
Acara syukuran dan penyerahan seserahan pernikahan. Berjalan dengan lancar,tanpa ada hambatan apapun.
Hanafi, memberikan mahar uang senilai 20 juta. Sontak membuat orang lain, merasa iri dengan Yasmin berstatus janda.
Begitu juga Faris, merasa minder untuk terus berada di acara Yasmin. Dulu Faris, memberikan mahar senilai 10 juta. Seserahan pernikahan, seadanya saja.
Tidak seperti sekarang, seserahan Yasmin.Begitu banyak dan terlihat mewah-mewah.
Namun, tidak membuat Yasmin bahagia. Dia, berusaha tersenyum. Menyimpan rasa sakit hati,demi orangtuanya.
"Beruntung yah, Yasmin menikah dengan nak Hanafi. Seserahan dan mahar, nilainya tidak main-main. Pernikahan Yasmin,yang pertama. Dulu, berapa maharnya? Aku,lupa bu".
Bisik orang lain,yang terdengar Yasmin. Sedari tadi, menunduk kepala.
"Sama bu,tapi seingat ku. Seserahan pernikahannya, tidak sebanyak ini". Jawab ibu, lainnya.
"Benar,kaya seadanya gitu. Katanya kaya raya, tapi ngasih seserahan pelit. Pantesan, Yasmin pisah sama suaminya".
"Eee... Lihatlah,di samping sana. Bukankah,itu mantan mertua Yasmin dan mantan suaminya. Penampilan acak-acakan, kemungkinan sudah miskin".
"Hemmm...Dulu,sok belagu banget. Merasa jijik, kerumahnya bu Aminah. Sekarang,dia sendiri gak punya tempat tinggal".
Banyak lagi, cibiran dari ibu-ibu lainnya. Yasmin,hanya diam tak bersuara sedikitpun..
Yang di pikirannya,acara ini cepat-cepat selesai. Tidak sanggup, terlalu lama lagi.
"Bu,ayo pulang. Apa ibu, betah? Mereka semua, membicarakan kita". Faris,menarik lengan ibunya.
"Ck,ibu geram dengan Yasmin. Masa dia,cuman diam saja. Di saat kita,di hina seperti ini". Gerutu bu Yahya, meninggalkan acara syukuran orangtuanya Yasmin.
"Sudahlah,bu. Yasmin, tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini". Faris,heran kepada ibunya selalu menyalahkan Yasmin.
"Kamu ini, selalu membela Yasmin. Gara-gara dia,kita di permalukan seperti ini". Gerutu bu Yahya, menatap tajam ke arah Faris.
"Bu, bagaimana rasanya? Jadi bahan pembicaraan orang lain, begitu juga dengan Yasmin. Dulu,ibu sering mengatai dia macam-macam. Ibu, seringkali menzolimi Yasmin. Sekarang,ibu menerima karmanya. Jika ibu, ingin hidup damai di desa ini. Faris,mohon kepada ibu. Jangan berulah aneh-aneh, termasuk jaga ucapan ibu". Pinta Faris,karena dia mulai tenang hidup di desa ini
Bu Yahya,diam tanpa berbicara apapun lagi. Walaupun hatinya, menggerutu Faris.
__ADS_1
Yasmin, bernafas lega karena acaranya sudah selesai. Seserahan pernikahan untuknya,di masuk ke dalam kamar.
"Yasmin, selamat yah". Irna, memeluk sahabatnya itu.
"Sama-sama, Irna". Jawab Yasmin, tersenyum.
"Beruntung sekali kamu, Yasmin. Karena Hanafi, tiba-tiba memilihmu menjadi istrinya. Bukannya dulu,kamu menolak pinangannya? Segitu cintanya,dia sama kamu. Atau jangan-jangan,kamu menyesal sudah menolak Hanafi dulu". Kata salah satu, ibu-ibu yang tidak di kenal Yasmin.
Yasmin, tersenyum. Benar-benar geram,kepada ibu satu ini.
Ibu itu, langsung meninggalkan Yasmin. Dengan tatapan sinis,menaruh rasa benci.
"Namanya bu Sukma, beliau memiliki anak perempuan. Anak perempuan,bu Sukma. Menyukai mas Hanafi,tapi di tolak". Bisik Irna.
"Oh,jadi beliau marah kepadaku. Karena iri,kali yah". Kekehnya Yasmin, membuat Irna cekikikan tertawa.
"Dah lah,gak usah di tanggapi omongan bu Sukma. Dia,orangnya suka begitu". Kata Irna,yang di angguki Yasmin.
Setelah acara syukuran sudah selesai, Yasmin beristirahat di dalam kamar. Matanya tertuju pada, seserahan dari Hanafi. Berlahan-lahan, mendekati dan membukanya.
"Bang Hanafi, tau darimana ukuran sendalku? Apa dari bapak dan ibu,". Gumam Yasmin, sangat pas di kakinya.
"Loh,kenapa di simpan nduk?". Tanya bu Aminah, melihat anaknya menyimpan seserahan.
"Nanti saja, kecuali Yasmin sudah sah jadi istri mas Hanafi. Baru Yasmin, gunakan". Jawab Yasmin, tersenyum.
"Kamu ini,yah. Takut sekali, jika nak Hanafi minta di kembalikan seserahannya". Kekehnya bu Aminah, tersenyum.
"Siapa tahu,bu? Kita,mana tau gimana nanti. Setidaknya, jaga-jaga". Sahut Yasmin, tersenyum sumringah.
"Hussssttttt...Jangan berpikiran aneh-aneh, insyaallah. Akad nikah mu, berjalan dengan lancar. Aaamiiinn....".
"Aaammiiinn....". Sahut Yasmin, menghela nafas beratnya.
*************
"E'ehmmm...Dua hari akad nikah ku dan Yasmin. Ada permintaan, Faris". Kata Hanafi, menepuk pundak Faris.
__ADS_1
"Maksudnya apa,pak Hanafi?". Faris, kebingungan mendengar ucapan mandornya. Apa dia, melakukan hal licik untuk menyakiti Yasmin.
"Masa, tidak tahu? Maksud ku, apa kamu tidak meminta aku membatalkan akad nikah dua hari". Tanya Hanafi, memainkan kedua alisnya.
"Pak Hanafi,jangan main-main. Cukup,jangan menyakiti perasaan Yasmin. Dia, sudah terluka karena ku. Tolong, jangan menambahkan luka lagi. Satu pintaku pak, jaga Yasmin dan buat dia bahagia". Pinta Faris, mengiba kepada mandornya.
Hanafi, menyunggingkan senyumnya. "Ck, lihatlah besok".
"Pak Hanafi,jangan main-main dalam pernikahan. Aku mohon,jangan membatalkan akad nikah besok". Pinta Faris, menggeleng kepalanya. Dia,takut hal itu terjadi. Dimana Hanafi, membatalkan akad nikah.
"Loh, bukankah kamu meminta ku untuk membatalkan akad nikah. Tumben,kamu berubah pikiran. Hemm....". Tanya Hanafi, menaruh rasa curiga.
"Percuma,karena Yasmin tidak akan kembali kepada ku. Tolong,jangan tinggalkan Yasmin". Ucap Faris, langsung mengundurkan langkah kaki.
Faris,lebih baik menghindari Hanafi. Dia,takut jika terkena masalah. "Aku, harus menemui Yasmin. Tetapi, bagaimana caranya?". Gumam Faris, kebingungan mencari cara untuk menemui Yasmin.
**************
Tok....Tok....Tok....
Yasmin,di kejutkan dari jendela kamarnya. Malam-malam begini,ada seseorang mengetuk jendela. Dia, bangkit dari ranjang dan mengintip di sela-sela tirai. "Mas Faris, ngapain ke sini?". Gumam Yasmin,takut jika ketahuan oleh orang.
Krekk....
Yasmin,membuka jendela kamarnya sedikit.
"Yasmin, baguslah kamu membukakan jendela untuk ku. Aku, sangat susah sekali untuk menemui mu. Ada hal penting, yang harus aku bicarakan". Kata Faris, calingukan melihat sekeliling. Takut sekali jika ada orang, yang mengetahui keberadaannya.
"Aduhh... Pergi sana,mas. Takutnya, jadi masalah besar jika ketahuan orang. Pergilah mas, tidak ada kesempatan untuk mu". Tegas Yasmin, ketakutan.
"Yasmin,jawab pertanyaan ku. Apakah benar, Hanafi pernah melamar mu. Lalu,kamu tolak karena memilih ku". Tanya Faris,dia takut jika Hanafi berbohong.
"Hmmmm, benar mas. Maka dari itu,dia ingin balas dendam kepada ku. Sudah menolak lamarannya dulu, entahlah besok apa yang terjadi". Jawab Yasmin,memutar bola matanya.
"Apa? Jadi semua itu,benar. Bahkan,kamu mengetahui jika dia menikahi karena dendam". Kata Faris,yang di angguki Yasmin. "kenapa,mau Yasmin? Kamu, bisa menolaknya kemarin".
"Bagaimana,mas? Karena aku, tidak bisa membantah perkataan bapak dan tidak mau mengecewakan perasaan mereka lagi. Sudah cukup,kamu berbuat seperti itu. Pergilah mas, jangan pernah mengganggu". Ucap Yasmin, ingin menutup jendela. Tetapi, Faris, menahannya.
__ADS_1
"Yasmin,mas rindu dengan mu. Bolehkah,mas masuk dan memeluk terakhir kalinya". Pinta Faris, dengan raut wajah memperihatinkan. Yasmin, memandang lekat manik-manik mata mantan suaminya itu. Apa benar, mantan suaminya merindukan dirinya.
"Tak Sudi aku, mas". Tegas Yasmin,menutup pintu jendela dan menguncinya. Tak lupa, membenarkan tirai agar tertutup. Tidak memperdulikan suara, ketukan Faris. lama-kelamaan, ketukan jendela hilang. kemungkinan, Faris sudah menyerah dan pergi.