Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Kritis


__ADS_3

"Aaaaa....Aaaaa....". Faris, mencekram rambut Yasmin dan menyeretnya ke sungai. Dia, ingin menenggelamkan kepalanya. "Massss.... Lepassss.... Aaaaaarrghhh...".


"Cuiihhh.... Tidak akan aku, melepaskan mu Yasmin". Faris, mencekram dagu mantan istrinya itu. Rambutnya acak-acakan, menutup wajah Yasmin juga.


"Kau apakan, abangku ha? Kamu,harus membayarnya Yasmin. Ini akibatnya, bermain-main dengan ku. Hahahaha.... Lihatlah,kami saja tidak berdaya". Teriak Faris, menyeringai tajam.


Plakkk....


Plakkkk....


"Rasakan ini, Yasmiiiiinnnn...". Bentak Faris,dia melayangkan bogem mentah di bagian perutnya Yasmin.


Buughhh..... Buughhh....


"Aaaarrgghh.... Cukup mas! Cukup...". Pinta Yasmin, terasa perih di sudut bibirnya. Darah segar mengalir,karena tamparan Hamid dan Faris.


"Hahahaha...Mampus kau, Yasmin. Bukan kamu saja,yang aku bunuh. Tetapi,anak mu juga".


"Aaaahhh.....Aaaahhh... sakkiiiiiit...". Rintih Yasmin, rambutnya di cengkram ke belakang. Air matanya mengalir deras,namun tidak meluluhkan perasaan Faris.


"Aaaaa.... Tidaaaakkkk...". Yasmin, menggeleng kepalanya dan sekuat tenaga untuk melawan Faris. Saat wajahnya,mulai menyentuh air.


Faris, berusaha menekan kepala Yasmin. Agar sepenuhnya, tenggelam di air.


Grogrogrogrokk... Grogrogrogrokk...


"Ha...Haa...Ha...Ha...". Yasmin, ngos-ngosan mengatur nafasnya. Cukup lama dia, tidak bernafas dalam air.


Lagi-lagi Faris, menekan kepala Yasmin dan tenggelam sepenuhnya. Yasmin, memberontak dengan tenaga seadanya.


"Uhuukkk..... Uuhukk... Ha...Haa...Haa". Yasmin, semakin melemah.


Faris,yang terus-menerus tertawa terbahak-bahak. Dirinya sudah di kuasai oleh amarah,rasa kasian hilang sirna. Jika tidak bisa memiliki Yasmin,orang lain pun tidak.


Hanafi dan lainnya, mendengar gelak tawa seseorang. Mereka semua, langsung mencari sumber suara tersebut.


"Yasmiiiiinnnn.....". Teriak Hanafi, begitu pak Jamal.

__ADS_1


Mendengar teriakkan, Faris langsung mencegah aksinya dan kabur secepatnya mungkin.


Hanafi,yang berlarian sekuat tenaga. Tidak memperdulikan,rasa sakit di kakinya. Yang lainnya, bergegas untuk menangkap Faris yang kabur.


"Yasmiiiiinnnn.... Yasmiiiiinnnn....Bangun, Yasmin. Aku,mohon jangan tinggalkan aku". Isak tangis Hanafi, memangku istrinya yang tak sadarkan diri.


"Yasmin,bangun nak. Bangun,". Pak Jamal,tak kuasa melihat kondisi anaknya yang tragis.


"Aaaaaaaaa....!!!". Teriak Hanafi, sekuat tenaga. Memeluk erat tubuh istrinya,yang lemah tak berdaya. "Yasmiiiiinnnn....Jangan tinggalkan,mas. Mas mohon, Yasmin. Mas,minta maaf atas segalanya". Ucap Hanafi,derai air matanya mengalir deras. Bertubi-tubi mencium pucuk kepala,sang istri.


Hanafi, langsung menggendong tubuh istrinya. Sepanjang perjalanan,dia menangisi sang istri. Rasa sakit di kakinya, tidak kerasa lagi. Walaupun,darah terus mengalir.


Bapak-bapak lainnya, berhasil menangkap Faris. Sisanya membawa jenazah, Rosella. Hamid, dinyatakan masih hidup.


Yasmin, langsung di larikan ke rumah sakit. Mendengar kabar bahwa, Yasmin sudah di temukan.


Bu Aminah dan lainnya, merasa terharu. Mendengar keadaan Yasmin,bu Aminah langsung syok berat dan pingsan.


*************


Hanafi,marah besar terhadap mereka yang sudah menyakiti istrinya. Di tambah, kehilangan sang buah hati.


"Aaaaaarrghhh....". Teriak Hanafi, mengacak-acak rambutnya yang frustasi. Dia, sudah gagal menjaga istri dan anaknya.


"Aku mohon,jangan tinggalkan aku". Lirih Hanafi,menangis meraung-raung di depan pintu UGD. Tepat sang istri di rawat, berharap ada sebuah keajaiban atas kesembuhan sang istri.


Bu Aminah,tak berdaya melihat kondisi anaknya. Di balik kaca, terlihat Yasmin berbaring lemah dan di penuhi dengan alat di tubuhnya. Bu Aminah, tidak percaya dengan kejadian ini. Apa lagi, kehilangan calon cucunya. sebagai seorang ibu, hidupnya terguncang hebat.


"Pak anak kita,pak... Yasmin,pak". Isak tangisnya bu Aminah,yang di peluk oleh pak Jamal.


"Sabar bu,sabar. Kita doakan, semoga Yasmin bisa melewati masa kritisnya. Kita serahkan, kepada Allah SWT". Pak Jamal, tak kuasa menahan air matanya.


Rizky, menepuk pundak adik iparnya. Mencoba menenangkannya, walaupun tidak ada hasilnya.


"Kenapa,di serahkan kepada pihak berwajib? Aku, ingin sekali membunuhnya bang". Kata Hanafi, menghapus air matanya. "Lihatlah bang, istri ku. Dia, berbaring lemah dan nyawanya sedang di pertaruhkan. Bagaimana nantinya,saat dia siuman? Aku, tidak sanggup mengatakan bahwa....". Hanafi,tak sanggup berkata lagi. "Tidak sanggup,bang". Dia, menggeleng kepalanya.


"Bagaimana lagi,para warga menyeret ke kantor polisi. Itupun kondisi Faris, sangat lemah. seluruh tubuhnya, luka-luka dan bersimbah darah. Abang,belum puas menghajarnya habis-habisan". Rizky, benar-benar marah. Apa lagi, melihat kondisi adiknya yang kritis.

__ADS_1


Sebelum di antar ke kantor polisi, Faris sempat di amuk massa. Begitu juga, Hamid yang sadarkan diri. Bu yahya dan indah, meraung-raung meminta untuk berhenti. Saat para warga, membabi buta memukul Faris dan Hamid.


*************


Hari demi hari berlalu, Yasmin masih tak kunjung sadar.


"Yasmin, bangunlah sayang. Mas dan lainnya, merindukanmu. Maafkan mas, selama ini sudah berbuat jahat kepadamu. Mas, sangat menyesalinya. Bangunlah Yasmin,mas janji akan berubah". Hanafi, mengelus lembut pucuk kepala Yasmin. Dia, menciumnya dengan lembut. Tangannya menggenggam,jemari sang istri. Tak kuasa menahan air matanya,pada akhirnya luruh.


"Bangunlah Yasmin,mas mohon. Mas, sangat merindukan mu sayang". Hanafi, mencium punggung tangan istrinya. Dia, menangis kesegukan meratapi keadaan sang istri.


"Nak Hanafi, Pulanglah dan beristirahat. Biar ibu dan bapak,menjaga Yasmin. Lihatlah dirimu,yang tidak keurus. Makanlah nak,jangan menyiksa diri sendiri". Pinta bu Aminah, sangat memperihatinkan kondisi menantunya.


"Tidak apa,bu. Sudah sewajibnya, Hanafi menjaga Yasmin. Karena Yasmin, istrinya Hanafi". Jawabnya,tak tega meninggalkan sang istri.


"Pulanglah, jangan sampai kamu yang sakit. Berdoalah, semoga Yasmin cepat sadar,". Pak Jamal, membujuk menantunya.


Orangtuanya Yasmin, berusaha membujuk Hanafi. Tiba akhirnya, Hanafi pasrah dan pulang ke rumah.


"Bagaimana pak,kita memberitahu kepada Yasmin? Jika dia, kehilangan anaknya. ibu, tidak sanggup pak". Bu Aminah, menangis kesegukan. Apa lagi, melihat tubuh anaknya. Penuh dengan luka-luka dan membiru. Wajahnya, sedikit bengkak karena tamparan.


**************


Hanafi, melangkah gontai menuju ke rumahnya. Banyak para tetangga, menanyakan keadaan Yasmin. Lagi-lagi para tetangga, mendapatkan kabar sedih.


Mereka semua, mendoakan Yasmin. Semoga cepat sadar dan bisa beraktivitas seperti biasanya.


Lela, merasa iba kepada Hanafi. Begitu cinta kah,pak kades dengan Yasmin. Ada rasa bersalah kepada Yasmin,yang sempat mencari keributan dengannya.


Para warga lainnya, mencoba memberikan semangat kepada Hanafi. Berharap semuanya, cepat berlalu. Yasmin, bisa melewati masa kritis dan kembali ke rumah.


Saat Hanafi,masuk kedalam rumah. Dia, teringat masa-masa bersama sang istri. Seringkali membuat keributan, marah-marah dan membentak istrinya.


Tiba membuka pintu kamar, teringat dengan Yasmin. Dimana, mereka berdua bermain di atas ranjang. Tak segan-segan, Hanafi melakukannya dengan kasar.


"Maafkan aku, Yasmin. Maaf,". Lirih Hanafi, tersandar di pinggir ranjang. Lagi-lagi dia, menangis kesegukan. "Kembalilah Yasmin,aku siap menerima caci maki mu. Apapun itu, asalkan kita bersama-sama seperti dulu".


"Aaaaakkkhh....". Teriak Hanafi, mengusap wajahnya ke belakang. Dia, sangat merindukan sesosok Yasmin.

__ADS_1


__ADS_2