Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Diusir


__ADS_3

"Huuuu....Dasar keluarga pembunuh! Huuu....".


"Tidak layak kalian tinggal di desa ini,sana pergi!".


"Huuuuu....Dasar pelakor,memang pantas mendapatkan tomat busuk ke wajahmu. Dasar pelakor! Keluarga pembunuh!".


"Pergi dari desa ini, sekarang juga!".


"Tidak tahu,malu. Huuu...!".


Sepanjang perjalanan bu Yahya dan Indah, mendapatkan caci maki habis-habisan oleh orang lain.


Ada yang melempar sayur busuk,buah busuk,dan lainnya. Bu yahya dan Indah, terus berjalan tanpa melawan ucapan mereka.


Mencoba menghindar dari lemparan, benda busuk tersebut.


Bu Yahya dan Indah, ingin menemui keluarga Yasmin. Mereka harus mengganti rugi,karena Hamid dan Faris masuk penjara.


Apa lagi sekarang indah, sudah di ceraikan oleh juragan Tono. Sudah pasti tidak ada memiliki uang atau benda berharga lainnya.


"Oh, rupanya kalian tengah menikmati suasana kebahagiaan. Bagus,bagus". Ucap bu Yahya, di ambang pintu rumah Hanafi.


Prokkk....Prokkk...Prokkk


Indah, bertepuk tangan."Bahagia sekali kamu, Yasmin. Tidak memikirkan perasaan kami,ha! Gara-gara kamu,bang Hamid dan Faris masuk penjara. Kami mengalami keterpurukan, sedangkan kamu haha-hihihi."


"Mereka memang pantas mendapatkan hukuman setimpal, sudah berani macam-macam dengan anakku". Tegas pak Jamal, rupanya mantan besannya masih barulah.


"Pak Jamal, lepaskan anak-anakku. Kalian tidak berhak melakukan hal ini,karena anakku tidak sepenuhnya bersalah". Sahut bu Yahya, dengan suara melengking tinggi.


Ingin sekali Yasmin, menjawab perkataan mantan ibu mertuanya. Akan tetapi, Hanafi melarangnya.


"Kalau begitu, kembalikan cucuku yang sudah di bunuh anak-anakmu". Sahut bu Aminah, langsung membungkam mulut bu yahya.

__ADS_1


"Itu, sudah takdir bu Aminah. Mana bisa di kembalikan lagi,". Indah, langsung menjawabnya.


"Berarti Hamid dan Faris, sudah takdir masuk penjara". Ucap Hanafi, dengan entengnya. "Kami tidak mengusik kehidupan kalian, tetapi Hamid dan Faris mengusik kehidupan kami. Itulah karma yang setimpal, untuk mereka".


"Pak kades....". Lirih Indah, mendapatkan tatapan tajam darinya.


"Kenapa diam,bu Yahya? Anak-anak mu, sangat bersalah kepada anakku. Mikir bu, bagaimana perasaan anakku? Sudah kehilangan anaknya, tidak bisa kembali lagi. Sedangkan ibu Yahya,bisa menemui anak-anak di penjara. Sebelum ajal menjemputnya,". Geram bu Aminah, langsung.


"Jangan kurang aja,bu Aminah. Mereka anak laki-laki ku,tanpa mereka bagaimana kehidupan selanjutnya? Sedangkan kami,di usir juragan Tono. Indah, sudah di ceraikannya". Bu yahya, mengeluarkan unek-uneknya.


"Baguslah,itu karma untuk kalian. Lebih baik kalian semua, pergi dari desa ini". Perintah Hanafi, dengan tatapan tajam. "Apa perlu aku, menyeret paksa. Sedangkan warga di sini, mereka menyarankan agar kalian pergi".


"Kalian itu,memang tidak punya hati. Apa belum puas menyakiti kami,ha? Semua ini, gara-gara kamu Yasmin. Asal kamu tahu,aku sangat bahagia atas kehilangan buah hati mu". Kata Indah, menyunggingkan senyumnya.


Mendengar perkataan Indah,air matanya luruh sudah. Yasmin,masih teringat dengan buah hatinya.


"Keluarrrrr....!Sebelum aku,menyeret kalian!". Bentak pak Jamal, matanya melotot sempurna.


Bu Aminah dan kakak iparnya, membujuk Yasmin. Di saat Yasmin, menangis kesegukan.


Di halaman rumah,para tetangga sudah menyiapkan sayur dan buah busuk. Siap untuk melempari mereka,agar pergi dari desa ini.


Byuurrr....Byurrrr...


Bu yahya dan Indah, mendapatkan siraman air dari orang sekitar. Baunya sangat menyengat dan tidak enak.


Uwekkk... Uwekkk...


Bu Yahya dan Indah, mual-mual mencium aroma tak sedap pada tubuh mereka. Belum lagi,benda busuk yang di lempari.


Ibu-ibu lainnya mengeluarkan caci maki habis-habisan, ingin sekali menghajar wajah mereka sok belagu itu.


Bu yahya dan Indah,terus berjalan meninggalkan desa dan sampai di perbatasan. Tak lupa bergantian pakaian, menghilangkan bau busuk di badan.

__ADS_1


"Iiiihhh...Kurang ajar sekali, mereka. Kenapa kita, mendapatkan sengsara seperti ini?". Gerutu bu Yahya, memendam rasa bencinya.


"Semua ini gara-gara, Faris. Dia selalu mendapatkan masalah, sampai seperti ini". Sambung Indah, penampilannya sangat memperihatinkan. "Mana hujan deras lagi,kita kemana bu?".


"Kita tunggu angkot ke kota,masih ada Hana. Sudah sewajibnya, membantu ibu dan Mbaknya". Bu yahya, sudah lama tidak bertemu dengan anak bungsunya itu.


"Benar sekali,bu. Bukankah Hana, menikah dengan pria kaya. Tapi,apa mau menerima kita? Kok, aku ragu". Indah, pernah menemui adiknya itu. Saat ingin meminta uang, tetapi yang di dapatkannya adalah caci-maki.


"Pastilah mau ada,ibu". sahut sang ibu, harapan satu-satunya adalah anak bungsunya.


Beberapa saat kemudian, angkot ke kota datang. Mereka berdua langsung masuk, beruntung masih ada uang sedikit.


Mata Indah, tertuju pada jari manisnya. Ada harapan sebuah cincin kawin, dengan juragan Tono. "Bu,aku masih ada cincin kawin. Kita bisa jual, untuk ongkos ke rumah Hana". Bisik Indah, takutnya ada seseorang merampok barangnya. Karena dalam angkot, lumayan banyak penumpang.


Bu yahya, mengangguk dan tersenyum sumringah. Baguslah, jika ada cincin kawin Indah. Otomatis uang dan perhiasan ku, tidak di gunakan.Batin bu yahya, mempererat pegangan tasnya. Takut seperti sinetron tv sudah jatuh, terguling-guling di tangga lagi. Ibaratkan saat ini, mereka sudah mendapatkan penderitaan lalu di rampok lagi. Sungguh miris,jika itu terjadi dalam hidupnya.


1 jam berlalu, mereka sampai di terminal kota. Bu yahya dan indah, langsung mencari toko emas untuk menjual cincin.


"Apa,imitasi?". Ucap bersamaan Indah dan ibunya, sangat syok mendengarnya.


"Tidak mungkin,mbak. Ini emas asli, cincin kawin saya". Bantah indah, rupanya selama ini di bohongi juragan Tono.


"Iya,mbak. Ini cincin imitasi,bukan emas murni. Modelnya saja,mirip sekali dengan emas. Mana mungkin kami berbohong,di toko emas terbesar ini. Lihatlah,banyak pelanggan lainnya". Kata sang penjaga toko, tersenyum kecil.


"Bu, tidak mungkin". Indah, menggeleng kepalanya dan terduduk lemas. Sudah beberapa kali, cincin kawinnya di cek.Berganti toko untuk mencek, hasilnya tetap sama.


"Aduhhh...Kamu ini,indah. Kok bisa sih,di bodohi suamimu ha? Makanya rampas milik juragan Tono,minta uang banyak setiap hari. Selalu saja, alasannya macam-macam". Bu yahya, sangat kesal dengan anaknya.


"Bu, aku sudah meminta uang kepada juragan Tono. Tetapi, uangnya di rampas oleh istri pertama juragan. Mau cerita tentang kelakuannya, takut di cerai". Jawab Indah, tak


"Astaga, Indah! Kamu kok, bego sekali ha! seharusnya,uang itu kasih ke ibu. Biar dia, tidak bisa merampas hak mu". Bu yahya, mencengkram erat tangan indah. Segitunya geramnya,kepada anaknya yang ceroboh.


"Alahhh....Ibu, sama aja. Selalu berfoya-foya, menghabiskan uang banyak. Tunggu dulu, pasti ibu memiliki uang atau perhiasan. kenapa tidak milik,ibu di jual?". Akhirnya Indah,baru sadar. Jika ibunya,memang memiliki uang dan perhiasan. Walaupun tidak seberapa banyak,tapi mampu untuk ongkos ke rumah Hana.

__ADS_1


Dengan berat hati,bu Yahya menjual gelang emasnya. Karena uang di miliknya, tidak cukup.


__ADS_2