Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Was-was


__ADS_3

"Berapa hari, Faris bekerja keluar kota. Enak sih,cuman jadi sopir doang. Pasti,makan terjamin". Kata Indah, menyunggingkan senyumnya.


"2 hari mbak". Jawab Yasmin, dengan wajah datar.


"Kenapa,harus Faris yang mendapatkan pekerjaan enak. Coba aja, bang Hamid. Siapa tahu, kecantol Diana. Eee....Gak papa, Faris kecantol sama bosnya kaya raya. Di bandingkan kamu,yang gak apa-apanya". Kata Indah, melirik ke arah Yasmin.


"Mbak, tidak perlu berbicara seperti itu. Sama aja, menyiksa diri ku. Apa gak takut,aku melaporkan kepada mas Faris. Masih untung kami, memberikan tumpangan gratisan". Sungut Yasmin, langsung.


"Ck,tukang ngadu. Aku doakan, kamu dan Faris cerai. Mampus kau, Yasmin". Bentak indah, tersenyum smrik.


Yasmin,cuman membuat sarapan untuknya sendiri. Tidak memperdulikan,kakak iparnya itu. Dengan lahap, Yasmin menyantap makanannya.


"Loh,kamu buat porsi 1 aja Yasmin. Mana untuk ku,jangan seenaknya dong". Bentak indah,tak di hiraukan Yasmin.


"Mau makan,tinggal masak mbak. Masih untung bahan-bahannya,aku yang beli. Coba aja,aku gembok kulkas. Biar tau rasa kamu, Mbak". Yasmin, tidak kalah dengan kakak iparnya.


"Brengseeekk.... Wanita licik, tidak punya hati. Awas kamu, Yasmin". Gerutu indah,yang geram kepada Yasmin.


Yasmin, tidak memperdulikan tatapan kakak iparnya itu. Bodo amat, jika tidak suaminya. Kemungkinan, dia sudah mengusir Indah.


"Semoga saja, Faris kecantol sama Diana. Bakalan hidup enak, gak seperti ini". Gumam Indah, memasak telur ceplok.


"Mending Mbak Indah,cari pria tajir melintir sana. Daripada jadi benalu, seperti ini. Bikin sesak,di kediaman ku saja". Sahut Yasmin, menyunggingkan senyumnya.


Indah, mengepalkan kedua tangannya dan ingin sekali mencabik-cabik wajah Yasmin. Tetapi,dia sabar demi melancarkan aksinya. Untuk saat ini,kamu bersenang-senang Yasmin. Suatu hari nanti,kamu akan menerima kepedihan dalam hidup mu. Batin Indah, menyeringai tajam.


***********


Selama di luar kota, Faris tidur di hotel. Dia,beda kamar dengan Diana.


Cukup lama pasangan suami-isteri itu, saling video call. Hanya menumpahkan rasa rindu, yang dalam.

__ADS_1


"Besok,mas pulang dek. Ada oleh-oleh untukmu,di belikan oleh Diana". Kata Faris, membuat Yasmin tersenyum merekah.


"Titip salam, kepada Mbak Diana. Jadi,gak enak akunya mas". Ucap Yasmin, dengan wajah bahagia.


Seringkali Faris, mengirim pesan dan foto-foto. Di saat Diana, bertemu dengan rekan bisnis. Hati Yasmin, merasa lega. Karena bukan mereka berdua saja, melainkan ada orang lain juga.


Rasa was-wasnya,mulai memudar. Tapi,dia tetap berusaha waspada.


Besok harinya, Yasmin menyambut kedatangan Faris. Rupanya, Diana membiarkan Faris membawa mobilnya pulang.


"Mas,aku kangen". Yasmin, memeluk erat tubuh suaminya.


"Sama dek,mas kangen juga". Faris, tak berjumpa dengan istrinya dua hari. Dia, benar-benar merindukan Yasmin.


"Alahhh...lebay, cuman dua hari kaya berapa tahun". Decak indah,muak melihat pasangan suami-isteri di hadapannya.


"Mas,kamu bawa mobil Diana". Yasmin, melirik sebuah mobil parkir di depan rumah.


"Oke,mas. Kamu, hati-hati kerjanya. Jangan ngebut-ngebutan,aku khawatir mas". Ucap Yasmin, langsung di angguki oleh Faris. "Wahh... makasih banyak, oleh-olehnya".


"Iya, Diana mampir di mall luar kota. Eee...malah, belanja untuk mu. Mas,jadi gak enak". Faris, merasa senang karena Diana tidak pelit.


"Alahh.... Biasanya, wanita kalau baik hati. Pastilah,ada maunya". Sindir Indah, mampu membuat hati Yasmin terasa teriris-iris.


"Mbak,diam! Jangan sembarang bicara,apa lagi Diana bos aku". Bantah Faris, langsung. "Sekarang, Mbak sama saja menyakiti perasaan Yasmin".


"Ck, memang benar adanya. Jika seseorang,baik hati tanpa sebab. Pastilah,ada maunya. Hati-hati kamu, Yasmin. Tapi,mana mungkin Faris tidak tergoda dengan Diana". Kata Indah, tersenyum kecil.


Yasmin, memandang wajah suaminya. Akankah, Diana memang benar ada maunya.


"Yasmin, dengarkan mas. Jangan percaya dengan ucapan, Mbak Indah. Diana, memang tulus memberikan kamu ini. Mas, sudah berapa kali menolaknya". Faris, membujuk istrinya. Berharap, Yasmin tidak termakan omongan kakak iparnya. "Mbak indah,cuman mempengaruhi pikiran mu dek. Dia, tidak menyukai kebahagiaan kita".

__ADS_1


Ya Allah, kuatkan hatiku. Jangan sampai membuat mas Faris,merasa bersalah. Batin Yasmin,jujur saja dia sangat ketakutan kehilangan sesosok suaminya. "Iya,mas. Aku percaya dengan ucapanmu, terserah Mbak mau ngomong apa. Selagi baik-baik saja,aku tidak akan mempercayai ucapan Mbak".


"Ck, terserah kamu saja. Toh,yang mengalami dirimu sendiri. Bukan aku,". Sahut indah,dia berharap Faris tergoda dengan temannya itu.


"Indah,apa kabar". Ucap seseorang,di ambang pintu.


Faris dan Yasmin, langsung menoleh ke sumber suara. Rupanya,bu Yahya berkunjung kediaman Yasmin.


"Ibu,masuk bu. Indah, merindukan ibu". Indah, langsung memeluk ibunya.


"Ck, rupanya ada mereka. Faris,aku dengar-dengar kamu jadi sopir pribadi yah. Berapa gajihnya, pasti gede kan. Toh, kamu gak bakalan kasih uang kepada ibu 500 ribu lagi kan". Ucap bu Yahya, langsung.


"2 juta sebulan bu. Itu,sisa potong utangku". Jawab Faris,tanpa memikirkan apapun.


"Apa? Kamu,punya hutang. Berapa Faris,kenapa kamu berhutang". Bu Yahya, terkejut mendengar jawaban anaknya.


"Itu bu,si benalu kecelakaan lalu oprasi kakinya. Terpaksa, Faris berhutang kepada bosnya". Sahut indah, merasa senang kali ini Yasmin akan di salahkan.


"Ya ampun, Yasmin, Yasmin. Kamu itu, memang membawa sial. Lebih baik,kamu dekati bosmu itu. Mbakmu, sudah menceritakan siapa bosmu. Lumayanlah,dapat menantu kaya raya. Tidak seperti Yasmin,miskin dan jadi beban mu saja. Kerjaannya,membawa sial". Bu Yahya, menatap tajam ke arah menantunya.


"Bu,cukup bu! Jangan berbicara macam-macam, tidak mengertikah dengan perasaan Yasmin. Jika ibu,di posisi Yasmin. Bagaimana,bu? Mbak,kenapa menceritakan semuanya kepada ibu? Seharusnya, bersyukur karena kami memberikan tumpangan di sini". Faris, sudah kecewa dengan sikap kakaknya.


Yasmin, diam dan berusaha sabar. Beruntung sekali, suaminya masih membela dirinya. "Bu,kenapa harus suamiku. Suruh saja,bang Hamid dan Mbak indah cari pendamping hidup yang kaya raya. Carilah, keluarganya tidak pelit. Jangan mengusik ketenangan kehidupan kami,aku sudah pusing dengan sikap ibu dan Mbak".


"Heran aku, dengan mu Faris. Ada yang nyata lebih kaya raya,masih saja bertahan hidup dengan wanita ini. Apa untungnya,malah kamu jadi ketimpa sial". Sahut indah, tersenyum.


"Apa yang di katakan mbakmu, memang benar. Biar ibu,jadi hidup enak. Gak kaya sekarang,susah". Gerutu bu Yahya.


Faris, menggenggam erat tangan istrinya. "Satu kata bu, terserah mau bicara apa. Yang jelas,aku tetap setia dengan istriku Yasmin". Tegas Faris, penuh penekanan pada perkataannya.


Indah, langsung membisikkan sesuatu kepada ibunya. Entah, apa yang di bisikkan.

__ADS_1


__ADS_2