
"Pulanglah mas, aku ingin beberapa hari lagi di sini". Pinta Yasmin,menolak ajakan suaminya.
"Tapi,aku tidak mau meninggalkan mu. Apa lagi sendirian, tidak masalah jika aku tidak ada di acara rapat.Mereka pasti paham dengan ku,". Hanafi, mendapatkan informasi ada masalah di kebun sawit dan mengadakan rapat.
Yasmin, mendengar pembicaraan suaminya melalui telepon. "Tidak apa,mas. Pulanglah saja,tiga hari ke depan. Mas bisa menjemput ku dan pulang ke desa".
"Seakan-akan aku di usir,sama istri sendiri". Kekehnya Hanafi, membelai lembut rambut istrinya.
Saat ini Yasmin,duduk di pangkuan sang suami. Merasakan kehangatan dalam dekapannya. "Mana ada mas,aku mau jalan-jalan sama Aina. Sebelum aku pulang ke desa,".
"Yakin gak papa,nih? Takutnya ngambek lagi,". Bisik Hanafi,tepat di telinga istrinya.
"Mas,jangan di gigit telingaku". Cicit Yasmin, terdengar suara manja.
Dengan berat hati Hanafi, meninggalkan Yasmin sendirian. Beberapa kali temannya menelpon,karena masalahnya sangat darurat. Membuat Hanafi, sangat kesal jadinya.
Yasmin, menutup pintu rumahnya. Setelah kepergian sang suami,ada senyuman kecil terbit di sudut bibirnya.
*************
"Apa? Kenapa,kamu langsung menerima begitu saja? Setidaknya, kamu beri waktu". Aina,sok mendengar cerita dari Yasmin.Jika dirinya, sudah baikan dengan suami.
Aina,meremas ujung bajunya. Ada sorotan mata tajam, entah apa yang di pikirannya. Ada rasa sesak di dadanya,pupus sudah harapan.
"Eee...Kok kamu tiba-tiba, ngomong seperti itu? Bukankah kamu meminta ku, untuk baikan dengan mas Hanafi". Tanya Yasmin, kebingungan dengan ucapan Aina.
"Iya,tapi aku pikir-pikir panjang lagi. Apa yang kamu lakukan dulu,memang benar. Pria seperti itu,bagus untuk di kasih pelajaran. Sampai mana dia, memperjuangkan mu". Aina, nampak salah tingkah.
"Tidak apa Aina, hatiku merasa lega karena baikan dengan suami ku. Makasih atas saran mu,". Yasmin, menyentuh punggung tangan temannya.
"Coba kamu pikirkan baik-baik, Yasmin. Apa benar pilihan yang kamu ambil, begitu cepatnya memberikan kesempatan kepada suamimu". Ucap Aina, menatap lekat ke arah Yasmin.
__ADS_1
"Insyaallah, Aina. Aku yakin sekali, dengan pilihanku". Jawab Yasmin, tersenyum. "Dalam 3 hari lagi,aku akan pulang ke desa".
"Tidak bisa gitu dong, Yasmin. Kamu terlalu cepat, memberikan kesempatan kepadanya. Cepat hubungi dia, bilang kepadanya jangan menemui mu dalam waktu yang dekat ini". Pinta Aina, sontak membuat Yasmin terkejut.
"Gak mungkin Aina,aku bilang seperti itu. Sedangkan tadi saja, kami baik-baik. Dia sibuk Aina, jangan menambah beban pikirannya". Tolak Yasmin, langsung.
"Gak papa, Yasmin. Anggap saja, pelajaran untuk pria seperti itu. Sini ponselmu,biar aku menghubunginya. Pasti kamu tidak sanggup,mengetiknya". Aina, ingin mengambil ponsel Yasmin. Tetapi,jauh lebih cepat sang pemilik.
"Aina,jangan aneh-aneh deh. Aku tidak mau merusak segalanya, kamu kenapa sih? Ngotot sekali,agar aku tidak baikan dengan suamiku. Sebenarnya,apa yang kamu pikirkan". Yasmin, kebingungan dengan jalan pikiran temannya.
"Ini semua demi kebaikanmu, Yasmin. Jika tidak mau menuruti perkataan ku, lebih baik kita tidak berteman lagi". Aina, beranjak berdiri dan melangkah pergi.
"Aina,apa yang kamu katakan? Kenapa kamu, tiba-tiba berubah?". Yasmin, mencekal lengan sahabatnya itu.
Lagi-lagi Aina, menepisnya. "Jika kamu tidak menuruti perkataan ku,jangan harap kita berteman lagi". Tegas Aina, melongos pergi begitu saja. Sontak membuat Yasmin, kebingungan jadinya.
"Pasti ada sesuatu yang, tidak beres". Gumam Yasmin,berniat untuk mengikuti temannya.
*************
"Tumben baru datang, biasanya cepat". Tanya Lusi, cengengesan
"kenapa dengan wajahmu, Aina? Masam sekali, seperti mangga muda". kekehnya Nuri, tersenyum kecil.
"Habis dari rumah Yasmin,". Jawabnya Aina, memasang wajah masam nya.
Yasmin, mengendap-endap agar semakin dekat. Berharap mendapatkan informasi,kenapa sahabatnya tiba-tiba berubah.
"Terus, kalian bertengkar begitu! Makanya kamu,kaya murung". Tebak Nuri, langsung.
Aina, menggeleng kepalanya. "Terus apa, Aina? Coba jelaskan semuanya,kepada kami". Pinta Lusi,yang penasaran ingin tahu.
__ADS_1
"Kalian ingat gak, dengan Hanafi teman kecilku sampai kuliah? Teman priaku,yang seringkali kutu buku". Kata Aina, menatap ke arah temannya saling bergantian.
Degggg....
Yasmin, terkejut mendengarnya. Jika suaminya,teman kecil Aina. "Jadi mas Hanafi, berteman dekat dengan Aina".
"Oh,yang culun itu!". Sahut Lusi dan Nuri, cekikikan tertawa.
"Sekarang beda jauh, lihatlah fotonya". Aina, langsung memperlihatkan sebuah foto Hanafi. Lengkap dengan baju dinasnya,saat bekerja di kantor kepala desa dan menjadi mandor di sawit.
"Sejak kapan Aina, memiliki foto-foto mas Hanafi? Lalu,apa yang terjadi". Gumam Yasmin,masih setia mendengar pembicaraan mereka.
"Apa? Astaga,dia benar-benar Hanafi". Lusi dan Nuri, menggeleng kepalanya. Mereka berdua, nampak tak percaya.
"Sangat tampan dan gagah kan? Dulu,dia cupu dan culun. Setiap hari menggunakan kacamata, suka baca buku. Asal kalian tahu,dia cinta pertamaku sejak dulu". Kata Aina,tanpa memperdulikan tatapan temannya. "Tapi, sekarang berbeda karena dia suaminya Yasmin".
Degggg...
Yasmin,syok mendengarnya. Jika Aina, mencintai suaminya sendiri. Apakah karena ini,kamu marah kepadaku Aina? lalu, berniat untuk merusak rumah tangga ku. Batin Yasmin, sekarang dia paham.
"Masa sih, kamu masih cinta sama dia? Bukankah kalian, sudah lama tidak bertemu". Tanya Lusi,apa yang di pikiran temannya memang salah.
"Awalnya aku bisa melupakan cintaku, Kepadanya. Waktu itu,aku tidak sengaja bertemu Hanafi dekat rumah Yasmin. Saat aku ingin, menjenguk keadaannya. Aku benar-benar terkejut,apa lagi dia sangat berubah drastis. Aku mulai mendekatinya,memang benar dia adalah Hanafi. Jujur saja, pertemuan itu memang tidak terduga. Tetapi cintaku, tiba-tiba ada lagi. Kami berdua saling bertukar cerita, ternyata dia Suaminya Yasmin. Terlihat jelas, Hanafi senang karena aku teman istrinya. Setiap hari mengirim pesan, ingin tahu bagaimana keadaan istrinya. Awalnya aku benar-benar kasian, rumah tangga mereka. Tetapi,aku merasa sakit hati dan cemburu". Ucap Aina, menghapus air matanya. "Tiba hari ini, rupanya mereka baikan. Seakan-akan aku tidak terima, entah kenapa aku tidak senang".
"Aina,bukan maksudku apa-apa. Tidak baik menghancurkan rumah tangga orang,apa lagi Yasmin sahabat dekatmu. Setidaknya kamu, lupakan saja". Nuri, menasehati temannya.
Sedangkan Yasmin, menangis di balik dinding. Sahabatnya masih mencintai suaminya,dia kecewa karena Aina menutupi pertemanan mereka.
"Aku sangat menyesal karena menasehati, Yasmin. Seandainya,aku tidak menasehatinya untuk baikan. Bisa jadi,aku mendapatkan kesempatan untuk memiliki Hanafi". Kata Aina, menangis kesegukan.
"Astagfirullah,buang pikiran mu jauh-jauh. Apa yang terjadi,jika Yasmin mengetahui sebenarnya". Lusi, menggeleng kepalanya.
__ADS_1
"Lalu, apakah Yasmin mengetahui jika kamu dan suaminya berteman? ". Tanya Nuri, langsung Aina menggeleng kepalanya.
Yasmin,tak kuat terus-terusan mendengar pembicaraan mereka. Dia memutuskan untuk pulang sana,karena dia tidak salah sama sekali.