
"Pak,tumben sekali wajahnya kusut begitu habis pulang dari kandang sapi. Jangan bilang si Siti, ngambek gak mau makan". Tanya bu Aminah, meletakkan segelas kopi panas. Siti,nama sapi kesayangan pak Jamal. Terkadang, Siti sering merajuk karena telat di kasih makan.
"Gimana gak kesal,bu. Faris,kerja di sawit kata orang-orang. Bapak kira,dia pergi dari desa sini". Jawab pak Jamal, sontak membuat Yasmin terkejut.
"Yah,gak papa pak. Semoga saja,nak Faris berubah total. Biarkanlah,dia bekerja di sawit. Toh,jangan ganggu Yasmin lagi". Kata bu Aminah, tersenyum.
"Masalahnya itu,bu. Bisa jadi,dia enggan pergi dari sini. Masih mengharapkan Yasmin,". Pak Jamal, terlanjur membenci Faris. "Dengar yah, Yasmin. Jangan sampai,kamu luluh dengan ucapan Faris. Bapak, tidak sudi memiliki menantu seperti Faris. Kamu pahamkan".
"Paham,pak. Yasmin,di terima mengajar di sekolah SMP. Besok ijin, untuk mulai bekerja pak". Kata Yasmin, dengan wajah sedih.
"Hmmmm...Jangan sampai,kamu niatnya mengajar. Tapi, berduaan dengan Faris. Ingatlah,jangan bikin malu lagi Yasmin. Cukup sudah,kita bahan pembicaraan orang-orang sekitar. Bapak dan ibu, malu Yasmin. Walaupun,ada yang iba dan tidak. Bapak,kasian Kepadamu". Pak Jamal, menasehati anaknya.
"Iya, Yasmin paham. Tidak akan pernah, mengecewakan bapak dan ibu. Yasmin,janji dan menuruti perintah bapak. Maafkan Yasmin,pak. Maaf". Yasmin, menangis kesegukan dan mengiba di depan ayahnya.
"Sudah,bapak setegas ini demi kebaikan mu. Maafkan bapak,yang selalu kasar dan tegas. Bapak, tidak mau melihat anak perempuan sakit hati. Melihat kamu gagal berumah tangga,bapak sakit nak. Sakit,karena kamu anak bapak". Pak Jamal, menghapus air mata anaknya.
Bu Amina,tak mampu membendung air matanya. "Yasmin,apa yang di katakan bapakmu benar. Kapan bapakmu, tidak menuruti kemauan mu. Apapun,akan di lakukannya nak".
"Maafkan Yasmin, sudah menyakiti hati kalian. Yasmin, salah". Isak tangisnya, Yasmin dan memeluk erat tubuh ayahnya.
"Sudah, jangan sedih begini. Ayo,kita makan sama-sama. Bapak,lapar jadinya habis menangis". Kekehnya pak Jamal, membuat bu Aminah dan Yasmin cekikikan tertawa.
Yasmin, menyiapkan makanan di meja dan dibantu oleh ibunya.
"Ini pak,semur jengkol kesukaan bapak". Yasmin, menyodorkan semangkok semur jengkol.
"Wahhh...Hmmmm, sudah lama tidak menyantap semur jengkol. Siapa yang buat,anak bapak yang tercinta atau istri bapak yang tersayang". Goda pak Jamal, membuat mereka tertawa renyah.
Yasmin, merasakan kehangatan dalam keluarganya. Memang beberapa bulan dan beberapa hari,dia dan ayahnya terasa dingin. Seakan-akan,ada tembok yang menghalanginya.
__ADS_1
Yasmin, memahami kekecewaan ayahnya. Kemungkinan, memerlukan waktu untuk kembali seperti semula.
***********
"Assalamualaikum, Irna". Yasmin, bertamu di rumah Irna. Dia, berniat untuk meminta maaf. Jika bisa, memperbaiki hubungan pertemanan mereka.
"Wa'alaikum salam, Yasmin. Ada apa,tumben sekali". Irna, menjawab salam Yasmin dan kebingungan kedatangannya.
"Irna,aku minta maaf kepada mu". Lirih Yasmin,malu.
Irna, tersenyum dan menyentuh tangan Yasmin. "Tidak apa,aku sudah memaafkan mu. Maaf,kemarin berkata kasar dan menyinggung perasaan mu".
"Irna,kamu tidak salah. Kamu,benar irna. Aku yang salah. Maaf,aku selama ini mengabaikan mu dan memusuhi mu". Yasmin, langsung memeluk tubuh sahabatnya.
"Jangan erat-erat,aku tengah hamil". Kekehnya Irna, langsung di lepas Yasmin pelukkannya.
"Astagfirullah, aku minta maaf Irna. Maaf kan aunty,yah". Kata Yasmin, tersenyum sumringah.
Irna,membawa Yasmin ke dapur. Dia, sedang membuat cemilan dari ubi kayu.
"Jadi,kamu mau menikah dengan mas Hanafi?". Tanya Irna, setelah mendengar cerita Yasmin.
Yasmin, menceritakan kehidupannya dulu dan sekarang. Irna, manggut-manggut mendengarnya dan sesekali memberikan pencerahan.
"Hemmmm.... Bagaimana lagi,aku harus menuruti perintah bapak? Ngomong-ngomong, bagaimana sifat mas Hanafi? Karena aku,baru kemarin bertemu dengan nya. Sudah lama, tidak berjumpa dan memang benar. Mas Hanafi, berubah drastis tidak seperti dulu". Kata Yasmin, mencomot sepotong ubi kayu.
"Semua orang tahu, bagaimana mas Hanafi? Dia, sering bergaul dengan orang-orang dan sifatnya ramah. Selalu,bercanda dengan orang lain. Bahkan, suamiku berteman dengannya. Sama jadi mandor,di kebun sawit". Jawab Irna, yang sejujurnya..
"Iya, dengan orang lain. Dia, selalu ramah Irna. Tapi, tidak denganku" Yasmin,menghela nafas panjang.
__ADS_1
Irna, mengerut keningnya. "Maksudnya apa, Yasmin? Bahkan, Hanafi tidak berniat untuk menikahinya. Saat kamu, menolak pinangannya. Sekarang, berita tersebar luas. Jika mas Hanafi,akan menikah dengan mu. Banyak orang lain, tidak menyukainya. Katanya,mas Hanafi terlalu mencintaimu. Mau saja denganmu,yang janda. Padahal, banyak gadis-gadis lain. Maaf,aku tidak menyinggung perasaan mu". Kekehnya Irna, takut Yasmin tersinggung.
"Eeee...Aku, tidak tersinggung kok. Malah aku,heran aja. Kenapa,dia mau menikah dengan ku. Takutnya,dia balas dendam kepada ku Irna. Karena dulu,aku pernah menolaknya. Percaya gak percayanya,di berbicara dengan ku. Sangatlah kasar dan tal segan-segan mengejek". Yasmin, kebingungan karena sifat Hanafi berbeda dengan orang pikirkan.
"Hemmm... Masalah itu,bisa jadi mas Hanafi masih kecewa berat dengan mu Yasmin. Jangan berpikiran aneh-aneh, semoga saja ini terakhir kamu menikah. Aku senang mendengarnya, jika kamu menikah dengan orang yang tepat". Irna, tersenyum manis.
Yasmin, melihat sekeliling dapur Irna. "Irna, ceritakan semuanya, kepadaku. Bagaimana, rasanya di jodohkan? Lalu, bagaimana kehidupan sehari-hari kalian. Waktu itu, tanpa ada cinta".
"Eee...Itu,anu...". Irna,malu untuk menceritakan semuanya.
"Ayolah,aku penasaran sekali. Aku, harus belajar dari mu". Cicitnya Yasmin, seperti anak kecil.
Yasmin, terus-terusan membujuk dan merayu Irna. Akhirnya, Irna mulai menceritakan semuanya. Yasmin, menikmati cerita Irna. Ada lucu dan ada sedihnya, membuat dia cekikikan tertawa.
"Astaga, suamiku mau pulang Yasmin. Aku,masak sambil cerita ya".kata Irna,di angguki Yasmin.
"Aku,bantu yah. Takutnya,bumil kecapean lagi". Kekehnya Yasmin, dengan sigap membantu Irna memasak untuk suaminya.
"Nanti,kita makan sama-sama. Sudah lama loh,kita gak makan". Ucap Irna,mengaduk oseng kacang buncis dan jagung muda.
"Hemmm...Deh,". Jawab Yasmin, membersihkan ikan. Lalu,di marinasi sebelum di goreng
Selesai masak semuanya, barulah mereka menata makanan di meja makan. Ada suara samar-samar di luar rumah, sepertinya suami Irna pulang kerja.
"Dek,mas Hanafi makan bareng kita...". ucap suami Irna, menggantung ucapannya. saat melihat,ada Yasmin di dapur. Begitu Hanafi, tercengang melihatnya.
"Irna,aku pamit dulu. Ada yang perlu aku, fotocopy. Maaf, lupa". Yasmin, buru-buru mengambil ponselnya.
"Eee... Yasmin,kita makan sama-sama dulu". Cegah Irna, langsung.
__ADS_1
"Kapan-kapan saja,permisi". Yasmin, melongos melewati suami Irna dan Hanafi. langkah Yasmin, terhenti dan membalikkan badannya. "Makasih,atas ucapannya kepada bapak. Aku,acungi jempol karena akting mas bagus". Yasmin, membalikkan badannya dan menarik napas dalam-dalam. "Bagus, karena sudah membuat kesalahan fatal. Dimana sesosok ayah tidak mempercayai ucapan anaknya. Di situlah, seorang anak perempuan terluka parah". Tegas Yasmin, berlalu pergi. Air matanya mengalir deras,tak memperdulikan tatapan orang-orang sekitar.