
Yasmin, membuka jilbab dan menatap tajam ke arah suaminya. Hatinya sudah memanas, sejak tadi. Tak sabar, untuk menghajar suaminya habis-habisan. Kedua tangannya mengepal kuat, amarahnya sudah memuncak.
Yasmin, mengambil bantal sofa dan mendekati Hanafi.
Hanafi, mengerutkan keningnya. Entah,apa yang di lakukan Yasmin. " Mau apa kamu, Yasmin?". Tanyanya,yang kebingungan.
"Brengseeekk...kamu,mas". Teriak Yasmin , sekuat mungkin.
Buuughhh....
Buuughhh....
Buuughhh....
Yasmin,memukul suaminya menggunakan bantal. Dia, meluapkan emosinya. "Rasakan kamu,mas. Aku, benar-benar marah kepadamu". Teriak Yasmin, lagi. Kapan lagi,mas? Aku, bisa menghajar mu seperti ini.
"Auuukk....Auukkk... Hentikan, Yasmin! Sadarlah,jangan seperti ini. Kamu sudah, melakukan kdrt Yasmin. Aku, bisa melaporkan kasus ini". Hanafi, menepis setiap pukulan Yasmin. Bahkan,tak bisa menghindari keganasan istrinya. Sialan,apa Yasmin kesurupan? Aahh...Itu tidak mungkin.
"Laporkan saja,mas. Biar kamu,puas. Aku, ikhlas masuk ke dalam penjara. Bukan hanya orangtuaku,yang merasa malu. Tetapi kamu juga, seorang kades". Sahut Yasmin, tersenyum smrik. Sorotan matanya, yang tajam. Lebih baik aku,masuk penjara. Daripada hidup, bersama mu mas.
Keringat membasahi kening dan wajahnya. Nafasnya ngos-ngosan, sudah. Ikat rambutnya, terlepas dan membiarkan rambutnya terurai bebas. Beberapa kali, Hanafi terus menghindari pukulan Yasmin. Yamg bertubi-tubi, pukulan Yasmin. Terkadang menggunakan bantal,ada juga menggunakan tangannya.
Yasmin,masih berlanjut memukul suaminya tanpa ampun. Sempat-sempatnya, Yasmin menendang kaki suaminya. Dengan jurus seribu pukulan, membuat Hanafi menerima pukulan istrinya.
"Hentikan, Yasmin! Tidak baik,kamu memukul suamimu sendiri". Hanafi, langsung nencekal tangan Yasmin dan menghimpitnya di dinding.
Yasmin, memberontak tak karuan. Tampilannya acak-acakan, rambutnya yang sudah kusut. "Lepas,mas! Aku,bilang lepas!! Belum puas,aku memukulmu". Teriak Yasmin, tidak memperdulikan apa kata orang-orang sekitar. Dia, sangat marah dan ingin sekali memukul suaminya membabi buta.
"Jangan berteriak, Yasmin. Kamu, sudah membuat kegaduhan seperti ini". Teriak Hanafi,tak kalah juga. Mereka berdua, saling pandang dan hening seketika.
Lagi-lagi Yasmin, memberontak kuat dan mulai menjauh dari dinding. Lihatlah,aku tidak akan tinggal diam mas. Walaupun,kamu menghimpit tubuh di dinding. Batin Yasmin, mengeluarkan tenaga untuk melawan.
__ADS_1
Hanafi, sudah cukup sabar. Dia,tak sengaja mendorong tubuh Yasmin ke sebuah lemari.
Sebuah benda di atas lemari,jatuh ke bawah. "Yasmiiiinn....!!". Teriak Hanafi, langsung melindungi tubuh istrinya.
"Aaaakkhhh....". Pekik Yasmin,yang tak bisa menghindarinya.
Praaangggg....
Vas hiasan terjatuh ke lantai,pecah berkeping-keping. Yasmin, kebingungan jadinya. Sedangkan dia, tidak terjadi apa-apa dan tidak merasakan sakit apapun. Rupanya, Hanafi melindunginya.
Darah segar mengalir deras, di kepala kening Hanafi. Sontak membuat Yasmin, terkejut melihatnya.
"Mas...kamu". Lirih Yasmin,tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ya Allah, rupanya mas Hanafi yang kena.
"Kenapa,Menatapku dengan tatapan tajam? Jangan Kepedean,karena aku menolong mu. Tak rela bila ada orang menyakiti, sekalipun benda. Cukup aku, yang boleh menyakiti mu". Tegas Hanafi, dengan suara kerasnya.
"Mas,kita bersihkan lukamu". Yasmin, langsung menarik lengan suaminya dan duduk di sofa.
Dia, mendekati suaminya yang meringis kesakitan."sini mas,aku bersihkan". Yasmin,mulai membersihkan luka menggunakan kapas.
"Auukkk... ssshhhhttt...kenapa, semakin pedih". Ringis hanafi, menghentikan aksi Yasmin.
"Sabar, mas. Kamu harus tahan,masa badan besar. Cuman seperti ini, kamu kesakitan". Ejeknya Yasmin, tersenyum smrik. Jelaslah sakit,aku tak lupa meletakkan garam di kapas ini. Lalu,aku pura-pura membersihkan luka mu mas. Sangat pedih kan, nikmati lah mas. Pedihnya,tak seberapa kok mas. Lebih pedih,hatiku atas perlakuan mu.
"Auuukk...pedih sekali, Yasmin. Seharusnya, kamu bersyukur karena aku menyelamatkan ku". Decak Hanafi, melirik wajah Yasmin. Sangat dekat dengannya,bulu mata lentik,bibir tipis dan di poles lipstik merah moda. Kulit wajah, sangat halus dan hidung mancung.
"Yang minta tolong kepada mu, siapa mas? Aku,gak papa terkena vas hiasan tadi. Bahkan,aku bersyukur jika kamu tiada". Jawab Yasmin, dengan santainya.
"Apa? Kamu, mendoakan agar aku tiada begitu? Durhaka kamu, Yasmin. Berdoa seperti itu,yang tidak baik". Mendengar ucapan Yasmin, membuat emosinya menggebu-gebu.
Yasmin,yang geram. Dia, langsung menekan luka suaminya.
__ADS_1
"Aaakkkhh... ssshhhhttt....sakittt,kau apakan Yasmin". Hanafi, langsung menjauh.
"Gak papa,mas. Cuman menaruh garam di kapas,lalu menekan lukamu. Makanya, pedih sekali". Jawab Yasmin, tersenyum merekah.
"Sialan, kamu mengerjai Yasmin. Pantesan aja,perih sekali". Gerutu Hanafi, berlalu meninggalkan Yasmin.
"Mau kemana,mas? Sini,aku obati". Teriak Yasmin,di akhiri dengan cekikikan tertawa.
"Tidak perlu,aku bisa sendiri. Bukannya, mengobati tapi malah bertambah sakit". Sahut Hanafi,dari arah dapur.
"Yakin,mas? Lukanya, lumayan parah loh. Alhamdulillah,kamu yang kena gak aku. makasih banyak, kapan-kapan gitu lagi". Ledek Yasmin, walaupun tidak ada komentar dari Hanafi.
Puas rasanya Yasmin, membalas dendam kepada suaminya. Matanya tertuju kepada, pecahan vas hiasan. Dia, langsung membersihkannya.
Setelah selesai,dia bersantai sambil memikirkan sesuatu untuk melawan suaminya. "Hmmmm... sepertinya, aku memiliki ide. Semua ini gara-gara kamu,mas. Sekarang bendera perang, sudah berkibar". Yasmin, menyunggingkan senyumnya.
Sedangkan Hanafi, bersusah payah mengobati lukanya. Dia, meringis dan perih. benar saja, beberapa butiran garam di keningnya. "Awas kamu, Yasmin. berani sekali, mengerjai ku". Gerutunya, penuh dengan dendam.
Selesai sudah, berupa menghampiri istrinya di ruang tamu. Hanafi, tidak menyukai jika Yasmin memainkan ponselnya. Apa lagi, melihat sang istri senyum-senyum sendiri. Entah kenapa,dia tiba-tiba tak suka. Ada rasa cemburu kah,namun langsung di tepisnya.
"Eeee.. Sudah selesai, mengobati lukanya". Kekehnya Yasmin, melihat perban di kening suaminya. Sudah pasti,ada benjolan dan membiru.
"Mulai besok,kamu tidak perlu mengajar lagi. Jika tidak menuruti perkataan ku, berisap-siap bapakmu memarahi mu lagi". Tegas Hanafi, mengingatkan istrinya.
Yasmin,memutar bola matanya. "Hmmmm...Aku, porotin tau rasa". Gumam Yasmin, melirik ke arah suaminya. "Mas, kamu mengikuti ku yah? Jadi tau,jika mas Faris menemui ku".
"Darimana aku,tau? Semua itu, tidak ada urusannya dengan mu. Bukankah,kamu sendiri bilang. Jangan ikut campur dalam urusan pribadi,urus saja masing-masing". Jawab Hanafi, menyunggingkan senyumannya.
Tentunya Yasmin, semakin jengkel dengan suaminya. "Ck, rupanya kamu diam-diam memperhatikan gerak-gerik ku mas. Atau, jangan-jangan kamu cemburu buta kepada mantan suamiku. Yang tiba-tiba, menemui ku". Yasmin, menggeser posisi duduknya dan mendekati Hanafi.
"Jangan ge'er kamunya,karena mata-mataku banyak". Bantah Hanafi, langsung. Membuang muka ke arah lainnya, berusaha menutupi kebohongan. Karena Yasmin,tak kunjung pulang dari mengajar. Dia, berniat , untuk menghampiri Yasmin di sekolah. Tiba di sekolah,dia mengurungkan niatnya untuk lebih dekat. saat matanya, tertuju pada Yasmin dan Faris tengah berbincang hangat. Karena marah, Hanafi langsung mengabari kepada orangtuanya Yasmin. Tak lupa, menceritakan semuanya. Termasuk, Yasmin selalu membangkang terhadapnya.
__ADS_1