
"Apa semuanya sudah,beres? Takutnya ada yang ketinggalan". Tanya Hanafi,membawa barang-barang milik istrinya.
Sudah 3 hari berlalu, Hanafi menjemput istrinya untuk pulang ke desa.Ada rasa senang di hatinya,karena sang istri kembali ke pelukannya.
Selama 3 hari ini, Yasmin tidak mendapatkan kabar dari Aina. Hatinya terasa gelisah, segitunya kah Aina marah kepadanya?pesan dari Yasmin,tak kunjung di balas. Bahkan rumah Aina, kosong. Saat Yasmin, ingin menemuinya.
"Yasmin,ada apa? Sedari calingukan,ayo masuk". Ajak Hanafi, membukakan pintu mobil.
"Eeee...Gak papa,mas." Jawab Yasmin, tersenyum. Berharap kamu ada, Aina. Kenapa kamu menjauhiku?.
"Loh, kenapa gak jalan? Nanti keburu malam,mas" Tanya Yasmin, keheranan.
"Hmmm...Dari tadi,kamu kaya memikirkan sesuatu. Ada apa,hemmm? Katakan kepadaku,jangan di simpan. Cerita semuanya kepada,mas." Hanafi,mulai menancapkan gas mobilnya.
"Mas,kamu tidak cerita kepada ku. Bahwa kamu, berteman dengan Aina" kata Yasmin, sebenarnya dia ragu untuk bertanya.
"Oh,mas lupa menceritakan tentang Aina. Iya,dulu kami tetanggaan di desa bapak. Sebelum pindah ke desa,ibu. Gak taunya kami 1 kampus dengan,Aina. Sudah lama kami, kehilangan komunikasi. Waktu itu,aku ingin melihat keadaan mu. Walaupun dari kejauhan,karena aku paham sekali. Sudah pasti,kamu akan mengusirku. Gak nyangka juga,aku bertemu dengannya. Kesempatan untuk menanyakan kabarmu, melaluinya,". Jelas Hanafi, menggenggam jemari tangan istrinya. Tak lupa mengecupnya, membuat Yasmin tersipu malu-malu.
"Lalu, apakah ada rasa cinta kepada Aina? Maksudnya, dulu mas". Kekehnya Yasmin, mengulum senyumnya. Yasmin, ingin mengungkit-ungkit perasaan suaminya kepada Aina.
"Tidak ada, bahkan cinta pertamaku cuman kamu". Jawab Hanafi, lagi-lagi mengecup punggung tangan Yasmin. Loh,kenapa Yasmin bertanya tentang Aina? Apakah ada sesuatu, yang tidak aku ketahui. Sudah beberapa kali juga, Aina tidak mengirim pesan kepada ku.
Ada desiran hangat di hati, Yasmin. Bersandar di bahu, suaminya. Matanya tertuju ke depan, menikmati perjalanan pulang ke desa.
"Mas, Aina marah kepadaku." Keluarlah kata-kata dari mulutnya, membuat Hanafi mengerutkan keningnya.
"Eee...Marah kenapa,sayang" Bisik Hanafi, kedua pipi Yasmin merah merona. "Kenapa malu,hemmm..Jadi gemes,mas lihatnya."
Yasmin, mengubah posisi duduknya. Agar lebih enak, untuk menceritakan semuanya.
Hanafi, manggut-manggut mendengar cerita sang istri. Dia tidak fokus dengan cerita, Yasmin. Malah fokus dengan wajah istrinya,mobil berhenti karena lampu merah.
Ini adalah kesempatan, untuk mengecup bibir Yasmin.
Sontak sang empunya, mematung seketika. Saat Hanafi, mendaratkan bibirnya.
Hanafi, tersenyum sumringah karena sedari tadi sudah gemes.
"Kamu apa-apa,sih? Sembarangan main kecup,aja". Yasmin, memukul pangkal paha suaminya.
__ADS_1
"Mas sudah gak tahan, lihat bibirmu komat-kamit dari tadi". Kekehnya Hanafi, mengelus lembut rambut istrinya.
"Jadi tadi,gak dengarin aku cerita". Sungutnya Yasmin, mencibik bibirnya ke depan.
"Nah, mancing-mancing mas. Bibirmu di kondisi kan, sayang. Jangan sampai setir mobil ini,malah menuju hotel. Apa kata orangtuamu,kita tak kunjung datang" kekehnya Hanafi, mendapatkan cubitan dari Yasmin.
"Ck, mesum, menyebalkan" Gerutunya Yasmin, memalingkan wajahnya.
"Mesum-mesum seperti ini,kamu suka kan. Buktinya saja,kamu tidak menolak ajakan ku untuk....".
"Mas, cepat jalan. Tuh, sudah lampu hijau". Tegur Yasmin, memotong perkataan suaminya. "Iiissshhh...Gak nyangka aja,kepala desa mesum".
"Gak papa mesum, asalkan sama istri". Sahut Hanafi, mencubit pipi istrinya.
Beberapa detik,hening seketika. Tidak ada pembicaraan antara mereka,fokus ke depan.
"Yasmin," kata Hanafi, mengelus-elus punggung istrinya.
"Apa,mas?". Jawab Yasmin, bersandar di bahu suaminya.
"Ke hotel,yuk!". Ajak Hanafi, tersenyum kecil.
"Unboxing lah, ngapain lgi". Jawab Hanafi, cengir kuda.
"Ck,mesum." Gerutu Yasmin,mencibik bibirnya. Astaga, suamiku benar-benar mesum
"Hahahaha... Hahaha...". Hanafi, tertawa terbahak-bahak melihat wajah istrinya cemberut.
"Jangan ketawa mulu,mas. Jawab ceritaku tadi," Yasmin, menghentikan gelak tawa suaminya.
"Masalah itu,mas tidak tahu. Karena aku, tidak pernah jatuh cinta dengan Aina. Dari dulu dan sekarang, aku menganggapnya sebagai teman. Tak lebih,sayang." Jawab Hanafi, tersenyum sumringah. "Kalau dia,marah kepada mu. Karena kita bersama-sama lagi,terserah Aina saja. Yang penting kita gak salah,sayang. Apa yang di lakukannya,malah salah. Masa mau memisahkan antara kita, sepasang suami-isteri dan saling mencintai".
"Tapi,mas...Aku merasa tak nyaman, dengan Aina. Apa lagi sekarang dia,marah kepada ku". Yasmin, tertunduk sedih.
"Sudah-sudah jangan memikirkan hal itu, pikiran kondisi kamu sayang. Karena kamu,belum sepenuhnya pulih". Hanafi, merangkul pundak istrinya.
"Aku gak bisa tenang, mas. Aina, teman dekatku sejak lama". Kata Yasmin,air matanya luruh sudah.
"Cup....Cup... Jangan nangis,sayang. Nanti mas coba membicarakan tentang ini,kepada Aina". Hanafi, membujuk Yasmin.
__ADS_1
"Aku ikut yah,mas". Cicitnya Yasmin, langsung di angguki oleh Hanafi.
Beberapa menit kemudian, Yasmin terlelap dalam tidurnya. Hanafi, tersenyum merekah. bertubi-tubi memberikan kecupan di kening,sang istri.
**************
Pak Jamal dan bu Aminah, menyambut hangat kedatangan anaknya.
"Bapak,ibu,". Yasmin, berhamburan ke pelukan orangtuanya.
Pak Jamal dan bu Aminah,tak kuasa menahan air mata mereka. Begitu juga dengan Yasmin, begitu terharu.
Cukup lama mereka, menumpahkan rasa kesedihan.
"Terimakasih, nak Hanafi. Kamu sudah membawa Yasmin, begitu juga dengan rumah tangga kalian. Bapak, benar-benar berhutang kepada mu". Kata pak Jamal, menepuk pundak menantunya.
"Alhamdulillah,pak. Ini semua berkat Yasmin, memberikan kesempatan kepada Hanafi. Jika tidak, Hanafi merasa bersalah seumur hidup". Jawab Hanafi, memandang istrinya tersenyum. Ketika Yasmin, menggendong keponakannya.
Pak Jamal dan Hanafi, bergabung dengan lainnya. ikut berbaur dengan istri dan anaknya,ada canda tawa bersama.
***********
Mendengar kepulangan Yasmin,apa lagi rumah tangganya baik-baik saja. Bu yahya dan indah, langsung murka.
"Indah...! Indah...!". Teriak juragan Tono,mencari istri keduanya itu.
Mendengar sang suami memanggil, indah langsung tergesa-gesa keluar dari kamar.
"Ada apa,mas?". Tanya Indah,raut wajahnya terlihat ketakutan. Semenjak kejadian itu, Indah seringkali di perlakukan kasar.
Apa lagi istri tua juragan Tono, sudah sembuh dari sakitnya. Bagaikan neraka untuk Indah dan ibunya,di perlakukan seperti babu.
"Ayo,mas! Sesuai kesepakatan kita,jika kau sembuh dari penyakit ini. Kamu akan menceraikan,pelakor itu". Tegas seorang wanita, duduk santai di sofa. Siapa lagi,kalau istri pertama juragan Tono. Separuh harta kekayaan miliknya, milik sang istri pertama.
"Mas,jangan talak aku. Aku mohon mas,kasian nih lah". Pinta Indah, bersimpuh di kaki juragan Tono.
"Mulai detik ini,aku talak kamu. Kita bukan suami-istri lagi,indah". Juragan Tono, menjatuhkan talaknya. Lalu menendang kaki yang di pegang oleh, indah. Membuat indah, terjungkal ke belakang.
"Ck,kalian itu cuman benalu. Bikin malu keluarga Tono,". Decak istri pertama, juragan Tono.Bu yahya, langsung menghampiri anaknya. Sumpah serapah keluar dari mulutnya,hingga anak buah juragan Tono mengusir mereka keluar.
__ADS_1