Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Berubah


__ADS_3

"Tempat tinggal mu lumayan, Faris. Ibu,betah berlama-lama tinggal di sini. Apa lagi,gratis". Ucap bu Yahya, memasuki tempat tinggal Faris.


Faris, memboyong keluarganya kamp sawit. Yang tersedia untuk,pekerja. Di tambah lagi, dengan perabotan yang lengkap.


"Benar sekali, bahkan tempat tidur dan lengkap dengan perabotannya". Sambung Indah, tersenyum. Enak sekali,aku bisa leluasa santai-santai.


"Iya,bu,mbak. Ini khusus di sediakan, oleh perusahaan. Biar para karyawan pekerja sawit, mendapatkan tempat tinggal yang nyaman". Jawab Faris, melirik ke arah Hamid. "Oh,yah. Bang Hamid,mulai besok ikut Faris. Siapa tahu,ada lowongan pekerjaan bang. Lumayan gajihnya 3 juta, perbulan. Biar sama-sama enak dan membantu perekonomian keluarga ini. Gak mau,cuman Faris yang bertanggung jawab semuanya". Enak saja,kalian menikmati jerih payahku. Sekarang sudah waktunya,aku mengambil hati ibu. Kalian akan di caci maki, oleh ibu.


"Ogah,kerja sawit capek. Mendingan cari pekerjaan lain,atau aku minjam uang sama kamu.Buat modal usaha,". Tolak Hamid, membuat Faris geram. Idihhhh....Sok belagu, nyuruh-nyuruh aku kerja di sawitan. Belum lagi, nyamuk dan lainnya.


"Ya sudah,bang Hamid keluar dari sini. Tidak sudi, menampung orang yang pengangguran". Tegas Faris, menatap tajam. "Cukup! Tidak ada yang perlu di bantah, terutama ibu dan Mbak. Jangan coba-coba, membentak keras. Faris, sudah cukup mengalah selama. Terutama ibu, selalu membela Abang dan Mbak indah".


"Faris, jangan kurang ajar kamu ha". Bentak Hamid,siap menerkam mangsanya. Sombong sekali kamu, Faris. Sudah berani, merendahkan harga diri ku


"Kenapa,bang? Aku, tidak bisa diam saja. Atas perlakuan kalian, semua gara-gara kalian. Aku, kehilangan istri". Bentak Faris. Hahahaha.... Mampus kalian, berdua.Kalian mau tidak mau,harus tunduk kepada ku.


"Sudah-sudah,jangan bikin keributan. Hamid, turuti perkataan adikmu. Selama ini, pengangguran tidak jelas. Terutama kamu,indah". Bu yahya,kali ini membela anaknya Faris. Mendingan sama Faris,aku bisa menikmati gajihnya nanti. Daripada mereka, yang pengangguran. Sudah cukup aku, membiarkan kelakuan mereka.


"Iiissshhh.... Kenapa,ibu malah membela dia? Tumben sekali,apa ibu takut di usir ha". Kata indah, menunjukkan jarinya ke arah Faris. Huuu....Awas kamu, Faris. Lihatlah,aku akan balas dendam.


"Jelaslah,ibu memilih Faris. Karena dia, sudah memberikan tempat tinggal. Tidak seperti kalian, luntang-lantung kemana-mana yang tidak jelas. Faris, ajak Mbak mu juga. Biar dia tahu, bagaimana cari uang? Pokoknya,ibu capek mengurus mereka". Pinta bu Yahya, kepada Faris. Lumayanlah, mereka bekerja dan aku menikmati uang mereka. Tanpa capek-capek bekerja, bagaimana aku membujuk Yasmin balikan dengan Faris. Gak sabaran,jadi orang kaya mendadak.


"Baiklah,ibu di rumah dan memasak untuk kami". Faris, tersenyum sumringah ke arah kakaknya. "Kalau tidak mau, silahkan kalian angkat kaki dari rumah ini. Aku, senang sekali jika kalian pergi. Karena tidak menambah beban dan tanggung jawab ku".


Hamid dan indah, terpaksa menuruti perkataan Faris.Apa lagi, mereka tidak memiliki apapun.

__ADS_1


"Senang yah,kamu di bela ibu". Hardik Hamid, menyenggol lengan Faris.


"Maafkan, sifat ibu nak. Ibu,salah paham kepadamu. Selama ini, pilih kasih dalam menyayangi anak-anak ibu". Bu Yahya, menepuk pundak Faris. Tidak apa,aku mengalah saja. Demi uang dan uang.


"Gak papa,bu. Faris,paham kok". Faris, mendapatkan pelukan hangat dari ibunya. Entah, berapa lama dia tidak merasakan pelukan dari sesosok ibu.


Hamid dan indah, menatap benci dengan Faris. Dia, menjadi kebanggaan ibu mereka.


"Ibu kira,kamu balikan dengan Yasmin. Nyatanya, tidak". Kata bu Yahya, memandang ke arah Faris.


"Tidak,bu. Malah, Yasmin di jodohkan dengan kades di desa ini. Dia, mengikuti perintah orangtuanya. Mana mungkin, Yasmin mau balikan sama Faris. Apa lagi, kejadian itu". Faris, tertunduk sedih.


"Kades? Maksud mu,kepala desa di sini". Tanya Indah, langsung di angguki Faris. "Ck, rupanya Yasmin matre juga. Bagaimana,jika aku mengusik ketenangan Yasmin? Siapa tahu,kades malah berpaling kepada ku". Indah, memiliki ide.


"Serahkan, kepada mbakmu. Besok temui Mbak,sama kades itu". Pinta indah, tersenyum smrik.


"Gampang mbak, masalah itu. Namanya, Hanafi. Biasanya, jam 2 siang ada di kebun sawit. Karena dia,salah satu mandor di sana". Faris, bersemangat untuk menggagalkan pernikahan mantan istrinya itu. Faris, merasa senang karena kakaknya ingin menggagalkan pernikahan Yasmin.


"Apa? Astaga,dia seorang pak kades dan sekaligus mandor di kebun sawit. Pastilah,dia memiliki banyak uang". Mata indah', berbinar seketika.


"Bagus itu,biar pernikahan Yasmin gagal. Ibu,setuju dengan ide kalian". Sahut bu Yahya, selalu mendukung jika masalah uang.


"Besok aku,ikut. Siapa tahu,aku bakalan jadi mandor. Lumayan, tidak capek-capek dan tinggal suruh-suruh yang lain saja". Kata Hamid, langsung.


"Jangan mengada-ada, bang. Jadi mandor, tidak mudah. Abang,harus mulai dari bawah dulu". Faris,kesal kepada Kakaknya. Dia, sangat takut. Jika Hamid,malah jadi mandor

__ADS_1


"Ckckck....Bilang saja,kamu irikan Faris". Hamid, menyunggingkan senyumnya. Jelaslah,iri dengan ku. Apa lagi, sekolah ku lebih tinggi dibandingkan dengan mu Faris. Baru memiliki pekerjaan, sudah sok belagu.


"Faris,jika kakakmu jadi mandor. Dia, bisa menyuruhmu mengerjakan tugas yang enak-enak". Bu Yahya, menengahi keributan anaknya.


"Nah,benar kata ibu. Seharusnya,kamu bersyukur Faris. Semoga saja,kita jauh lebih kaya daripada mantan mertuamu. Kita,bisa mengejek-ejek keluarga Yasmin". Hamid, memendam rasa bencinya.


Faris,menghela nafas panjang. "Asalkan,jangan seperti kacang. Yang lupa pada kulitnya,".


"Terus,kapan Yasmin akan menikah? Masih lamakan". Tanya indah, penasaran.


"Hmmm...Kata orang lain,tinggal 5 hari lagi Mbak". Jawab Faris, tertunduk sedih.


"Apa? 5 hari lagi,itu waktu yang sangat sempit Faris. Mana mungkin,berhasil". Indah, menepuk keningnya saat mendengar ucapan Faris.


"Dasar ceroboh kamu, Faris. Kenapa, tidak memberitahu dari awal. Pastilah,indah bertindak sejak dulu. Sekarang,apa? Malah terlambat kan, kebiasaan kamu itu lelet". Hamid,geram kepada adiknya. Bahkan,dia menunjuk-nunjuk jarinya ke wajah Faris.


"Biasalah,anak ibu satu ini. Memang selalu, ceroboh. Dalam urusan apapun,enek jadinya". Gerutu Indah, mencibir bibirnya.


"Huusssstttt...Diam! Jangan menyalahkan Faris. Daripada kalian,mana membuat ibu bahagia. Yang ada tambah menderita,". Bentak bu Yahya, menatap tajam ke arah anak-anaknya. "Selalu saja, menambah beban. Asalkan kamu tau, Faris? Abangmu ini, memiliki hutang di rentenir. Sebesar 50 juta,makanya kami kabur ke sini. Ibu, sangat takut Faris. Jika rentenir itu,mencari kami sampai ke sini".


"Ngapain takut,bu. Ada Faris,dia bisa melunasi hutang-hutangku dan bunganya". Sahut Hamid, tersenyum smrik.


Faris, menyunggingkan senyumnya. "Hahahaha....Kau kira,aku mau bang. Tidak akan bang, terserah abang mau di apakan rentenir". Jawabnya, dengan tegas.


"Alahhh...Nantikan kamu kerja, Hamid. Tinggal di cicil,apa susahnya. Jangan membebani adikmu". lagi-lagi bu Yahya, membela Faris. Hamid, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tentunya, Faris tersenyum sumringah atas kemenangannya.

__ADS_1


__ADS_2