
"Hentikaaaan....". Teriak bu Yahya,yang baru datang bersama anak-anaknya. "Mentang-mentang,kepala desa di sini. Pak Hanafi, seenaknya main hakim. Saya tidak terima,atas perlakuan kalian semua. Termasuk kalian, orangtuanya Yasmin".
"Alahhhh.... Maling mana ngaku,bu. Pastilah, anak ibu yang menculik Yasmin. Orang lain, seringkali melihat Faris menemui Yasmin". Sahut ibu, lainnya.
"Aku, menemui Yasmin. Sekedar menjalin silaturahmi saja,kami masih berteman. Salah kah,kami berteman? Kami bertemu, di tempat umum. Tidak secara, bersembunyi". Sahut Faris,langsung.
"Lepaskan adikku,jika tidak ada bukti atas penculikan Yasmin. Kami, bisa menuntut kalian balik". Indah, langsung angkat bicara.
"Pak kades, lebih baik kita tahan dulu Faris. Sebelum bukti-bukti, terkumpul. Dia, bersalah atau tidaknya". sahut yang lainnya, mengusulkan pendapat.
Pak Jamal, melirik ke arah menantunya. Mendapatkan jawaban, yang tepat.
Ya Allah,kemana kamu nak? Kembalilah, jangan membuat kami khawatir. Lindungilah anak hamba ya Allah, jauhkan dari marabahaya. Batin pak Jamal, pikirannya berkecamuk kemana-mana.
"Tidak bisa, Faris akan kami tahan. Sampai dia, mengaku kejahatannya". Ucap salah satu, bapak-bapak.
Benar sekali,aku tidak memiliki bukti apapun. Tapi, to masalah jika aku lepaskan Faris. Siaap tahu,ada sesuatu yang tidak beres. Batin Hanafi, memejamkan matanya. Dia, sudah memilih,apa yang tepat.
"Baiklah, Faris aku lepaskan. Jika dia,memang terbukti sudah menculik istri ku. Siap-siap saja, mendapatkan hukuman setimpal dari ku. Bukan hanya Faris, tetapi keluarganya juga". Tegas Hanafi, menyeringai tajam.
"Ck,aku tidak terima atas tuduhan mu pak kades. Ini sama saja, pencemaran nama baik ku. Tidak pantas, menjadi kepala desa di sini". Senyum smrik, Faris. Aku, tidak akan tinggal diam.Tenang saja,aku mengambil kesempatan ini untuk menghancurkan kamu Hanafi.
"Jika kamu, tidak terbukti atas penculikan istriku. Gelar kepala desa,aku serahkan semuanya kepada mu". Tantang Hanafi, langsung. Setidaknya,aku sudah berpikir panjang dengan keputusan ini.
Sontak membuat semua orang, tercengang mendengarnya. Mereka semua, tidak percaya dengan ucapan Hanafi.
"Tidak,kami tidak setuju pak kades".
"Benar,kami keberatan pak kades".
__ADS_1
"Pak kades, tidak salah jika menuduhnya. Karena Faris, seringkali menemui istrinya pak kades".
"Iya,benar sekali. Bahkan, banyak sekali saksi mata".
"Nak Hanafi,jangan mengambil keputusan seperti ini. Mereka semua, tidak setuju". Kata pak Jamal, terkejut mendengar ucapan menantunya.
"Baiklah, dengar kalian semua. Jika aku, tidak terbukti menculik Yasmin. Bersiaplah,aku yang menjadi kepala desa. Aku,pegang ucapan mu pak kades". Faris,menerima tantangan Hanafi. Hahahahha....Kalian semua, akan bertekuk lutut kepadaku. Termasuk orangtuamu Yasmin.
Warga sekitar, tidak menyetujui dengan ucapan Hanafi. Mereka semua, tidak mau jika Faris menjadi kepala desa disini. Mau jadi apa,jika kepala desa di ganti dengan Faris.
"Pak kades,kami pegang ucapan anda. Jangan pernah, mengingkari perkataan, atau mengubahnya". Indah, langsung tersenyum sumringah.
"Benae sekali, banyak orang yang menjadi saksi ucapan mu itu". Sambung Hamid, tersenyum.
"Sejak kapan aku, mengingkari perkataan ku sendiri". Sahut Hanafi, dengan lantang. Karena aku, mencurigai kalian lah pelakunya.
"Lepas, jangan sok belagu kamu Rizky". Hamid, langsung memisahkan mereka.
"Sudahlah,bang. Kita cukup mengalah saja,karena kita tidak salah". Faris, menepuk pundak Kakaknya.
"Kalian akan menyesali,karena sudah membela pak kades. Nyata-nyata dia, pelaku yang sebenarnya. Sok berwajah polos,". Hamid, ingin sekali melayangkan tinjunya. Tetapi, kakaknya Yasmin langsung menghadang
"Sudah-sudah,hari sudah semakin larut malam. Hujan juga reda,yang lainnya lebih pulang. Sisanya, mencari keberadaan istri pak kades". Ucap salah bapak, lainnya.
"Alahhhh.... Ngapain malam-malam begini,cari wanita gatal itu. Siapa tahu aja,dia tengah bersenang-senang dengan pria lain". Sahut Lela, tersenyum.
"Hussssttttt...Jaga ucapan mu, Lela. Tidak baik berucap seperti itu,pak kades dan orangtuanya Yasmin. Tengah berduka,atas kehilangannya". Tegur Rosella, menggelengkan kepalanya.
"Sekarang apa,pak kades? semua orang ada di sini. Lantas,siapa pelakunya pak kades. Jangan-jangan, istri anda sendiri yang kabur tanpa ba-bi-bu lagi". Sahut Hamid, dengan santainya.
__ADS_1
"Benar sekali,kita capek-capek mencari keberadaannya. Eee...Dia,malah happy di hotel". Sambung Lela,lagi.
"Astagfirullah,jangan menuduh Yasmin seperti itu. Pak kades, lebih baik di rumah saja. Biar para warga, mencari istri pak kades. Lihatlah,luka di lutut pak kades. Semakin parah dan keluar darah, biar saya bantu". Kata Rosella, menatap iba kepada Hanafi.
Hanafi, mengusap wajahnya. Terlihat jelas dia, mengkhawatirkan keadaan Yasmin. Tidak tau,apa yang terjadi. Benarkah,dia kabur dari nya? Namun hatinya,merasa ada janggal. "Tidak perlu,luka ini tidak apa-apanya. Di bandingkan, dengan kehilangan istri ku". Hanafi, menepis tangan Rosella.
"Nak Hanafi,kita obati dulu kakimu. Jangan sampai, terjadi sesuatu nantinya. Para warga dan bapak mertua mu, mencoba bergerak mencari Yasmin. Kita doakan saja, semoga Yasmin tidak terjadi apa-apa". Bu Aminah, mencoba menenangkan pikiran menantunya. Walaupun dirinya sendiri, sungguh khawatir dengan putri satu-satunya.
"Bagaimana, bisa tenang bu? Yasmin, istriku bu. Tidak tau,apa yang terjadi. Hanafi, sangat bersalah bu. Kenapa, tidak mencegah Yasmin pergi. Sudah pasti, Yasmin tidak hilang seperti ini". Kata Hanafi,air matanya menetes sudah.
"Ckckck....Sok sedih karena kehilangan, Yasmin. Nyatanya,pak kades seringkali menyakiti dirinya. Ck, munafik". Kata Faris, menyunggingkan senyumannya.
"Ayo,kita pulang saja. Ngapain mencari Yasmin, keenakan mereka. Semoga saja,Yasmin di temukan tak bernyawa lagi". Bu yahya, mencibik bibirnya.
"Astagfirullah,". Bu Aminah, menggeleng kepalanya. Ya Allah, semoga Yasmin baik-baik saja. jauhkan dia, dari marabahaya. Kamu dimana,nak? Semoga kamu, secepatnya di temukan dalam keadaan sehat.
"Ayo,kita pulang. Lebih baik,kita berpesta atas kehilangan Yasmin. Ini akibatnya, sudah mencaci maki kita dulu. Sekarang, Yasmin mendapatkan karmanya". Hamid,juga ikut-ikutan mengompori.
Hanafi, berusaha mengontrol dirinya. Ingin sekali,menghajar mereka habis-habisan. Menatap tajam, kepergian satu keluarga itu.
"Jo, perintah orang lain untuk mengawasi gerak-gerik keluarga bu Yahya". Bisik Hanafi,yang di angguki oleh Tejo.
"Bu Aminah,yang sabar yah. Kami semua, sangat mengkhawatirkan keadaan Yasmin. Semoga, secepatnya ketemu. Kita doakan sama-sama, berharap kepulangan Yasmin dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun". Ucap Rosella, menenangkan pikiran ibu kandungnya Yasmin.
"Rosella, pulanglah sana. Luka ini aku bisa mengobatinya sendiri". Ucap Hanafi, tanpa menoleh ke arah Rosella.
Rosella, meremas ujung bajunya. Tak terima atas penolakan Hanafi,dia menatap tajam ke arah Hanafi.
Para warga mencari keberadaan Yasmin, berteriak-teriak memanggil namanya. Pak Jamal, sedari tadi sudah menetaskan air matanya. Pikirannya berkecamuk kemana-mana, sangat mengkhawatirkan keadaan anaknya.
__ADS_1