
Mata Hanafi, tertuju kepada seorang wanita yang di kenalnya. Mulai mendekati wanita itu, dengan tatapan tajam.
"Aina, sekertaris desa yang baru". Aina, mengulurkan tangannya untuk berjabatan.
Hanafi, menyambut uluran tangannya dan mengangguk kepala. Bahkan Hanafi, tidak menduga jika Aina mengganti posisi Wina.
"Saya sudah membaca riwayat pengalamannya bekerja,pak kades. Sangat pas untuk menjadi sekertaris desa, membantu Anda". Kata pak Warto, tersenyum.
"Hmmmm...Antarkan saja,ke ruang kerjanya". Perintah Hanafi,mulai malas masuk ke kantor kepala desa. Ada perasaan aneh, melihat senyum smrik Aina.
Hanafi,tengah sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba Aina,nyolong masuk kedalam dan tersenyum.
"Hanafi,ayo kita makan siang bersama. Kita sudah lama loh, tidak makan berduaan. Dulu, seringkali berduaan. Bagaimana keadaan Yasmin? Bolehkah aku, bertemu dengannya dan meminta maaf". Ucap Aina,duduk santai di hadapan Hanafi. Cuman berhalat meja kerjanya.
"Makanlah dulu,aku sibuk. Soal Yasmin, tidak perlu menemuinya". Tegas Hanafi,masih fokus dengan pekerjaannya.
"Jahat sekali, aku sahabat mu loh. Sama dengan Yasmin,kita bertiga teman dekat. Aku ke sini jauh-jauh ke desa,cuman ingin dekat dengan kalian. Hanya kalian yang aku punya, tempat tinggal juga tidak ada". Gerutu Aina, dengan wajah cemberut.
"Aina,kita sudah berbeda dan tidak seperti dulu lagi. Aku memiliki istri,menjaga perasaannya. Walaupun kita teman dekat, begitu juga dengan Yasmin. Tetapi,aku kecewa dengan mu. Pernah membohongi ku,tentang ibumu". Hanafi, menatap tajam ke arah Aina.
"Soal itu,aku minta maaf. Aku salah Hanafi,apa kamu tidak Kasian kepada ku ha? Yang tidak memiliki siapapun,". Aina,mulai memasang wajah sedihnya.
"Kau sudah dewasa,cerdas,tau yang benar dan salah. Jadi, untuk apa aku perduli?Ck,". Decak Hanafi.
Karena mendapatkan penolakan terhadap Hanafi,dia langsung berpikir dengan cara lain. Aina, bergegas keluar dari ruang kerja pak kades.
Hanafi, menghela nafas lega karena Aina sudah berlalu pergi dari hadapannya.
__ADS_1
****************
Sore harinya Yasmin, tengah memasak. Jam dinding menunjukkan pukul 4 sore,sang suami belum pulang dari kebun sawit.
"Assalamualaikum... Assalamualaikum, Yasmiiiiinnnn...". Ucap seseorang di ambang pintu, bergegas Yasmin keluar dan tak lupa mematikan kompor.
"Wa'alaikum salam,mencari siapa...". Lirih pelan Yasmin, terkejut dengan kedatangan Aina. Jujur saja,dia merindukan sesosok sahabatnya ini. Tetapi, mengingat kebusukannya. Langsung berubah ekspresi wajahnya terlihat, masam.
Aina, terkejut melihat perut temannya sudah besar. Senyumnya memudar seketika, tangannya mengepal erat. "Yasmin,aku kangen". Aina, langsung memeluk tubuh temannya dan mencairkan suasana canggung.
"Ngapain kamu ke sini? Apa ada sesuatu dengan suamiku,". Kata Yasmin, langsung hilang moodnya.
"Yasmin, ayolah jangan marah kepada ku. Maafkan aku yah,selama ini sudah berbuat tidak baik kepadamu. Kau tahu,aku mulai bekerja di kantor kepala desa. Aku ke sini jauh-jauh,demi kamu Yasmin. Maafkan aku,plisss...". Rengeknya Aina, seperti biasanya.
Mata Yasmin, tertuju sebuah koper di ambang pintu. Sudah pasti Aina, ingin tinggal di rumah ini. "Oh,". Yasmin, tersenyum kecil.
"Aku tengah hamil, Aina. Aku tidak suka ada orang lain, tepatnya di rumah ini. Silahkan ke sana,ada rumah yang di sewakan. Coba kamu tanyakan saja,aku sudah tau rencana mu". Yasmin, langsung melepaskan tangan Aina yang menggenggam tangannya.
"Iiissshhh.... Menyebalkan sekali, aku tahu kamu masih marah kepadaku. Tenang saja, aku berusaha keras untuk meluluhkan hati mu, seperti dulu. Terimakasih, Yasmin. Aku ke sana dulu, lumayan lah dekat dengan tempat tinggal mu". Aina, langsung beranjak pergi dan membalikkan badannya. Ada senyuman licik,di sudut bibirnya.
Yasmin,masih tidak percaya dengan perubahan Aina. Ada sesuatu yang tidak beres, pasti akal-akalan saja untuk mendekati Hanafi.
Tak berselang lama, Hanafi pulang dari kerja dan mendekati istrinya yang duduk santai.
"Mas,kenapa kamu tidak bilang kepadaku? Jika Aina, bekerja di kantor kepala desa". Tanya Yasmin, melirik ke arah suaminya.
"Aku juga tidak tahu,sayang. Yang mengurusnya bukan aku,maaf. Tadi aku terkejut siapa pengganti Wina, ternyata Aina. Loh, kenapa kamu tahu?". Hanafi, terkejut karena sang istri mengetahui kedatangan Aina.
__ADS_1
"Dia ke sini mas, mau tinggal di sini pula. Untungnya aku langsung berkata, tidak menerima orang tinggal di sini". Jawab Yasmin, dengan nada tingginya.
"Sayang,jangan marah yah. Gak baik loh,sama anak kita". Hanafi, membujuk istrinya dan ingin mencium. Lagi-lagi Yasmin, menghindari ciuman dari suaminya. "Kamu tidak apa-apa kan,kalu kenapa-kenapa bilang saja. Biar aku memberikan pelajaran kepadanya,".
Yasmin, menepis tangan suaminya ketika ingin membelai lembut pipi mulusnya. "Gak kenapa-kenapa kok,cuman ada sesuatu yang tidak beres".
"Yasmin,aku dan Aina teman dekat itu dulu. Tidak sekarang sayang, untuk apa memikirkan wanita lain. Sedangkan aku, memiliki istri dan mengandung anak ku". Hanafi, tersenyum dan bermanja-manja dengan istrinya
"Kenapa harus wanita,yang menjadi sekertaris desa. Kalian lebih sering berduaan loh, kemana-mana selalu berdua". Istri mana yang tidak cemburu, melihat suaminya sendiri bersama dengan wanita lain. Walaupun sebatas teman dekat,atau teman kerja. "Kalian pernah dekat loh,mas." Isak tangisnya Yasmin, akhir-akhir ini sangat sensitif terhadapnya. Tidak ada badai,hujan, ribut, Yasmin bisa menangis kesegukan sendirinya.
Kata orang biasa karena bawaan hamil, moodnya berubah-ubah. Sebagai suaminya, harus waspada terhadap mood sang istri.
Hanafi, mengusap wajahnya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sayang,aku tidak bermain-main dengan wanita lain. Cuman kamu,yang aku cintai".
"Bohong, semua pria selalu berkata seperti itu. Seiring waktunya berjalan, selalu bersama. Sudah pasti ada benih-benih cinta,". Bentak Yasmin,air matanya mengalir deras.
"Cup...Cup....Sini sayangku,peluk mas. Maafkan aku, sudah membuat mu cemburu dan menangis seperti ini. Jangan meragukan cinta ku, Yasmin. Aku bukan tipe pria seperti itu,karena aku selalu menjaga perasaanmu". Hanafi, mengecup kening istrinya.
"Tidak percaya sepenuhnya, pasti ada sesuatu yang tidak baik nantinya. Apa lagi kalian teman dekat, pastilah terjadi". Kata Yasmin, tangisnya menjadi-jadi.
"Allahuakbar, sayangku, istriku,jangan berpikir aneh-aneh. Cup....Cup... Sini peluk mas,jangan menghindarinya. Yasmin,jangan merajuk karena masalah ini. Namanya pekerjaan,harus bagaimana lagi? Ayolah,pahami posisi suamimu". Hanafi, benar-benar kebingungan dengan sikap istrinya.
"Jangan sentuh aku,mas. Aku tidak mau, sana". Bentak Yasmin, menepis tangan suaminya. "Jangan peluk aku mas,atau aku pulang kerumah orangtuaku". Teriaknya lagi, sontak membuat Hanafi terkejut dan diam.
"Yasmin,". Lirih Hanafi, berusaha untuk menenangkan istrinya.
Yasmin, berlalu pergi ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Hanafi, terduduk lemas dan bersandar di sofa. Mengusap wajah dengan kasar, semenjak kehamilan istrinya mulai besar. Di situlah Yasmin, seringkali merajuk. Walaupun masalah sepele, sangat mudah menangis-nangis.
__ADS_1