
1....2....3....
"Aaakkkhh..... Gatal sekali,sialan". Gerutu Hanafi, menggaruk tubuhnya ke sana kemari.
"Mas, kamu kenapa? Garuk-garuk segala," Tanya Yasmin, seakan-akan tidak tahu.
"Gatal,sialan. Lihatlah, tubuhku bintik-bintik merah. Pasti ini alergi udang,tapi aku tidak memakan udang". Kata Hanafi, terus menggaruk tubuhnya."Yasmin, ambilkan obat di laci situ".
Yasmin, langsung mengangguk kepala. "Apa jangan-jangan,nasi goreng dari Lela mas. Bisa saja,dia mencampurkan kaldu udang atau semacamnya. Lela, tidak tahu mungkin mas alergi udang".
"Tidak tahu,cepat mana obatnya. Gatal sekali ini,cepat". Perintah Hanafi,yang tak sanggup menggaruk ke sana kemari.
Yasmin, memberikan sebutir obat kepada suaminya. Hanafi, langsung meminum.
"Pelan-pelan mas,". Kata Yasmin, tersenyum smrik. Rasakan kamu,mas. Emangnya enak, di kerjain.
"Uughh....Lain kali,jangan menerima masakan dari Lela. Atau gak, buang saja". Ucap Hanafi,yang begitu sial hari ini
"Tapikan,gak enak mas. Apa lagi,di hadapannya. Yang sabar mas, semoga cepat sembuh". Yasmin, cengar-cengir tidak jelas.
"Ck, cengar-cengir. Puas melihat ku, menderita seperti ini!". Delik mata Hanafi,ke arah istrinya.
"Iya dong,mas. Kapan lagi, melihat suamiku menderita. Maaf mas, aku gak ikut-ikutan yah. Garuk-garuk badanmu, takutnya nanti lecet-lecet". Yasmin, melenggang pergi keluar kamar.
Hanafi, menghembuskan nafas beratnya. Menatap kepergian sang istri, matanya tertuju pada ponsel Yasmin.
Tangannya mencoba meraih ponsel, Yasmin. Akan tetapi, lebih dulu sang empunya mengambilnya. "Eeiittss....Ini ponselku,mas. Kamu, tidak berhak ikut campur dalam urusan pribadi ku. Termasuk,kepo dengan ponselku ini".
"Aku, ini suami mu. Berhak atas dirimu,apa jangan-jangan ada sesuatu yang kamu sembunyikan di ponsel itu". Hanafi, menaruh rasa curiga kepada istrinya.
"Jangan menuduhku macam-macam,mas. Privasi ini,kamu tidak berhak". Bantah Yasmin, langsung.
Hanafi, meletakkan ponselnya di hadapan Yasmin. "Periksalah ponselku, lalu berikan ponsel mu kepadaku. Biar adil,kita sama-sama cek".
"Gak mau,wleeee...". Yasmin,mengejek suaminya dan pergi ke arah dapur. Enak saja,mau cek-cek ponselku. Jangan sampai tau, jika aku sering menggosip dirinya kepada temanku.
"Awas kamu, Yasmin. Mentang-mentang aku, tidak bisa berjalan. Seenaknya, mengejekku". Bentak Hanafi, menggeretakkan giginya.
__ADS_1
**************
"Mau kemana, malam-malam begini". Tanya Hanafi,menegur istrinya hendak keluar rumah.
"Mau beli paket internet,mas". Jawab Yasmin, langsung.
"Ini sudah malam, tidak bisakah besok saja". Kata Hanafi, berharap istrinya mematuhi perintahnya.
"Gak bisa,mas". Jawab Yasmin, menyelonong pergi begitu saja. Suka sekali, mengatur segalanya.Gerutu Yasmin, mengabaikan perintah suaminya.
Hanafi, menghembuskan nafas kasarnya. Karena sang istri, tidak mematuhi perintahnya.
Yasmin,terus berjalan dengan santainya. Melewati kegelapan malam,dia terpaksa menuju kios ponsel agak jauh. Karena yang di dekat, sudah tutup. Rumah-rumah penduduk, nampak sepi dan pintu tertutup rapat.
Kreeekkk.....
Suara seseorang tengah, menginjak rating. Yasmin, menghentikan langkahnya. "Siapa,yah? Jangan macam-macam, dengan ku". Ucap Yasmin,bulu kuduk seketika berdiri. Dia, calingukan melihat sekeliling. Akan tetapi, tidak ada siapapun.
Dia,terus berjalan dan tiba di kios ponsel yang di tujuannya. Beruntung kios ponsel itu, tidak tutup lagi. Banyak orang-orang, tengah bersantai
Sepulang dari membeli paket internet,dia harus melewati jalan yang gelap dan jembatan. sebenarnya, Yasmin sudah merasakan hawa tak enak. Namun apa daya,dia harus melewatinya. Apa lagi, tidak ada seorang pun yang lewat.
Lagi-lagi bunyi itu, terdengar Yasmin. Dia, mempercepat langkah kakinya,tak ingin berbalik badan.
Buuughhh....
"Aaakkkhh.....Mas Hanafii.....". Lirih Yasmin, matanya mulai memburam dan pingsan. Ponselnya, terbanting agak jauh.
Seseorang di belakang,memukul Yasmin. Dia,tak sadarkan diri dan tergeletak di jalan.
Yasmin,di angkat oleh seorang pria. Ada lagi, seorang wanita yang mengambil ponselnya Yasmin.
Sedangkan Hanafi, sudah gelisah gusar karena sang istri tak kunjung datang. Apa lagi,hujan deras turun. "Yasmiiiinnn....Kemana kamu? Hampir setengah jam,kamu tidak datang. Sial,mana ponselnya tidak aktif". Hanafi, sudah merasa was-was jadinya.
Bergegas menghubungi temannya dan orangtuanya Yasmin. Dia, semakin ketakutan. Berusaha berjalan, menahan rasa sakit di kakinya. pintu rumah terbuka, hembusan angin dan hujan sangat deras. suara petir menggelegar, seisi alam.
"Yasmiiiinnn...... Yasmiiiinnn....". Teriak Hanafi, berjalan menempuh hujan deras.
__ADS_1
"Astagfirullah,nak Hanafi". Pak Jamal, istri dan anaknya langsung bergegas menghampiri Hanafi.
"Pak,bu. Yasmin, tidak ada". Ucap Hanafi,yang sudah basah kuyup.
Beberapa orang lain, menghampiri mereka. "Pak kades, ini orang yang memiliki kios ponsel di ujung sana. Sempat melayani istri pak kades, membeli paket internet". Ucap Tejo.
"Benar pak kades,saya sendiri melayani bu kades beli paket internet. Setelahnya,bu kades pulang dengan sendirinya. Bahkan,ada bapak-bapak lainnya juga". Kata sang pemilik ponsel, tersebut.
"Ya Allah,kemana kamu Yasmin? Pak,ibu takut sekali jika Yasmin kenapa-kenapa". Bu Aminah, sudah menangis kesegukan dari tadi.
"Tenang bu,biar Rizky mencari dek Yasmin. Semoga Yasmin, tidak apa-apa bu". Seorang kakak, sudah pasti mengkhawatirkan adiknya.
"Bapak-bapak, sekalian. Kita harus berpencar mencari, keberadaan Yasmin. Terutama,kita temui mantan suaminya. siapa tau,Faris menculik istri pak kades". Ucap salah satu, bapak-bapak.
Mereka semua, langsung menyetujuinya. Orangtuanya Yasmin, langsung marah padam. Jika benar, Faris yang melakukannya.
Hanafi,tak kuasa menahan dirinya. Dia, sangat menyesali karena tidak mencegah sang istri pergi. "Yasmiiiiinnnn.....". Teriak Hanafi,sekeras mungkin.
Bapak-bapak lainnya, langsung pergi kediaman Faris. Rupanya, Faris ada di dalam dia, langsung di seret paksa. Lalu,di bawa ke hadapan kepala desa.
Walaupun, Faris bersikukuh tidak melakukan apapun. Namun apa ada,dia pasrah dan mengikuti bapak-bapak.
"Pak Hanafi,saya benar-benar tidak tahu? Saya, tidak melakukan apapun. Apa lagi, menculik Yasmin". Bantah Faris, langsung.
Buuughhh...
Faris, mendapatkan bogem mentah dari kakaknya Yasmin. "Bajinngaaaan.... Tidak perlu,kamu berkilah. Sudah pasti, kamu menculik adikku. Bilang saja,kamu cemburu buta kepada adik ipar ku. Sejak dulu,kamu selalu menyakiti adikku".
"Mengaku saja, Faris. Dimana istri ku,ha? jangan macam-macam, dengan ku". Bentak Hanafi, mengepalkan tangannya.
"Nak Faris, beritahu dimana anakku. Jangan seperti ini,apa kamu mau masuk ke dalam penjara lagi". Teriak pak Jamal, dengan tatapan tajam.
"Kalian jangan semena-mena terhadap ku,apa ada bukti kuat ha? Sudah aku bilang, tidak tahu". Bantah Faris, sekeras mungkin. "Kamu sajalah,jadi seorang suami tidak becus. Atau jangan-jangan, kamu pak kades dalangnya. Sudah berniat untuk, menyakiti Yasmin. Lalu, memfitnah diriku".
"Faris, jangan menuduh sembarangan. Mana mungkin,pak kades melakukan hal itu kepada istrinya sendiri". Sahut bapak lainnya,yang tidak percaya.
"Ckckck....kalian semua, terlalu percaya dengan pak kades. Padahal,dia memiliki hati iblis. Suka sekali, menyakiti Yasmin. Asal pak Jamal dan bu Aminah,tau itu". Faris,geram dengan Hanafi.
__ADS_1
Buughhh....
Lagi-lagi Faris, mendapatkan bogem mentah dari kakaknya Yasmin. Tidak terima,atas tuduhannya kepada adik ipar. Darah segar, mengalir di sudut bibirnya Faris. Lagi-lagi Faris, tersenyum sumringah.