Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Ngutang


__ADS_3

Yasmin, menyuapkan makanan ke dalam mulut. Tidak ada sepatah katapun, yang di bicarakan.


Hanafi, bertambah gelisah gusar. Lebih baik marah-marah, daripada istrinya diam membisu.Dia tiba-tiba tidak selera makan, melihat sang istri cuman menunduk kepalanya. Hanafi, menggeser posisi duduk dan lebih dekat dengan istrinya.


"Maafkan aku sayang, sudah membentakmu tadi". Bisik Hanafi, merangkul pinggang istrinya.


Air bening mengalir di kedua pipinya, Yasmin. "Tidak apa mas,yang salah aku. Sudah marah-marah, tidak jelas". Dari tadi dadanya terasa sesak, karena suaminya diam dan ingin di sapa lebih dulu. Ketika Hanafi, meminta maaf ada rasa senang di hatinya.


Hanafi, tersenyum manis dan terdengar suara isak tangisnya Yasmin. "Tidak apa sayang,aku malah suka kamu posesif terhadap ku. Itu karena kamu benar-benar mencintaiku, tidak abal-abal". Satu kecupan manis di pipi, Yasmin.


"Maafkan aku yah,mas. Eee.. Abal-abal, emangnya skincare abal-abal". Lirih Yasmin, air matanya di hapus suaminya.


"Tidak apa, ayo kita makan sama-sama. Sini mas suapin yah, diam-diam seperti tadi. Membuatku tidak selera makan dan merasa ada janggal". Hanafi, tersenyum dan menyuapkan sesendok makan ke mulut Istrinya.


"Sama mas,aku jadi gak mood". Akhirnya Yasmin, mulai tersenyum. Terimakasih mas, memahami segalanya.


Selesai makan bersama, Hanafi harus bersiap untuk berangkat kerja. Walaupun berat meninggalkan istrinya,yang sudah hamil besar. Takutnya sang istri kenapa-kenapa, semoga saja tidak terjadi sesuatu.


"Jangan terlalu capek banget yah, ingatlah kondisi mu sayang. Jika ada terjadi sesuatu, hubungi aku". Hanafi, langsung mengecup bibir istrinya.


"Mas sudah, nanti telat loh". Yasmin, menghentikan suaminya menggerayangi tubuhnya.


"Hehehehe..... Hampir aja,". Kekehnya Hanafi, sudah 2 hari tidak di beri jatah karena sang istri marah.


Yasmin, tersenyum malu-malu kucing. Mengantar suaminya ke depan, melepas kepergian suaminya berangkat kerja.


Dari kejauhan terlihat Aina, sudah bersiap untuk berangkat kerja. Membuat mood Yasmin, berubah menjadi masam.


"Aku akan menjaga hatiku dan menjaga jarak,sayang. Dahh... Assalamualaikum,sayang". Sekilas Hanafi, mengecup bibir istrinya lagi.


"Mas..!". Desisnya, sudah pasti di lihat tetangga. Sedangkan Hanafi,terkekeh geli. Tidak memperdulikan tatapan orang-orang sekitar,yang penting dengan istrinya saja.


************


"Loh, kenapa bisa Aina pindah ke sini? Bukankah dia seorang guru, mengajar di kota". Tanya bu Aminah, kebingungan.


"Dia tidak sebaik yang ibu kira,aku harus berhati-hati". Kata Yasmin, sudah menceritakan tentang Aina.

__ADS_1


"Heran sekali temanmu itu, kayanya nekat mendekati Hanafi". Sahut lestari,yang geram. "Dulu aku pernah menabrak wanita,yang selalu mengejar abangmu. Hampir saja hubungan kami putus, sampai salah paham".


"Loh,kenapa kamu gak cerita sama ibu? Biar ibu,menghajar suamimu". Kata bu Aminah, terkejut mendengarnya.


"Eee.... Lestari,kok bu yang salah. Mas Rizky,gak tau apa-apa. Mereka cuman teman kerja doang,". Lestari, menepuk keningnya karena kecoplosan.


"Yakin,cuman salah paham? Atau Rizky, meminta mu mengelak perkataan kepada ibu. Atau jangan-jangan, sudah di ancam Rizky". Bu Aminah,menaruh rasa curiga.


"Beneran bu, cuman salah paham. Namanya juga cemburu, tetapi mas Rizky menjelaskan semuanya dan hubungan kami baik-baik saja". Ucap lestari, menjelaskannya.


"Oh, kalau ada Rizky main wanita lain. Bilang sama ibu,biar di hajar habis-habisan sama bapaknya". Tegas bu Aminah, sudah pasti membela menantunya.


"Iya,bu. Pasti bakalan bilang,kok". Kekehnya lestari, membuat Yasmin cekikikan tertawa.


"Iiissshhh...Malah ketawa,aku kecoplosan tadi".


"Yah,gak papa Mbak, emangnya kenapa?". Tanya Yasmin, mencomot sepotong kue buatan ibunya.


"Takutnya abangmu,di marahin nanti. pas pulang kerja,jadi kasian kan. Pulang kerja malah dapat omelan dari ibu, belum lagi dari bapak". Kata lestari, merasa tak nyaman dengan suaminya.


"Sudahlah,gak papa Mbak". Kekehnya Yasmin, menikmati kue dan mencomot lagi. "Hmmm... Enak sekali, kuenya". Gumamnya.


************


Ceklekk....


Hanafi,keluar dari ruang kerja dan ingin makan siang. Membuat Aina, tersenyum sumringah dan menyusul dari belakang.


"Hanafi,aku mau bicara sesuatu kepadamu". Kata Aina,ikutan duduk di samping Hanafi. Setelah selesai memesan makanan tadi,lalu menunggu.


"Tidak sopan, seharusnya manggil pak kades". Kata salah satu orang di sana, merupakan kerja di kantor kepala desa.


Aina, tersenyum kecil dan melirik ke arah orang itu. "Maaf,pak kades bolehkah aku meminjam uang". Katanya lagi, memandang wajah Hanafi.


"saya tidak ada uang, istri saya memegang semuanya". Jawab Hanafi,tanpa menoleh ke Aina.


"Cuman pak kades,yang mampu membantu ku. Uangnya untuk membayar hutang ibuku,pak. Tinggal 10 juta lagi, setiap gajihan bakalan aku bayar. Gak papakan, nyicil sedikit demi sedikit. Masa pak kades tega, melihat temannya di tagih orang lain. Pliss... Yasmin,mana mau meminjamkan uang kepada ku". Aina,meremas ujung bajunya. Segitunya kah Yasmin, sampai dia memegang semua uang suaminya.

__ADS_1


"Mau minjam uang, bilang sama istri saya. saya tidak ada hak,". Tegas Hanafi, ujung matanya melirik tajam ke arah Aina.


"Bisakah pak kades, membantu untuk membicarakan tentang ini kepada Yasmin?". Pinta Aina, sudah pasti Yasmin bersikukuh tidak mengijinkannya.


"Saya tidak janji,". Jawab Hanafi, menyantap makanan yang sudah datang.


Aina, menghela nafas beratnya. Sifat Hanafi, benar-benar berbeda dan dingin. "Ya sudah,aku minjam ke tempat lain saja,". Sungutnya dan pergi meninggalkan Hanafi yang gak perduli.


**********


"Uughhh....". Yasmin, mengeliyat merasakan bagian bawahnya di gerayang seseorang. Karena Yasmin, ketiduran di ruang tamu. "Mas..!". Dia terkejut melihat suaminya, tersenyum sumringah.


"Loh,kenapaa bangun sayang? Tidurlah, nikmati sensasi enaknya". Bisik Hanafi, suka sekali menganggu istrinya yang tertidur pulas.


"Maaf,aku ketiduran mas. Gak tau sudah pulang rupanya,". Kekehnya Yasmin, membenarkan pakaiannya.


"Jangan di benarin sayang, pengen banget nih. Sudah dua hari gak di beri jatah,". Bisik Hanafi, dengan suara seraknya. Langsung menciumi seluruh leher dan turun kebawah.


"Aaahhhh.... Sshhhttt...Masss...!". Desis Yasmin, menikmati permainan suaminya.


Setelah puas bermain dengan tubuh istrinya, Hanafi melepaskan seluruh pakaian dan duduk di sofa. "Ayo,duduk di sini". Meminta istrinya duduk di pangkuan,benda tumpul berurat sudah tegang.


Glekkk....


Yasmin, berlahan-lahan mendekati suaminya yang sudah polos. Hanafi, menuntun miliknya untuk masuk kedalam. Sangat mudah karena Yasmin, basah dan sudah keluar.


"Aaaahh....". Des-ah Yasmin, setelah milik suaminya masuk sempurna. Kepalanya mendongak ke atas. Agar suaminya,leluasa menciumi leher dan lainnya.


"Aaahh...Aaahh... Uughhh...". Desa-han Yasmin,ketika Hanafi mulai menaik turun pinggul istrinya.


Keringat membasahi tubuh mereka berdua,di siang bolong malah berolahraga. Suara desa-han saling bersahutan, permainan semakin panas.


"Oouughh.....". Des-ah Hanafi, mengeluarkan lahar panas dibelakang tubuh Yasmin. Karena istrinya posisi menungging,ada senyuman kecil di sudut bibirnya Hanafi.


Yasmin, sudah kelelahan dan ngos-ngosan mengatur nafasnya. Tubuhnya di angkat Hanafi,membawa ke dalam kamar.


Setelah selesai barulah Hanafi, membereskan ruang tamu dan membersihkan sisa-sisa cairan mereka tadi. Membiarkan istrinya istirahat,karena kelelahan.

__ADS_1


Niat mau mengambil handuk ke dalam kamar, melihat tubuh Yasmin terbuka terlihat paha mulusnya. Seketika berdiri milik Hanafi,ada senyuman smrik. Sudah pasti menginginkan lagi, untuk meniduri si Joni.


__ADS_2