
"Maaf,dia mas Faris. Mantan suami saya, kemungkinan mas Faris salah paham kepada pak Hanafi. Lalu, menampar wajah pak Hanafi". Sahut Yasmin, dengan wajah gugup.
"Owalahhhh...Cuman salah paham, bapak-bapak. Maklum, mantan suaminya belum move one". Kekeh bapak-bapak lainnya, memecahkan suasana tegang.
"Pak Faris,jangan suka mengada-ada. Kami, lebih percaya dengan pak Hanafi. Mana mungkin,beliau ingin melecehkan non Yasmin. Karena non Yasmin, calon istrinya". Kata bapak lainnya, sontak membuat Faris tercengang.
"Apa? Calon istri! Gak, gak mungkin". Faris, menggeleng kepalanya."Dek,kamu bohongkan. Mana mungkin,kamu mau menikah dengan pria licik ini". Tunjuk Faris,ke arah Hanafi dengan tatapan tajam.
"Cukup,mas Faris. Bisa tidak, kamu jangan menganggu kehidupanku lagi". Pinta Yasmin, dadanya terasa sesak. Dia, berlalu pergi meninggalkan mereka. Sejujurnya,dia tidak mau menikah dengan Hanafi. Tetapi, tidak mampu membantah perkataan ayahnya. Dia, tidak mau menyakiti dan mengecewakan perasaan kedua orangtuanya.
"Sialan,dasar pria labil". Decak Faris, dengan geram sikap Hanafi.
Bapak-bapak lainnya, meminta Faris untuk pergi dari kantor kepala desa.
"Pak Hanafi, tidak apa? Jangan dekat-dekat,sama pak Faris. Dia,masih sensitif terhadap bapak. Mungkin saja, dia menyesal dan cemburu kepada pak Hanafi. Apa lagi,mantan istri secantik non Yasmin". Kekehnya pak Danu.
"Janda, semakin didepan. Saya,mau banget di jodohkan sama non Yasmin". Kekehnya lainnya, tersenyum.
"Selamat pak Hanafi,umur sudah 30 tahun waktunya,membina rumah tangga dan anak-anak". Sahut lainnya, Hanafi tersenyum dan mengangguk.
Masih terasa perih, di sudut bibirnya. Karena bogem mentah, Faris. Ada rasa kesal,karena rencananya gagal.
*************
Yasmin, termenung sejenak di dalam kamar. Sebentar lagi, akan menghadapi bentakkan ayahnya.
Yah.... inilah Yasmin, tidak sanggup lama-lama di rumah. Karena ayahnya, selalu berkata tegas dan kasar. Dulu saja, Faris kenyang mendengar ocehan bapaknya. Membuat Faris, tidak sanggup untuk bertahan di rumah kedua orangtuanya Yasmin.
"Yasmin,dimana bu?". Terdengar suara pak Jamal, di luar kamar.
"Di dalam kamar,pulang dari kantor kepala desa. Dia, langsung masuk pak". Jawab bu Aminah, merasakan sesuatu yang tidak beres.
__ADS_1
Tok...Tok...
"Yasmin,keluar dulu. Bapak,mau bicara sama kamu". Ucap pak Jamal,di balik pintu kamar Yasmin.
Yasmin, menghela nafas beratnya dan membuka pintu kamarnya.
"Apa benar,ada kejadian di kantor kepala desa? Kenapa,bisa ada keributan Yasmin. Apa benar,mantan suamimu memfitnah nak Hanafi yang mau melecehkan dirimu". Tanya pak Jamal, dengan tatapan tajam.
"Pak, semuanya cuman salah paham. Mas Faris, berkata jika mas Hanafi ingin melecehkan ku. Makanya,mas Faris menyusul ke kantor kepala desa. Lalu masuk keruangan mas Hanafi,aku juga ada pak". Jawab Yasmin, langsung.
"Lalu,kamu di apa-apain nak Hanafi". Tanya pak Jamal, terkejut mendengar ucapan anaknya.
Yasmin, menggeleng kepalanya. "Karena mas Hanafi, berbohong. Lalu, mas Faris menampar wajah mas Hanafi".
"Wahhh...Kamu, percaya dengan ucapan Faris". Tanya pak Jamal, tersenyum smrik.
"Yah... Yasmin,mana tau pak? Karena Yasmin, tidak mempercayai ucapan mereka berdua". Jawab Yasmin,karena dia tidak sudi mempercayai ucapan dua pria itu. Karena sama-sama licik dan berhati iblis.
"lalu,jika mas Hanafi yang ingin menggagalkan akad nikah ini. Bagaimana,pak? Apa yang, bapak lakukan". Tanya Yasmin, ingin sekali mendengar pendapat ayahnya.
"Tidak,nak Hanafi tidak mungkin menggagalkan akad nikah ini. Dia, bukan bersifat ikar janji dalam ucapannya". Kata pak Jamal, sedangkan Yasmin tersenyum smrik.
Orangtuanya Yasmin, lebih mempercayai ucapan pria licik itu. Ingi. Sekali, Yasmin tertawa terbahak-bahak. Rupanya, Hanafi mampu mempengaruhi pikiran orang-orang sekitar.
Pak Jamal, keluar dari rumah. Enak, kemana perginya. Yasmin, tidak ingin ikut campur dalam urusan ayahnya.
"Yasmin,kenapa tidak cerita kepada ibu". Tanya bu Aminah.
"Bu,apa percaya dengan ucapan ku? Jika mas Hanafi,merobek rok ku". Tanya Yasmin, pastilah ibunya membela Hanafi.
"Yasmin, untuk apa nak Hanafi merobek rok mu. Apa lagi,di kantor kepala desa. Orang di sana banyak,". Bantah bu Aminah, langsung.
__ADS_1
Yasmin, merasakan kepalanya sudah nyut-nyutan memikirkan masalahnya. "Ya itu, kenapa Yasmin tidak cerita. Karena ibu, terlalu mempercayai mas Hanafi di bandingkan anaknya sendiri".
"Yasmin, sampai kapan kamu...".
"Bu,aku berkata sejujurnya. Kapan, Yasmin berbohong? Jika ibu, ingin membela mas Hanafi. Yasmin,pamit masuk kedalam kamar dulu". Yasmin, menutup pintu kamarnya. Di balik pintu kamar,dia menangis kesegukan karena orangtuanya tidak mempercayai ucapannya.
Bu Aminah, langsung terdiam dan menatap pintu kamar buah hati anaknya. Entahlah,siapa yang harus di percayainya.
**************
Pak Jamal, mendatangi kamp sawit Faris. Tak sabar, untuk meluapkan emosinya.
"Fariisssss.... Sudah ku bilangkan, jangan pernah mengganggu anakku lagi. Tidak cukupkah, menyakiti Yasmin dan membuatnya malu. Jangan pernah,kamu menggagalkan pernikahan anakku". Bentak pak Jamal, dadanya naik turun mengontrol emosi.
"Pak,aku cuman menolong Yasmin. kepala desa, ingin melecehkan Yasmin". Bantah Faris, langsung.
"Mana mungkin,nak Hanafi melecehkan Yasmin. Kamu ini,jangan coba-coba memfitnah dan menyebarkan nama baik Hanafi. Apa kamu ingin,semua warga mengusir mu dari sini ha". Ucap pak Jamal, ingin sekali membungkam mulut Faris dengan bogem mentahnya.
"Pak Jamal,sabar pak". Hanafi, langsung menenangkan hati calon mertuanya.
"Bapak, tidak bisa diam saja nak Hanafi. Dia, mencoba merusak segalanya dan menyebarkan nama buruk mu". Pak Jamal,mulai tenang.
"Pak,cukup jangan marah-marah. Mas Faris, tidak rela melihat istrinya menikah dengan ku. Kemungkinan,mas Faris mencintai Yasmin. Apa tidak sebaiknya, kita memberikan kesempatan kepada Faris. Pak, Hanafi rela di kucilkan lagi dan batal nikah". Hanafi, berusaha tersenyum kecil.
"Nak Hanafi,jangan berkata seperti itu. Bapak, tidak Sudi dia kembali kepada Yasmin. Faris, sudah cukup menyakiti Yasmin dan tidak berbuat adil". pak Jamal, semakin gelisah mendengar ucapan Hanafi.
"Pak, percuma Hanafi menikah dengan Yasmi. Sedangkan Yasmin, tidak menerima pernikahan ini dengan tulus. Bisa jadi, Yasmin masih berharap dengan mantan suaminya". Hanafi,mulai merencanakan permainannya.
"Nak Hanafi, Yasmin mau menikah dengan mu. Dia, tidak keberatan sama sekali. Percayalah, sama bapak". Pinta pak Jamal, berharap Hanafi tidak mengubah keputusannya.
"Pak,jangan percaya dengan ucapan dia. Dia, pembohong besar". Teriak Faris, mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali,menghajar wajahnya sok belagu.
__ADS_1
"Farisssss.... Cukup,jangan sampai kamu melewati batas kesabaran ku. Jangan sok belagu,kamu saja tidak becus menjaga anakku dulu. Bahkan,kamu pembohong besar". Bentak pak Jamal, matanya melotot sempurna. Lagi-lagi Faris,diam membeku.