
Pak Jamal,membawa Hanafi dan Faris ke rumahnya. Di ikut beberapa orang lain, ingin mengetahui jawaban dari Yasmin.
"Yasmin,bapak memberikanmu kesempatan untuk memilih keinginan mu. Ingin kembali kepada nak Faris, bapak silahkan. Asal,nak Faris benar-benar serius dengan ucapannya. Selalu membahagiakan mu dan menjagamu. Tidak seperti dulu, selalu lalai dengan kewajibannya sebagai suaminya. Atau,kamu memilih menikah dengan nak Hanafi. Walaupun, tidak ada cinta di antara kalian. Pilih lah, Yasmin". Ucap pak Jamal, membuat Yasmin terkejut mendengarnya.
"Lambat laun berjalan, cinta itu datang sendirinya. Apa lagi, selalu bersama". Sahut orang lain.
"Yasmin,mas janji kepadamu. Apapun yang kamu, inginkan. Mas,akan mengikuti kemauan mu". Kata Faris, tersenyum manis.
Begitu juga bu Aminah, ingin bersuara langsung. Akan tetapi,pak Jamal memberikan kode untuk diam.
Aku, sebagai ibu kandungnya Yasmin. Tidak akan mengijinkan, anakku kembali kepada pria yang sudah menyakiti hatinya. Ibu mana,yang rela melihat anaknya terus di sakiti. Batin bu Yasmin,masih membenci mantan menantunya itu.
Yasmin, bergantian menatap dua pria yang akan di pilihnya. Apa? Kenapa, pilihannya sulit sekali. Apa tidak ada, pilihan lain. Batin Yasmin, orang-orang sekitar menatap tajam ke arah Yasmin. Menunggu jawaban,yang di pilih Yasmin.
"Tidak ada, pilihan lain". Tegas pak Jamal, rupanya membaca pikiran Yasmin. Maafkan bapak, semua ini demi kebaikan mu sendiri. Berharap,kamu memilih yang tepat.
"Dek, berikan mas kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga kita. Mas janji, tidak mengecewakan mu dan Kedua orangtuamu". Kata Faris, menatap lekat manik-manik mata Yasmin.
Yasmin, menatap ke arah Hanafi. Sedari tadi,hanya diam dan santai saja.Akan tetapi,Yasmin mengharapkan Hanafi berbicara.
"Yasmin, jawablah pertanyaan bapak". Kata bu Aminah, melihat anaknya diam saja.
__ADS_1
Ya Allah,jika aku memilih mas Faris. Tetapi, hatiku masih ragu. Jika dia, memang benar-benar berubah. Namun,jika aku memilih mas Hanafi. Sama saja,aku menciptakan neraka baru untuk ku. Batin Yasmin, kebingungan untuk memilih yang mana.
"Yasmin...... Memilih untuk menikah dengan mas Hanafi,pak". Akhirnya jawaban, keluar dari mulut Yasmin. Insyaallah, jawaban ku yang terbaik. Tidak salahnya,aku memilih mas Hanafi. Karena sifat orang, berbeda-beda. Semoga saja,mas Hanafi tidak sama yang aku pikirkan.
"Tidaaaakkkk....Dek,tarik ucapanmu. Jangan berbohong, dengan perasaanmu. Bilang saja,kamu masih mencintai mas dan ingin memperbaiki rumah tangga kita. Kamu,cuman terpaksa kan? Karena orangtuamu dan pria licik ini kan! Dek Yasmin, kembalilah kepada mas". Faris, memohon kepada Yasmin. Aaaarrgghh.....Kenapa, Yasmin memilih pria licik ini? Segitunya kah,kamu membenci ku Yasmin. Sampai hatimu, tidak ada memberikan untuk ku lagi.
"Tidak mas, dulu waktu aku pergi dari rumah ibumu. Tiba-tiba kamu datang,mas. Aku, sudah tidak mau memberikan kamu kesempatan lagi. Tetapi,bapak dan ibu meminta ku untuk bertahan sekali lagi. Jika aku, menuruti kemauan ku. Tidak akan pernah terjadi,atas pelecehan terhadap ku mas". Kata Yasmin, menangis dan tertawa cekikikan. "Semua orang tidak tau,mas. Termasuk kedua orangtuaku dan kamu juga. Setiap malam, setiap hari. Aku, selalu dihantui oleh trauma itu. Terkadang,aku merasa jijik dengan diriku. Walaupun,aku tau yang sebenarnya terjadi. Jika pria itu, tidak melakukan apapun terhadap ku. Mas, sudah merusak kejiwaan ku. Aku, tidak berani berkenalan dengan pria yang tidak di kenal. Seakan-akan, mereka ingin melecehkan ku".
Bu Aminah, memeluk erat tubuh anaknya. Orang-orang sekitar, merasa iba kepada Yasmin.
Hanafi,terdiam dan merasa kasian apa yang di alami Yasmin. Suara rintihan tangisannya, sampai menyentuh ke dalam hatinya.
Pak Jamal, meneteskan air matanya. Melihat sang buah hati,di perlakukan tidak wajar.
"Nak Hanafi, bagaimana mendapat mu? Masih mau, menikah dengan bapak. Yang sudah jelas, penuh dengan kekurangannya". Tanya pak Jamal, tersenyum.
Hanafi,menghela nafas beratnya dan menoleh ke arah Yasmin. Mata mereka, saling pandang.
"Berikan waktu 2 hari,pak. Untuk memikirkan, bagaimana selanjutnya". Jawab Hanafi, tersenyum smrik memandang wajah Yasmin. Huuuff.... Kenapa, penolakan mu dulu? Selalu, terngiang-ngiang di otakku. Apakah,aku tidak bisa melupakan kejadian itu.
"Tidak perlu,nak Hanafi. Jika kamu, meminta waktu untuk berpikir. Maaf, lebih baik tidak ada akad nikah. Karena bapak, tidak mau memaksa kehendak mu. Takutnya,ke depan nanti akan menjadi buruk". Pao Jamal, tidak mau di tunda-tunda lagi.
__ADS_1
Yasmin,mulai lega karena ayahnya memikirkan perasaan yang selama ini di inginkannya.
"Cuman kamu,nak Hanafi. Yang bapak, percaya kan untuk putri ku. Jika tidak,aku serahkan Yasmin bebas dan mencari pendamping hidupnya nanti". Ucap pak Jamal, tersenyum memandang putrinya. "Maafkan bapak,yang selalu tegas kepadamu".
"Baiklah,minggu depan akan menikahi Yasmin". Kata Hanafi, dengan lantang. Setidaknya, keputusan ku sudah bulat untuk memilih Yasmin. Rasa cintaku, lebih besar dari rasa benciku Yasmin. Tetapi,aku memerlukan waktu untuk bersama mu nanti.
Yasmin, langsung berdiri dan menatap tajam ke arah Hanafi. "Apa? Kamu,yang benar saja mas".
"Nak Hanafi,apa serius untuk menikahi anak bapak". Tanya pak Jamal,kini Hanafi bungkam dan ketahuan berbohong kepada Yasmin. Alhamdulillah,jika nak Hanafi benar-benar ingin menikah dengan Yasmin. Terimakasih,ya Allah. Sudah mengabulkan doa-doa ku selama ini.
"Kenapa, tidak jawab mas? Jangan mengelak,karena ketahuan berbohong". Senyum smrik, Yasmin. Nyatanya,kamu memohon kepada bapak. Untuk menikah ku, begitu besarkah cintamu kepadaku mas. Apa ada sesuatu,yang kamu rencanakan? Ingatlah,aku Yasmin tidak akan tinggal diam jika kamu melakukan macam-macam dengan ku.
"Maksudnya,apa Yasmin? Bapak, tidak paham". Pak Jamal, kebingungan jadinya. Apa yang di katakan Yasmin, tentang kebohongan.
"Tidak apa,pak. Biasa, hanya salah paham". Jawab Yasmin,dia masih menyembunyikan licik calon suaminya. Untuk saat ini,aku masih mampu menyimpan aibmu mas. Karena aku, tidak akan mengecewakan perasaan bapak dan ibu. Semoga saja,kamu sadar dan menyesali perbuatanmu.
"Nak Hanafi, serius dengan niatmu untuk menikahi Yasmin". Tanya bu Aminah,yang belum di jawab Hanafi. Alhamdulillah,ya Allah. Jika nak Hanafi, serius dengan niatnya. Hatiku merasa lega, tidak ada rasa khawatir untuk melepas putri ku.
Hanafi, mengontrol emosi dan memendam amarahnya. "Hanafi, serius.... Menikahi, Yasmin". Jawabnya, dengan tatapan sulit di artikan. Aku, harus mencari alasan kuat. Agar Yasmin, tidak merasa menang melawan ku.
Yasmin, terduduk lemas mendengar jawaban Hanafi. Kenapa,dia malah ingin menikahinya? Berharap,dia memilih pergi dan mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Orang-orang sekitar, merasa senang mendengar jawaban Hanafi. Mereka semua, mengucapkan selamat kepada pak Jamal dan bu Aminah.
Bu Aminah, merasa senang dan akan menyiapkan akad nikah anaknya. Tapi, tidak bagi Yasmin. Dia, berusaha tersenyum. Tidak seperti Hanafi,ada senyuman tulus di bibirnya.