Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Saling Menyindir


__ADS_3

"Eeeh... Yasmin,kamu beruntung sekali mendapatkan pak kades". Ucap seorang wanita, berkerudung coklat. Dia, selalu guru di tempat Yasmin mengajar.


Yasmin, memutar bola matanya. "Hmmmm...lalu, kenapa bu Meta?".


"Asal kamu tau, bu Yasmin? Pesona kades, banyak di minati kaum hawa". Ucap bu Meta, bibirnya terangkat ke atas.


"Hmmmm... Termasuk,bu Meta". Sahut Yasmin, sangat malas membahas tentang calon suaminya itu.


Rupanya, para wanita-wanita yang lainnya. Nampak tak suka,atas pernikahan Yasmin dan Hanafi. Banyak wanita lain, membenci Yasmin.


Selama ini, orangtua lainnya. Banyak menjodohkan putri-putri mereka,kepada Hanafi. Yang cukup terkenal, sebagai kepala desa. Tentunya, Hanafi selalu menolak dengan lemah lembut.


"Kamu itu, tidak pantas bersama pak kades". Ejek bu Meta, menatap benci terhadap Yasmin.


"Yah....Yang pantas itu, cuman bu meta". Yasmin,terus melawan ucapan Meta.


"Iyalah,pak kades pantas untuk ku. Karena aku, belum pernah menikah. Tetapi,malah sama kamu dengan status janda. Mentang-mentang punya orangtua,sok bijak dan maha benar". Gerutu Meta,melongos melewati Yasmin. Dia,juga menyenggol bahu Yasmin.


Yasmin, terhayung ke samping. Dia, menggeleng kepala. Melihat sikap, Meta yang tidak wajar.


Yasmin, bersikap acuh saja. Tidak ikut,berbaur dengan guru-guru lainnya. Dia, enggan untuk mencari teman. Apa lagi, seorang pria dan rasa traumanya masih melekat dalam diri.


"Bu Yasmin,mau ikut gak? Siang ini,mau makan-makan bersama. Ayolah,jangan sibuk sendiri saja bu. Ikut berbaur dengan lainnya,asyik lo". Kekehnya bu Narti, sudah menikah dan memiliki anak.


"Benar,bu Yasmin. Jangan sibuk sendiri,jangan lupa kita ini rekan kerja". Sahut ibu lainnya.


Tatapan tajam Meta, meminta agar Yasmin menolak ajakan ibu guru lainnya.


"Baiklah,aku ikut". Jawab Yasmin, tersenyum smrik.


Meta, mengepalkan kedua tangannya. Rupanya,dia ingin mencari perhatian kepada guru-guru lainnya. Awas kamu, Yasmin. Kebetulan sekali, rumahku sangat dekat dengan pak kades. Aku,bisa mengadu kejelekan kamu Kepadanya. Batin Meta, tersenyum.


Salah satu guru lainnya,menarik tangan Yasmin dan bergabung dengan lainnya. Mereka semua, menikmati rujak bersama-sama.


Begitu juga, guru-guru lainnya. Sangat menyukai Yasmin, selalu enak di ajak berbicara tentang apapun.


"Meta,cuman kamu yang belum nikah. Kalau bu Yasmin, sebentar lagi nikah. Ayo, buruan cari suaminya". Ucap yang lainnya.


"Hehehehe... Belum ada yang pas,bu. Karena yang pas, sudah di tikung orang lain". Sindir Meta, mendelik ke arah Yasmin.


"Wahhh... Makanya,jangan di kenalkan sama teman. Tuh,di tikung temannya kan". Ejek lainnya,namun Yasmin mengerti yang di katakan Meta.

__ADS_1


"Jangan salahkan,teman bu. Biasanya,pria itu yang tidak menyukai diri kita dan memilih wanita lain". Sahut Yasmin, tersenyum.


"Biasanya, seperti itu. Dia,memang tidak menyukai diri kita. Eeee ..malah, menyukai teman kita". Guru lainnya, membenarkan ucapan Yasmin.


Awas kamu, Yasmin. Lihatlah,apa yang aku lakukan. Batin Meta, mendekati Yasmin. Dia, sengaja membawa secangkir jus jeruk di tangannya.


Bruuukk...


"Aaakkkhh.....". Pekik Yasmin, melihat bajunya basah karena jus jeruk Meta.


"Aduhh...Maaf,bu Yasmin. Tadi,aku mau ambil ini. Taunya, kesenggol bu Yasmin. Maaf,maaf...". Kata Meta, tersenyum smrik.


"Eeee...Bu Meta, ada-ada saja. Lihatlah,baju bu Yasmin basah kena tumpahan jus jeruk". Guru lainnya, membantu Yasmin membersihkan.


"Gak papa,bu. Aku, pulang dulu. Jam mengajar, sudah habis. Maaf, tidak jadi ikut makan bersama. Bajuku,basah,". Yasmin, tersenyum.


"Yakin,gak ikut bu? Gimana,besok saja. Gak enak, sama bu Yasmin ". Usul guru lainnya, yang langsung di setujui guru-guru.


Membuat Meta, bertambah murka kepada Yasmin. Gagal,agar Yasmin tidak ikut makan bersama.


Yasmin, bersiap-siap untuk pulang. Apa lagi, murid lainnya. Sudah habis jam pelajaran,dan menunggu bel pulang sekolah.


"Iy-iya pak Andi". Jawab Yasmin, mengehentikan langkahnya.


"Bisa minta tolong?". Kata Andi, langsung di angguki Yasmin. "Antarkan berkas ini,ke kantor kepala desa. Gak papakan,hemmm...maaf merepotkan bu Yasmin, karena saya sibuk".


"Oh,gak papa pak. Kebetulan, searah dengan jalan pulang. Sebentar lagi, kantor kepala desa akan tutup. Saya terima,pak". Yasmin, menyambut berkas di tangan Andi.


Andi, tersenyum dan mengangguk. "Maaf,jadi merepotkan bu Yasmin". Kekehnya, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sayang sekali,bu Yasmin mau menikah. Aaaarrgghh....Gagal, menarget tahun ini punya istri.


Yasmin, pamit dulu kepada Andi. Sedangkan Andi, mengangguk dan pergi ke lapangan untuk melatih muridnya.


***************


Yasmin, calingukan melihat sekeliling parkir. Dia, mencari tahu. Apakah,mobil pick up Hanafi ada atau tidak? Yasmin, merasa lega karena tidak ada.


Akan tetapi, Yasmin salah besar. Hari ini Hanafi, pergi ke kantor kepala desa menggunakan motor metik.


Karena Yasmin, tidak menahu soal kehidupan Hanafi. Baginya, tidaklah penting.


Yasmin,masuk kedalam kantor kepala desa. Dia, merasa risih dengan tatapan orang-orang sekitar. Apa lagi,bajunya masih basah.

__ADS_1


"Silahkan,di tunggu bu". Ucap petugas di sana, Yasmin duduk dan menunggu tandatangan seseorang. Setelah dia, memberikan berkas dari guru olahraga. Entah,berkas apa itu.


"Bu, Yasmin. Silahkan, masuk ke dalam. Perintah dari pak kades". Ucap petugas itu, membuat Yasmin terkejut.


"Maksudnya,pak Hanafi". Tanya Yasmin, yang merasa tak enak hati.


"Benar, silahkan bu. Karena berkasnya,di ambil di dalam". Ucap petugas itu,lagi.Jujur saja Yasmin, ingin menghilang sekarang juga.


Ha? Dia,ada di sini. Tapi,mobil pick up nya tidak ada. Apa jangan-jangan,naik motor yah?. Batin Yasmin.


Ceklekk....


Yasmin,masuk kedalam dan mencoba menutupi bajunya yang basah menggunakan tasnya.


Matanya tertuju pada pria,yang bersantai di kursi. Tangannya, membolak-balik berkas.


Berlahan-lahan, Yasmin duduk di hadapan Hanafi. Dia, merasa gugup dan jantungnya berdegup kencang.


"Berkasnya, sudah aku tandatangani". Ucap Hanafi, menyerahkan berkas itu kepada Yasmin. "Kenapa,bajumu basah? Apa kamu, keteledoran mengurus segalanya".


"Bukan, urusanmu". Jawab Yasmin, langsung. Dia, mengambil berkas di atas meja. Tetapi,di tahan oleh Hanafi.


"Pak kades,yang terhormat. Saya,mau pulang dan jangan menyusahkan orang lain". Kata Yasmin, dengan nada tinggi.


"Jawab dulu, pernyataan ku". Tegas Hanafi, beranjak berdiri dan mengambil berkasnya.


"Saya sudah, menjawabnya pak. Karena ini,bukan urusan pak kades. Cepat,mana berkasnya. Saya, ingin cepat-cepat pulang". Yasmin,menghela nafas panjang. Alasannya, untuk tidak bertemu dengan Hanafi. Seperti ini, pasti ada kejadian yang memuakkan bagi Yasmin.


"Jika tidak menjawab pertanyaan ku,jangan harap. Berkas ini, berada di tanganmu". seringai tajam, Hanafi.


"Oh,jadi pak kades mulai perhatian sama calon istrinya nih". Sindir, Yasmin tersenyum. "Katanya, tidak sudi dan tidak cinta. Tetapi,kepo juga dengan calon istri".


"Ck, pergi sana". Hanafi, langsung meletakkan berkas ke meja. Dengan cepat-cepat, Yasmin mengambil dan memasukkan ke dalam tas.


"Yakin,gak mau tau? Bilang saja,pak kades mau perhatian sama saya. Ayo,saya jabanin dengan sesuka hati". Yasmin,melirik sekilas.


Karena tidak ada jawaban, Yasmin langsung keluar dari ruang kerja Hanafi. Dia,menang lagi melawan calon suaminya yang licik itu.


Braakkkk....


Lagi-lagi Hanafi,kalah dengan Yasmin. Dia, semakin kesal dengannya. Mengusap wajah,ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2