Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Mual


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, semenjak kejadian itu. Aina, tidak pernah menghubungi Hanafi lagi.


Rumah tangga Yasmin dan suaminya, semakin harmonis penuh dengan canda tawa dan ke mesuman Hanafi.


Pagi-pagi Yasmin,bangun dan menyiapkan sarapan pagi seperti biasanya.


Matanya tertuju kepada suaminya,ada sesuatu yang berbeda. "Mas,kamu sakit? Wajahmu sangat pucat sekali,". Tanyanya, sambil memegang wajah sang suami. "Kening mu hangat,mas. jangan kerja cuti aja, kayanya kamu gak enak badan".


Hanafi,malah bersandar di dada sang istri dan memeluk erat. "Gak kenapa-kenapa,sayang. Aku gak sakit, cuman sedikit malas". Jawabnya, merasakan istrinya mengelus lembut pipinya.


"Yakin,mas? Takutnya kenapa-kenapa,loh. Istirahat dulu yah, gak perlu ke sawit". Pinta Yasmin, mengkhawatirkan keadaan suaminya.


"Tidak apa,sayang. Cuman gak enak badan doang,masa lebay sih. Ya sudah,aku mau mandi dulu. Padahal malas sekali,mandi". Gerutunya, dengan langkah gontai masuk ke dalam kamar mandi.


Yasmin, menggeleng kepalanya melihat ke arah Hanafi. Tidak seperti biasanya,dia malas-malasan. "Mandi yang benar mas, malam tadi kita nganu". Kata Yasmin, sedikit nyaring.


Terdengar suara guyuran air, berarti Hanafi benar-benar mandi. "Coba aja,gak sek sek malam tadi. Gak bakalan mandi,beerrr...Dingin sekali,huuuff..." Gerutunya Hanafi, badannya menggigil menahan rasa dingin.


Beberapa menit kemudian, Hanafi sudah siap dengan baju kerjanya. Duduk manis di kursi,siap untuk sarapan pagi. Tetapi saja memasang wajah lesu,tak bersemangat.


Hari ini Yasmin,memasak tumis kangkung dan ayam goreng.


Biasanya Hanafi, sangat lahap menyantap makanan yang di masak oleh istri tercinta. Baru satu suapan pertama, tiba-tiba.


Uuekkk....Ueeekk....Ueeekk...


Hanafi, berlarian ke kamar mandi dan muntah-muntah. Seketika badannya lemas,tak berdaya.


"Astagfirullah, mas". Pekik Yasmin, terkejut melihat keadaan suaminya.


Hanafi, keluar dari kamar mandi dan di tuntun istrinya. Yasmin, memberikan segelas air teh hangat. "Kamu sakit mas, istrirahat di rumah aja. Wajahmu sangat pucat sekali,aku khawatir loh". Yasmin, gelisah gusar jadinya.


"Tidak apa-apa,sayang. Perutku cuman masuk angin,doang. Nanti suruh Jo,kerok pasti hilang anginnya. Aku pergi dulu,ada hal yang penting gak bisa di tinggalkan". Hanafi, mencium kening dan seluruh wajah istrinya.


"Yakin mas?aku khawatir loh,". Yasmin, mencium punggung tangannya.


"Iya,maaf aku tidak sarapan dengan masakan mu. Sudah telat ini,sayang. Tengah hari nanti,mas akan pulang. Assalamualaikum,". Ucap Hanafi, tersenyum.


"Wa'alaikum salam,mas. Hati-hati yah,jangan terlalu lelah". Yasmin, melepas kepergian suaminya berangkat kerja.

__ADS_1


Yasmin, langsung masuk kedalam rumah dan beberes lainnya.


Setelah selesai,karena suntuk sendirian. Dia berniat untuk pergi ke rumah orangtuanya,di sana sudah pasti rame.


**********


"Kamu belum makan, Yasmin? Makannya pelan-pelan dong,". Kata bu Aminah, melihat anak bungsunya makan sangat lahap.


"Sudah bu, tapi mau makan lagi. Gak nyangka aja,selahap ini". Jawab Yasmin, cengengesan.


"Makanlah,malah ibu senang melihatmu makan banyak. Kalau makan sedikit,jadi kepikiran ibu. Takutnya kamu sakit, atau kenapa-kenapa". Bu Aminah,mengelus pucuk kepala anaknya.


"Makasih bu,masakan ibu memang enak gak ada duanya". Yasmin, tersenyum merekah.


"Bu, aku khawatir dengan mas Hanafi".


"Eee... Emangnya kenapa, nak Hanafi?". Bu Aminah, langsung menghentikan pekerjaannya.


"Wajah mas Hanafi,pagi tadi pucat sekali. Terus,pas mau sarapan pagi. Eee...Malah muntah-muntah,bu. Tapi,mas Hanafi bersikukuh berangkat kerja. Katanya gak kenapa-kenapa, cuman masuk angin. Nanti nyuruh Jo,buat kerok badannya". Kata Yasmin, dengan wajah sedih.


"Astagfirullah, semoga suamimu gak kenapa-kenapa. Begitulah nak Hanafi, tidak mengeluh jika dia sakit". Bu Aminah, mengkhawatirkan menantunya.


"Ciyeeehhh....Yang mulai mengkhawatirkan keadaan suaminya,uhuyy...". Ejek kakak iparnya itu.


"Iiissshhh... Mbak ini, ada-ada saja". Sungutnya, mencibir bibirnya.


"Maklumlah khawatir,nak. Karena adik ipar mu, sudah jatuh cinta sama suaminya. Dulu, ogah-ogahan mau nikah sama Hanafi. Eee... Sekarang bisa jadi, cinta banget". Sahut bu Aminah, cekikikan menahan tawanya.


"Iiissshhh....Suka sekali, meledekku". Gumam Yasmin,masib terdengar oleh ibunya. "Aku lihat ruang tamu di bersihkan, emangnya ada tamu kah?". Tanyanya.


"Oh,ibuku mau datang besok. Bermalam sampai 2 hari,katanya kangen sama cucu". Jawab lestari,kakak iparnya.


"Hhhmmmm... Bakalan rame besok,lama tidak bertemu dengan besan". sambungnya bu Aminah, tersenyum.


"Oh,kirain tamunya teman bapak". Yasmin, manggut-manggut mendengarnya.


"Yasmiiiiinnnn....!Buu...!". Pak Jamal, memanggil nama istri dan anaknya. Tergesa-gesa menuju ke arah dapur, memberikan kabar buruk.


"Ya Allah,pak. ada apa, sampai lari-lari?". Bu Aminah, langsung mendekati suaminya yang ngos-ngosan mengatur nafas.

__ADS_1


"Itu...Itu,nak Hanafi..Huuu...Huu...". Pak Jamal,masih mengatur nafasnya.


"Ya Allah,pak. Kenapa dengan,mas Hanafi? Apa yang terjadi,". Yasmin, sudah ketakutan mendengarnya.


"Nak Hanafi, pingsan bu,nak". Jawab Jamal, ngos-ngosan masih.


"Astagfirullah,". Ucap mereka bersamaan, sontak membuat Yasmin syok berat mendengarnya.


Pak Jamal dan keluarganya, langsung berangkat ke puskesmas terdekat. Karena Hanafi,di bawa ke sana. itupun pak Jamal, mendapatkan kabar dari orang lain.


Yasmin, sudah menangis kesegukan di pelukkan ibunya. Bu Aminah,yang khawatir dan menenangkan anaknya. "Sabar nak, suamimu tidak apa-apa. Dia kuat dan tidak lemah. pasti nak Hanafi,cuman sakit biasa saja". Bujuk bu Aminah, mengelus punggung anaknya.


*************


Sesampai di puskesmas, langsung menuju keruang rawat inap Hanafi.


Yasmin, langsung berhamburan mendekati suaminya yang berbaring lemah di ranjang pasien. Tangannya sudah disuntik infus, begitu parah kah suaminya sakit.


"Mas,bangun". Lirih Yasmin, dalam isak tangisnya. "Tuh kan bu,kalau mas Hanafi sakit. Dia tetap berangkat kerja,".


"Sabar nak,kita gak tau separah ini". Bu Aminah, melihat mimik wajah anaknya begitu mengkhawatirkan keadaan suaminya.


"Sabar nak,kata dokter kita tunggu nak Hanafi siuman dulu. Ya Allah, wajah suamimu pucat sekali". Pak Jamal,kasian kepada menantunya.


"Mas,bangun! Ini Yasmin,jangan buatku ketakutan". Lirih Yasmin, menggenggam jemari tangan suaminya. Air bening luruh di kedua pipinya.


"Jo,kenapa menantu ku seperti ini?". Tanya pak Jamal.


"Gak tau,pak. Awalnya pak Hanafi,minta di kerok. Belum di kerok, sudah muntah-muntah. Wajah pak Hanafi,memang pucat sekali. Gak lama kemudian, tiba-tiba tidak sadarkan diri. Heboh lah kami semuanya, langsung melarikan ke puskesmas sini". Jawab Jo, menunduk kepala.


"Lalu,apa kata dokter?". Tanya pak Jamal,lagi.


"Kata dokter, pak Hanafi gak kenapa-kenapa. Semuanya normal,". Jawab Jo, sontak aku pak Jamal terheran.


"Jangan membohongi ku, Jo. Apa lagi menutupi segalanya,mana mungkin menantu ku tidak kenapa-kenapa. Lihatlah dia, berbaring lemah dan tangannya di infus". Pal Jamal, langsung menatap tajam ke Jo.


Glekkk...


Jo,tak berani menatap pak Jamal. "Benaran pak,aku tidak berbohong. Tanyakan saja,kepada dokter". Jawab Jo, ketakutan.

__ADS_1


Waduhh.... Cepat sadar bos,takut sama bapak mertua sampean.


__ADS_2