
Yasmin, calingukan melihat sekeliling. Dia, sudah berada di rumah sang suami. Sangat rapi dan bersih, beberapa perabotan rumah tangga dan lainnya. Lumayan luas dan besar,rumah Hanafi. Ini adalah pertama kalinya, Yasmin menginjakkan kakinya di rumah sang suami
Hanafi, langsung membawa Yasmin ke rumahnya. Dengan berat hati, Yasmin mengikuti perkataan suaminya. Apa lagi kedua orangtuanya, mengijinkan Hanafi membawa dirinya.
"Kamarnya ada berapa,mas?". Tanya Yasmin, langsung. Semoga saja,kami pisah kamar. Agar aku leluasa, santai-santai.
"Ada dua, kenapa?". Hanafi, mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan istrinya itu. Ck,jangan harap kamu ingin pisah kamar Yasmin.
"Ayo, kita pisah kamar. Mas, menikahi ku cuman balas dendam kan? Tidak menjalin hubungan rumah tangga,pada umumnya". Yasmin, mencoba menghindari suaminya. Huuuff....Sabar Yasmin,yang jelas kamu aman sekarang. Beruntung mas Hanafi, benar-benar menikahi. Hampir mati aku, memikirkannya. Bagaimana,jika mas Hanafi tidak ada.
"Jangan bodoh Yasmin, walaupun aku menikahi mu. cuman balas dendam,saja. Kita tetap satu kamar dan satu ranjang. Asal kamu tau,kamar satunya tempat Widya. Jangan sampai,aku memberitahu kepada orangtuamu". Kata Hanafi, tersenyum smrik. Hahahaha....Aku bisa mengancam mu,atas nama orangtuamu Yasmin. Agar kamu, tidak bisa berkutik lagi.
Yasmin, memandang wajah suaminya. "Mas,aku pusing dengan sikap mu. Mau kamu,apa?".
Hanafi, tersenyum smrik. Dia, menatap tajam ke arah Yasmin. "Bawa masuk pakaian mu, simpan di lemari berwarna biru". Lagi-lagi Hanafi, tidak menjawab pertanyaan Yasmin.
Dengan langkah berat, Yasmin masuk kedalam kamar Hanafi.
Yasmin, begitu takjub dengan isi kamarnya. Matanya, tertuju pada tempat tidur. Dimana dia,akan 1 ranjang dengan suaminya.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Yasmin membereskan semua pakaian dan memasukkan ke dalam lemari. Sedari tadi, Hanafi diam-diam memperhatikan gerak-gerik sang istri.
Sabar Yasmin, ikut cara mainnya. Biarkanlah,dia semena-menanya. Jika bisa,lawan dia jangan kalah. Batin Yasmin, menghela nafas panjang.
************
Malam hari pun tiba, Widya membeli makanan di luar. Dia, sudah menyiapkan di meja makan. Tak lupa Yasmin, membantu adik iparnya itu.
"Makasih, Widya". Kata Yasmin, tersenyum.
"Sama-sama,maaf atas perkataan ku Waktu itu. Bukan maksudku, menyakiti perasaan Mbak". Widya, merasa tak nyaman dengan kakak iparnya.
__ADS_1
Mereka bertiga menyantap makan malam bersama. Tanpa ada pembicaraan,hanya ada lantunan suara sendok makan.
"Mbak,kerja apa?". Tanya Widya, memecahkan keheningan.
"Mbak, mengajar Widya. Di sekolah SMA, tidak jauh dari sini". Jawab Yasmin, rupanya Yasmin membeli nasi goreng.
Widya, mengangguk kepala. Melanjutkan makannya, memasukkan 1 sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Berhentilah bekerja, Yasmin. Aku, sanggup menghidupi dirimu". Perintah Hanafi, membuat nafsu makan Yasmin hilang. Apa-apa dia, bekerja. Mau taruh dimana, wajahku. Emangnya,aku tidak sanggup membiayai kehidupannya dan membeli apapun yang di butuhkan nya.
"Mas,kita menikah karena kamu balas dendam. Untuk urusan pribadi ku,jangan ikut campur. Termasuk aku, tidak akan pernah ikut campur dalam urusan mas". Tegas Yasmin,dia sudah selesai makannya. Astaga, apakah setiap hari? Aku, menguras emosi kepada suamiku sendiri.
"Aku ini suamimu, Yasmin. Harus patuh dengan perintah ku,mau jadi istri durhaka ha". Bentak Hanafi, mencekal lengan Yasmin. Hebat sekali,dia membantah perkataan ku. Dimana,letak harga diri sebagai kepala rumah tangga ini.
Yasmin, menghempaskan cekalan tangan sang suami. Dia, menyunggingkan senyumnya. "Suami yang mana,yang harus aku patuhi mas? Jika mas, memperlakukan aku seperti ini. Jangan harap,aku patuh dengan perintah mu". Ck,iblis pun tertawa mendengar ucapan mas.
"Yasmiiiinn...!! Bisa tidak kamu,jangan membantah perkataan ku ha?". Hanafi, berusaha mengontrol dirinya. Aaarghhh.... Sabar Hanafi,ada Widya tengah memperhatikan kalian.
"Tenang saja,mas. Aku, seperti istri yang lainnya. Selalu, mengutamakan suami dan menjalankan kewajiban sebagai istri. Satu yang aku pinta,jangan pernah melarang ku melakukan apapun. Termasuk,jangan menyuruhku berhenti bekerja". Ucap Yasmin, berlalu meninggalkan dapur.
Hanafi, menyusul Yasmin ke dalam kamar. Rupanya Yasmin, tengah duduk santai di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.
Melihat sang suami,masuk. Yasmin, meletakkan ponselnya di meja. "Mas,bisa tidak jangan bertengkar di hadapan Widya. Kasian dia mas,jangan sampai terpengaruh oleh kita. Tidak baik, bertengkar di hadapannya".
"Baiklah, aku turuti. Asalkan,kamu jangan memancing emosiku". Kali ini, Hanafi mengalah. Apa yang di katakan Yasmin,memang benar.
"Iya,aku tidak akan memancing emosi. Asalkan, mas jaga omongannya". Gerutu Yasmin, mengambil ponselnya. Ada pesan masuk, dari guru-guru dan temannya.
Jiwa penasaran Hanafi, tengah berkobar-kobar. Dengan siapa, Yasmin saling berkirim pesan. Ada senyuman manis, di sudut bibir Yasmin.
Emosinya Hanafi, semakin tinggi. Karena Yasmin, mengabaikan dirinya.
__ADS_1
"Sudah malam, waktunya tidur Yasmin. letakkan ponsel mu,di meja atau aku rampas ponselmu itu". Tegas Hanafi,, dengan tatapan tajam.
"Mas, terserah aku dong. Lebih baik,kamu tidur duluan gih. Gak usah, sok perhatian mas. Bukankah,kamu tidak menginginkan aku ha? Tidak sudi bersama ku, gampang aku bisa tidur dimana pun. Jika aku, mengganggu mu". Jawab Yasmin, dengan wajah masam.
"Yasmin,jangan mencari masalah dengan ku. Apa kamu lupa,ha? Jika aku ini, suamimu. Patuhi perintah suami,yasmin". Kata Hanafi, mendelik ke arah istrinya.
Yasmin, memutarkan bola matanya memelas. Dia, meletakkan ponselnya di meja. Lalu, menyelimuti tubuhnya. Tanpa ba-bi-bu lagi, matanya terpejam rapat.
***********
"Mencium punggung tangan suami,yang benar Yasmin". Kata Hanafi, menegur suaminya.
Mereka berdua, selesai sholat subuh berjamaah.
"Hemmm....". Jawab Yasmin, seakan-akan tidak ikhlas.
"Yang ikhlas, Yasmin. Mau,sholat mu tidak terima oleh Allah SWT". Hanafi, menegur istrinya lagi.
"Astagfirullah,mas. Bisa tidak jangan, terlalu berisik. Heran deh,suka sekali mencari masalah". Gerutu Yasmin, melepaskan mukena.
"Mulai saat ini,keluar rumah di biasakan memakai jilbab Yasmin. Wajib menutupi aurat,apa lagi kamu istri kepala desa di kampung ini". Tegas Hanafi, menaruh peci di tempatnya.
"Insyaallah,kalau gak lupa". Jawab Yasmin, menahan tawanya.
"Astagfirullah,itu wajib Yasmin. Masa kamu lupa, turuti perkataan ku". Hanafi, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sudah aku bilang,mas. Jangan mengatur segalanya,aku bisa kok. Mana yang baik dan enggaknya". Gerutu Yasmin, dengan wajah cemberut.
"Yasmin,kamu itu istriku. Cuman aku,yang pantas melihat aurat mu. Kamu pahamkan,masa itu saja tidak paham". Tegas Hanafi, langsing. "Ambillah kartu ATM ini, untuk membayar kebutuhan mu. Belilah pakaian yang tertutup, Yasmin".
"Tidak perlu,mas. Aku,punya uang sendiri". Tolak Yasmin, langsung.
__ADS_1
"Yasmin, turuti perkataan ku. Atau...".
"Iya,bawel banget sih! Kaya emak Ijah,sok rempong". Yasmin, memotong perkataan suaminya dan mengambil kartu ATM. Yang di berikan oleh Hanafi, itulah nafkah untuknya.