Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Mengenang Masa lalu


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, Aina seringkali membuat bekal makanan untuk Hanafi. Walaupun Hanafi,terus menolaknya dan memberikan kepada Jo.


Sungguh Aina,keras kepala dan bersikukuh untuk memasak pagi-pagi. Berharap bisa mengambil hati Hanafi,tetap saja tidak mempan.


"Kapan Aina,bisa di pindah dari kantor kepala desa?". Yasmin, sangat muak dengan sikapnya Aina.


"Dalam 3 bulan,sayang. Baru aku mengurusnya untuk di pindahkan,ke desa sebelah". Jawab Hanafi, menikmati keripik singkong.


"Masih lama mas,dua bulan lagi". Gerutunya Yasmin, cemberut.


"Sabar yah,sayang. Aku juga risih dengannya, sok-sok dekat". Hanafi, mengelus rambut istrinya.


"Bukan itu saja,tiap hari ada aja masalah dengannya. Aku jadi marah-marah gak jelas,menguras tenaga mengahadapi nya". Kata Yasmin, sudah mulai kelelahan membawa perutnya sudah besar. Menunggu harinya untuk melahirkan, membuat Hanafi semakin gelisah di saat tidak ada.


"Jangan marah-marah sayang, takutnya anak ketularan kamu marah terus. Yang kalem sayang, seperti aku". Kekehnya Hanafi, tersenyum manis.


"Idihhhh....Dulu, sebelum kejadian. Mas seringkali marah-marah, denganku. Masa lupa,". Delik mata Yasmin,ke arah suaminya. "Mas,aku sudah lama kenal dengan Aina. Tapi,baru kali ini loh. Aku mengetahui sifat aslinya,persis seperti pelakor".


"Hmmmmm... Dulu yah, sudah lama sih. Waktu kami masa-masa kuliahan,Aina orangnya asyik. Seringkali meminta bantuan kepada mas,apa lagi masalah skripsi. Seakan-akan aku seperti di manfaatkan olehnya,bisa jadi mau temanan dengan mas cuman ada maunya saja". Kata Hanafi, ikut-ikutan gosip dengan istrinya.


"Kayanya iya,mas. Kan dulu kutu buku,pintar sih. Tapi,mau aja di bodohi orang lain". Yasmin, terkekeh geli mengejek suaminya.


"Yahhh... Namanya juga teman, pasti tidak tega melihatnya. Mau tak mau,aku menolongnya dengan ikhlas dan sabar".

__ADS_1


"Ngomong-ngomong nih,mas. Kenapa waktu dulu,suka dengan ku? Padahal kita jarang komunikasi,bila ketemu atau berselisih. Cuman berbalas senyuman doang,". Yasmin,mulai mengungkit masa lalu.


"Karena asyik aja,sama bapakmu. Tau-taunya punya anak gadis cantik,biasa jatuh cinta dengan pandangan pertama. Tapi sayangnya,kamu sudah memiliki kekasih. Jujur saja,aku memberanikan diri untuk melamar dan berharap di terima kamu. Sampai aku lupa untuk menanyakan sesuatu,kamu punya kekasih atau gak?". Kata Hanafi,raut wajahnya nampak sedih.


"Ini,inih, bodohnya kamu mas. Tidak menyelidikinya dulu, sampai berubah menjadi masalah besar. Lalu,balas dendam kepada ku. Ck, menyebalkan sekali". Yasmin, mencubit pangkal paha suaminya.


"Auukk... Bagaimana lagi,sayang? Aku benar-benar tidak tahu, cepat-cepat menginginkan dirimu. Namun akhirnya pupus sudah, memiliki istri seperti dirimu. Ketika aku mengetahui, tentang perceraian mu. Entah kenapa,aku berinisiatif untuk memilikinya? Pelan-pelan berbicara dengan bapakmu,". Kata Hanafi, tersenyum dan mengecup bibir istrinya dengan lembut.


"Iya,lalu memfitnah bapakku yang bermohon-mohon untuk menikahi ku. Taunya kamu sendiri, bermohon-mohon kepada bapak. Walaupun bapak, tidak pantas menikahi anaknya kepada mas. Karena status ku janda,belum lagi mas sebagai kepala desa. Itu adalah detik-detik menyebalkan sekali, jika bisa aku menelan mas hidup-hidup. Kemungkinan besar,mas sudah aku makan". Geramnya Yasmin, menggeretakkan giginya.


Cup....


"Namanya juga masa lalu,sayang. Itupun aku berusaha keras untuk mengontrol diri,niat balas dendam dan menyakiti mu. Jujur saja sayang,aku tidak tega menyakiti mu dan berkata kasar. pengennya seperti ini,sayang-sayangan. sekarang menunggu kelahiran anak kita,gak sabar menggendong jagoan papah". Hanafi, mendekati Perut istrinya dan mencium.


"Sudahlah sayang, doakan saja semoga mereka bertobat. Aku dengar-dengar mantan suamimu, sakit-sakitan di penjara. Terus Hamid, terkena penyakit HIV". Ujar Hanafi, memberitahu kepada istrinya.


Mendengar ucapan sang suami, Yasmin langsung bergidik ngeri. "Amit-amit jabang bayi,mas. Itulah karma sudah melakukan kejahatan kepadaku, ingin sekali membunuh mereka waktu itu. Tapi sayang sekali,aku kehabisan tenaga".


"Beruntung aku sempat menghajar mereka berdua,sayangnya Rosella malah mati duluan. Bisa saja Rosella, selamat jika di bawa ke rumah sakit. Sayangnya Faris,membunuhnya langsung. Agar kamu di fitnah karena membunuhnya dan masuk kedalam penjara. Kebetulan sekali polisi menemukan batu bekas memukul Rosella,ada sidik jarinya Faris. Belum lagi cctv yang memperlihatkan Rossell, mengambil beberapa obat untuk menggugurkan kandungan mu". Hanafi, menghela nafas panjang.


"Jadi cctv itu,mas yang melakukannya. Aku kira bapak atau bang Rizky, yang mencari bukti kuat lainnya". Yasmin, tercengang mendengar cerita sang suami.


"Yasmin, walaupun kamu marah dan benci kepadaku. Apapun akan aku lakukan, untuk membebaskan mu atas tuduhan mereka. Aku juga sangat terpukul,atas kehilangan anak kita. Ingin sekali aku memeluk mu dan memberikan kekuatan. Tetapi,kamu tidak mau aku sentuh". Kini mata Hanafi, berkaca-kaca.

__ADS_1


Air bening mengalir di pipinya, langsung memeluk erat tubuh sang suami. Sungguh tidak menduga bagi Yasmin, segitunya Hanafi berusaha keras untuk membebaskan dirinya. "Makasih banyak mas,aku sangat bersalah kepada suamiku sendiri. Seharusnya,aku tidak seperti itu".


"Hussssttttt....Jangan menangis sayang,yang penting hubungan kita baik-baik saja. Aku tidak sanggup kehilangan mu,". Hanafi, memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya.


"Hmmmm...Jadi sedih akunya Mas, coba aja kita seperti ini dari awal nikah. Pastilah tidak terjadi apa-apa,mas sih. Boro-boro kepikiran balas dendam,yang tidak ada berfaedahnya". Gerutunya Yasmin, mencubit Perut suaminya.


Mereka berdua saling berpelukan dan berciuman. Hanafi, tidak menduga jalan rumah tangganya berliku-liku. Betapa senangnya hatinya, memiliki Yasmin cinta pertamanya itu.


Begitu juga Yasmin, tidak menduga akan menikah lagi. Memiliki suami yang baik dan perhatian, pilihan dari orangtuanya. Jika waktu bisa di ulang lagi, kemungkinan dari awal menerima lamaran Hanafi. Yasmin, sangat menyesal karena menikah dengan Faris.


*************


Di pinggiran kota Indah, membeli rumah tidak terlalu besar. Dia sukses menjual dirinya, kepada pria hidung belang. Memboyong ibunya,yang tinggal berduaan.


Bu Yahya, seringkali sakit-sakitan dan tidak mampu beraktivitas seperti biasanya. Indah,yang capek-capek kerja berangkat malam pulang pagi. Sangat lelah melayani pelanggan,belum lagi rumahnya berantakan.


"Bu,kalau sakit obatnya di minum. Masih untung aku belikan obat,jangan sampai aku mengantar ibu ke rumah Hana. Anak bungsunya ibu,yang manja itu". Bentak Indah, sangat kesal.


"Jangan Indah,ibu gak mau merepotkan Hana. Apa lagi dia, baru saja melahirkan. Uhukk... Uhukkk...". Bu yahya,mulai mengambil obatnya.


"Kalau gak mau, obatnya di minum dong. rumah berantakan sekali, makanan di meja gak ada. Aku capek bu, balik kerja harus mengurus ini,itu dan ibu". Teriak Indah, meluapkan amarahnya.


Bu yahya, meminum obatnya. Terlihat tangan gemetar,air matanya luruh sudah. Sangat merindukan anaknya Hamid dan Faris, terlintas di benaknya. Dulu hidup enak, apapun bisa di beli. Sekarang tidak lagi,makan pun harus seadanya. Hati seorang ibu,mana yang tidak sakit. Mendengar anak perempuannya,menjual diri untuk mencari sesuap nasi.

__ADS_1


__ADS_2