kepada, Diana. Siapa tau,aku bisa menjadi pemimpin di hotel dan restorannya. Biar aku,bisa menginjak-injak harga diri Sinta". Hamid, tidak sabar menanti sebuah keindahan.
__ADS_1
"Enak saja,aku juga mau bang. Biar aku, tidak di remehkan keluarga Gabriel. Bagaimana, kita rampas milik Diana? Setelahnya berhasil, baru kita tendang Diana dan Faris". Indah, mengeluarkan idenya.
"Bagus,aku setuju dengan ide indah". Hamid, langsung menyetujuinya. "Wajahku,yang tampan ini. Pastilah, Diana akan berpaling kepada ku dan meninggalkan Faris. Aku, berusaha keras membujuk Diana".
"Ingatlah,kita harus bermain-main dengan hati-hati. Jangan sampai, ketahuan Diana atau Faris. Lagian,ibu sumpek tinggal di kontrakan. Gara-gara menutupi seluruh hutangmu,toko bangunan ibu di jual". Gerutu bu Yahya, langsung mendelik ke arah Hamid.
"Ibu,jangan toko bangunan. Mall besar,kita sanggup membelinya. Asalkan, Diana patuh dan miliknya untuk kita. Ibu, akan tinggal di rumah mewah Diana. Kesempatan emas, mencari barang berharga miliknya". Usul Hamid, tersenyum smrik.
"Baiklah,ibu akan pegang ucapan kalian. Siapa,yang menelpon". Tanya bu Yahya, ponselnya indah berdering.
"Faris bu, hussssttttt....Kalian diam,oke". Kata indah,di angguki bu Yahya dan Hamid. "Halo, Faris! Ada apa,tumben menelpon".
(Halo,aku dengar-dengar kalian tinggal di kontrakan yah. Bagaimana,ke rumah Diana saja? Kalian,tinggal di sini). Ucap Faris,di sebrang telpon sana.
''Kamu,yang benar Faris. Tapi,apa gak papa. Kami, tidak enak dengan Mbak Diana. Takutnya, merepotkan dia". Alibi indah, padahal mereka sangat senang dan tidak sabar lagi.
(Gak, papa. Malah Diana suka,karena banyak orang. Hari ini kalian ke sini yah,aku kirim alamatnya. Maaf Mbak,aku tidak bisa menjemput karena sibuk menemani Diana).
"Oh,gak papa Faris. Nanti,kami mesan taksi kok. Tenang saja,kami siap-siap dulu". Jawab indah,kini telpon telah berakhir.
"Ayo,kita siap-siap. Bawa seperlunya saja, siapa tahu di belikan oleh Diana". Kekehnya Hamid, tersenyum sumringah.
"Benar,kita minta uang kepada Faris. Mana mungkin,dia menolaknya. Bukankah, Faris memiliki hubungan dengan Diana". Bu Yahya,tak sabar menepati rumah mewah Diana.
Mereka bertiga, sudah bersiap-siap. Waktunya, menunggu taksi. "Huu...Lama sekali,mana taksinya. Aaarghhh....Gerah,gak sabar pengen minum es dan makan banyak-banyak". Gerutu Indah, mondar-mandir menunggu taksi datang.
"Eee...Itu, taksinya". Hamid, langsung melambaikan tangannya dan taksi berhenti. mereka bertiga, langsung masuk kedalam dan memberitahu kemana tujuan.
__ADS_1