
"Bu kades, belanja yah. Gimana, menikah dengan pak kades? Pastilah,jauh beda dengan mantan suami bu kades kan". Sindir salah satu,ibu yang berbelanja juga.
Baru saja pagi, Yasmin sudah di hidangkan gosip dari ibu-ibu. Terpaksa dia, berbelanja di warung karena pasar tidak buka hari ini.
"Ck,heran sekali dengan pak kades. Masa mau menikah dengan janda, padahal banyak gadis-gadis lain". Sahut bu Sukma, menatap benci ke arah Yasmin. Sok cantik, jangan-jangan dia menggunakan susuk untuk menggoda Hanafi.
"Lah,apa masalahnya bu Sukma? Istrinya pak kades,anak pak Jamal. Gak kalah sama gadis lainnya, namanya juga jodoh". Timpal lainnya, tersenyum.
"Bu kades, jangan dengerin omongan bu sukma". Kata bu Mini, pemilik warung.
Sepagi ini, Yasmin belanja sayur dan ikan basah. Di warung bu Mini, kebetulan sekali banyak yang ibu-ibu berbelanja juga. "Tidak apa bu, terserah bu sukma mau ngomong apa? karena Yasmin, tidak numpang hidup sama beliau". Jawab Yasmin, tersenyum kecil.
Sebenarnya Yasmin,enggan berkomunikasi dengan ibu-ibu setempat. Pastilah,dia jadi bahan gosip.
"Makasih,bu. Berapa totalnya,". Yasmin, sudah memilih apa yang di belinya. "Maaf ibu-ibu,jangan panggil bu kades. Panggil saja Yasmin,jadi gak enak mendengarnya". Pinta Yasmin, tersenyum.
"Bu kades,gak papa. Malahan,kami yang gak enak manggil nama". Sahut bu Tiwi, tersenyum.
"Iya,aku bakalan manggil kamu Yasmin". Ucap sukma, dengan tatapan sinis."Idihhhh.... Manggil bu kades,yang pantas anakku. kau tahu, Yasmin? Anakku,menangis kesegukan mulai kemarin. Karena dia, sangat menyukai Hanafi. Karena ada kamu,jadi berantakan semuanya".
"Astagfirullah,jaga omongan bu sukma. Namanya juga jodoh,mau bilang apa lagi? Mana mau,pak kades sama anak bu sukma. Yang suka keluyuran malam dan nongrong tidak jelas. Jauh beda dengan bu kades, berpendidikan tinggi dan seorang guru". Ibu lainnya,membela Yasmin
"Bu sukma, Yasmin tidak tahu masalah anak ibu. Sedangkan mas Hanafi, tidak bilang apa-apa". Kata Yasmin, dengan santainya.
"Bilang aja,bu sukma tidak ikhlas dengan pernikahan pak kades kan". Tanya bu Tiwi, langsung.
"Ck,anak ku tidak kalah cantiknya dengan Yasmin. Kenapa di tolak? Malah menikah dengan janda". Gerutu bu sukma, melenggang pergi meninggalkan ibu-ibu di warung
Yasmin, menggeleng kepalanya. Mendengar ucapan bu Sukma,yang tidak menyukai dirinya.
"Ibu-ibu,aku pamit dulu. Mau masak,permisi". Yasmin,pamit pulang.
"Hati-hati,bu kades".
__ADS_1
"Silahkan,bu kades. Masak yang enak buat,pak kades".
"Duhhh.... Pengantin baru,masak".
"Soswiiiittt....Kalau pak kades, bantu-bantu juga".
Ucap ibu-ibu di warung, Yasmin senyum-senyum dan menundukkan kepalanya. Dia, terus melangkah kakinya dan mulai menjauh dari warung bu Mini.
"Yasmin,jangan di ambil hati perkataan bu sukma. Dia,memang seperti itu jika berbicara". ucap ibu lainnya, yang di angguki Yasmin.
Cuman beberapa langkah, Yasmin sudah sampai di rumah suaminya. Meletakkan belanja tadi,di dapur dan siap memasak.
"Yasmin,bikin mas kopi". Pinta Hanafi,baru keluar dari kamar. Sepertinya,baru selesai mandi. Terlihat jelas, rambutnya masih basah.
"Nanti,aku sibuk membersihkan ikan. Mau cepat,bikin sendiri". Jawab Yasmin, tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Ck, tidak bisakah buat kan sekarang. Jangan sampai,suami nongrong di warung kopi yang ada gadisnya". Ucap Hanafi,mencoba memancing reaksi Yasmin.
"Baguslah,aku tidak repot-repot membuatkan mas kopi". Jawab Yasmin, tersenyum smrik.
"Iya,aku ingat mas. Karena aku istrimu, selalu berbakti kepada suaminya. Apa kamu tidak lihat,aku tengah sibuk. Mau,aku bikin kan kopi tanganku amis bau ikan. Sudahlah mas,jangan bikin keributan di pagi hari ini. Aku capek,mas. Tolong,pahami aku". Pinta Yasmin, menarik nafas dalam-dalam.
"Kamu,bisa cuci tangan dulu. Lalu, membuatkan kopi untuk ku. Setelahnya, lanjutkan lagi dengan pekerjaan mu itu". Bantah Hanafi, dengan suara keras.
Yasmin, tidak menjawab perkataan suaminya. Dia,acuh dan masih membersihkan ikan.
Braakkkk.....
Hanafi, langsung menggebrak meja makan dan pergi meninggalkan Yasmin. Dia, begitu kesal karena Yasmin mengabaikan dirinya.
"Baguslah,dia pergi dari sini. Aku, tidak capek-capek meladeni omongannya". Gumam Yasmin, melanjutkan acara masaknya.
Widya, ingin keluar dari kamar. Mendengar pertengkaran suami-istri itu,dia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Tidak ada suara keributan lagi, Widya keluar dan menuju ke arah dapur. "Mbak, bertengkar lagi". Kata Widya, mendekati Yasmin.
"Hmmm.... Tidak apa, Widya. Dia,memang keras kepala". jawab Yasmin, tersenyum.
"Aku bantu masak yah, Mbak". Pinta Widya,yang di angguki Yasmin.
Satu jam bertempur di dapur, akhirnya selesai juga masakannya. Yasmin,menata makanan di meja makan. "Widya,kamu makan lah dulu. Sepertinya, abangmu tidak ada. Mbak,mau mandi".
"Baiklah, Mbak. Maaf duluan, soalnya ada tugas". Kekehnya Widya,duduk di kursi. Terpaksa,dia makan sendirian.
Tak berselang lama, Hanafi datang dan menemui adik sepupunya. Matanya, melihat sekeliling dan tidak menemukan keberadaan Yasmin."Mana mbakmu, Widya". Tanya Hanafi,yang barusan datang. Entah, darimana dia.
"Eeee...Bang Hanafi,mbak Yasmin mandi katanya. emangnya,abang darimana? Mbak tadi,mencari". Tanya Widya, menyuapkan makanan ke dalam mulut.
"Di teras rumah, mbakmu mana ada mencari Abang. Makanlah dulu,abang tunggu mbakmu". Hanafi, duduk dan menunggu Yasmin.
"Ciyeeehhh.. Nungguin mbak,yah. Bang,jangan terlalu kasar kepada mbak Yasmin. Minumlah kopinya, mumpung masih panas. Mbak Yasmin,bikin tadi". Widya, mengambil kopi buatan Yasmin tadi. "Widya, pamit dulu bang".
Hanafi, mengangguk dan tersenyum.Dia, menghela nafas dan menghirup kopi panas. Sambil menunggu Yasmin, selesai mandinya."Lama sekali mandinya, wanita memang merepotkan". Gumam Hanafi, mendelik ke arah Yasmin yang selesai mandi.
"Makanlah dulu, ngapain nunggu Yasmin segala". kata Yasmin, mendengar gumaman suaminya.
Beberapa menit kemudian, Yasmin menyusul suaminya di meja makan. "Mau aku ambilkan makanannya,atau ambil sendiri mas". Tanya Yasmin,takut salah lagi.
"Di ambilkan dong,masa punya istri tidak ada memanfaatnya". Kata Hanafi, tersenyum smrik. "Mau yang itu,itu dan itu". Tunjuk Hanafi,ke arah beberapa menu makanan di meja.
Yasmin, telaten mengambil sayur dan ikan untuk suaminya. Walaupun, hatinya kesal kepada sang suami.
"Lain kali,jangan masak udang. Aku, tidak suka udang". Hanafi, melirik ke arah istrinya.
"Baguslah, tidak suka. Lagian,aku memasak bukan untuk mu saja mas. Di rumah ini,ada orang lain. Bukan,cuman mas doang". Jawab Yasmin, tersenyum smrik. "Huussss.... Tidak usaha bersuara mas, tidak baik bertengkar di depan rezeki. Pemali,mas". Sambung Yasmin,di saat Hanafi ingin bersuara.
"Yang mau bertengkar siapa,ha? Kamunya aja, selalu menjawab perkataanku. Sifatmu itu, tidak baik Yasmin. Selalu, menjawab perkataan suami". Hanafi,geram kepada istrinya..
__ADS_1
"Mas,nanti saja bertengkar nya. Aku,mau makan dan menikmatinya". Pinta Yasmin, menggeleng kepalanya. Jujur saja, dia geram sekali kepada suaminya. Ingin sekali memasukkan suaminya ke dalam karung,lalu di buang ke laut.