
Ueekk...Ueeekk...Ueekkk..
"Mas". Lirih Yasmin,kasian kepada suaminya.
"Aku gak sanggup sayang, menemani kamu masuk ke pasar malam. Baunya gak enak,mana bau makanan dan parfum orang aneh-aneh". Hanafi, tidak sanggup mencium aroma macam-macam.
"Ayo,kita pulang saja". Kata Yasmin, raut wajah kecewa.
"Pergilah,gak papakan sendirian? Aku tunggu di mobil,". Kata Hanafi, tersenyum dan mengelus pipi mulus istrinya.
"Tapi,aku pengennya sana mas". Cicit Yasmin, cemberut.
"Maaf,mas tidak sanggup sayang. Maafkan aku,". Hanafi, membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Baiklah, tunggu sebentar aku mau beli cemilan di sana". Tunjuk Yasmin,ke arah penjual sosis bakar dan lainnya.
"Hati-hati yah, jalan di jaga dan jangan berlarian". Pinta Hanafi, langsung di angguki Yasmin.
Hanafi,dari kejauhan mengawasi gerak-gerik istrinya. Ada rasa khawatirnya, ingin sekali menemani. Tetapi,tak sanggup mencium aroma yang aneh-aneh.
Yasmin,tak henti-hentinya membeli beberapa cemilan yang di inginkannya. Sampai tiba hilang dari pandangan, Hanafi.
Hanafi, semakin gelisah gausar. Takutnya sang istri kenapa-kenapa, pasar malam semakin ramai. Sudah pasti Yasmin,berdesakan dengan orang lain.
Hampir 20 menit, Hanafi menunggu fan menunggu calingukan melihat istrinya.
Ada rasa lega ketika Yasmin,datang dan membawa beberapa kresek di tangannya.
"Maaf,lama nunggu. Heheheh...Habisnya, enak-enak makanannya". Kekeh Yasmin, tersenyum. "Kita duduk di taman,yuk". Ajak sang istri,yang di angguki oleh suaminya.
Yasmin dan Hanafi, menikmati malam minggu berdua di taman.
Seperti sepasang kekasih, yang tengah di mabuk cinta.
Ada canda tawa bersama, berbincang hangat dan menikmati suasana malam.
Malam semakin larut, Hanafi langsung mengajak istrinya pulang ke rumah.
Di perjalanan menuju pulang, Yasmin tertidur pulas. Hanafi, memegang erat jemari istrinya dan mencium lembut. Ada senyuman manis di sudut bibirnya.
*************
__ADS_1
Bulan berganti bulan,usia kandungannya Yasmin sudah beranjak 7 bulan.
Acara syukuran 7 bulan,di adakan di rumah orangtuanya Yasmin. Sangat ramai orang berdatangan, untuk membantu menyiapkan segalanya.
Pak Jamal, tersenyum merekah karena menantunya sudah kembali normal. Tidak meminta yang aneh-aneh,apa lagi mual-mual.
Yasmin,di make up tipis dan dihiasi dengan bunga-bunga melati. Senyumnya terpampang jelas di bibir, sungguh merasakan kebahagiaan ini.
Momen anak pertama, Hanafi membayar fotografer untuk meliput momen indah ini.
"Sangat cantik,". Hanafi, menyempatkan diri untuk mencium bibir istrinya.
"Mas..!". Lirih Yasmin, membulatkan matanya.Terkejut dengan keberanian sang suami, mencium bibirnya.
"Apa,sayang? Ini dalam kamar, walaupun pintunya tidak tertutup. Tetapi,gak ada yang melihat". Hanafi, terkekeh geli.
"Ada-ada saja,kamu mas". Gumam Yasmin, tersenyum manis.
"Ya sudah,aku keluar dulu. Sebentar lagi acara siraman di luar,aku tunggu di sana aja. Yasmin, makasih atas semuanya". Hanafi, mencium kening istrinya dengan lembut.
"E'ehmmm.... Acaranya siramannya mau mulai,kalian masih bermesraan tanpa memperdulikan tatapan orang-orang sekitar. Emang yah,kalau cinta sudah melekat. Dunia pun berasa milik berdua,". Ucap salah satu ibu-ibu,yang lainnya malah cekikikan tertawa.
Acara syukuran 7 bulan, berjalan dengan lancar. Yasmin,tak henti-hentinya tersenyum manis. Selama melangsungkan acara tersebut,banyak mengucapkan selamat dan mendoakan lancar sampai lahiran.
*************
Semakin hari semakin besar perut Yasmin, terkadang kesusahan untuk tidur. Berjalan pun cepat kelelahan,sukanya rebahan.
"Kenapa mas? Kok wajahnya kusut sekali,". Tanya Yasmin, mendekati suaminya baru datang bekerja.
"Masalah pekerjaan,sayang. Kamu, tidak mengerjakan yang berat-beratkan? Aku gak mau kamu dan anak kita, kenapa-kenapa". Hanafi, tersenyum dan mengelus rambut istrinya.
"Tidak ada mas,aku cuman masak kok. Palingan nyapu lantai,". Jawab Yasmin, bergelut manja di lengan suaminya. "Mas,kita belum belanja keperluan anak kita".
"Astagfirullah,aku lupa sayang. Ya sudah besok,kita belanja yah. Maaf,mas lupa". Hanafi, menepuk keningnya.
"Oke,tapi ajak ibu yah". Pinta Yasmin, tersenyum.
"Hmmmm...Apa sih,yang gak buat kamu. Tapi, setelah mas pulang dari kantor kepala desa. Ada sesuatu yang di kerjakan, besok ada beberapa orang baru masuk kerja". Kata Hanafi, langsing di angguki Yasmin.
"Oke,aku ngikut aja apa yang di katakan kamu mas". Kekehnya Yasmin, mencium pipi suaminya.
__ADS_1
"Loh,kenapa di pipi? Maunya di sini,". Hanafi, menunjukkan jarinya ke arah bibir.
Yasmin,masih malu-malu dan mulai mendekati bibir suaminya. Awalnya kecupan lembut, lama-lama berubah agresif.
Hanafi,yang sudah diselimuti gairah. Langsung melepaskan baju dinas dan melemparnya ke sembarang arah.
Tak cuman di situ, Hanafi melepaskan baju daster sang istri. Tak lupa mengunci pintu, takutnya ada yang masuk.
Suara desa-han menggema di ruang tamu, tidak cuman di situ. Hanafi, mengangkat tubuh istrinya ke dalam kamar. Melanjutkan permainan panas mereka, tidak memperdulikan siang hari.
Hampir 1 jam berlalu, Hanafi sudah selesai menerkam istrinya. Yasmin, terlelap dalam tidurnya kelelahan sehabis bercinta.
Di belakang rumah, Hanafi menghembuskan asap rokok dari mulutnya. semenjak sang istri hamil, jarang sekali merokok di rumah. Takut sang istri kenapa-kenapa, keringat membasahi tubuhnya sisa permainan panas tadi.
Dua batang rokok sudah habis, berulah dia masuk kedalam rumah dan menemui istrinya di dalam kamar.
"Darimana mas? Kebiasaan deh, selesai bercinta di siang hari pasti ngilang". Gerutu Yasmin, cemberut.
"Habis merokok, sayang. Di belakang rumah,lagi pengen saja". Jawab Hanafi, berbaring di samping istrinya. Tak lupa tangannya, bermain-main di gunung kembar.
"Aku kira mas, sudah berhenti merokok. Karena aku tidak melihat mas, merokok lagi". Kata Yasmin, menahan diri untuk tidak mende-sah. Apa lagi tangan suaminya,mulai turun ke bawah.
"Buka dong, biar tanganku masuk". Bisik Hanafi, mengigit telinga istrinya.
"Mas, jangan di gigit dong. Sakit tau,". Sungutnya Yasmin, mencibik bibirnya.
"Buka sayang,masa gak mau yang enak-enak". Bisiknya lagi,menjilat telinga istrinya.
"Menyebalkan sekali,jangan di jilat. Nanti basah tau, dasar mesum". Yasmin, mencubit lengan suaminya.
"Hahahaha.... Gemes akunya, sayang". Kini Hanafi, sudah di atas tubuh Yasmin.
Yasmin, tersenyum dan mencium seluruh wajah suaminya. "Mas,mau ngapain? Jangan aneh-aneh loh".
"Gak ada yang aneh kok, cuman mau servis full untuk istriku tersayang". Kekehnya Hanafi,mulai mencium leher istrinya dan turun ke gunung kembar.
Silih berganti menyusu seperti bayi, setelah puas bermain. Barulah turun ke bawah perut sang istri,yang sudah membesar. Tibalah saatnya di bawah, membuat Yasmin menggelinjang kegelian.
Lidah suaminya, menusuk-nusuk di dalam. Suara desa-han terus keluar dari mulutnya, Yasmin. Sesekali Hanafi, memainkan jarinya dengan kecepatan penuh.
Yasmin, terus mende-sah merem melek menikmati permainan sang suami. Ingin meminta lebih dan lebih, lagi-lagi Hanafi memancing istrinya itu.
__ADS_1