Melepas Dirimu

Melepas Dirimu
Rendang Daging


__ADS_3

"Assalamualaikum, Yasmin". Ucap seseorang, di ambang pintu.


Hanafi, langsung keluar dan menuju ke arah pintu. Matanya menatap intens, seorang wanita yang di kenalnya.


"Pak kades,maaf aku mau memberikan rendang daging kepasa Yasmin. Kami,baru berteman". Rosella, tersipu malu-malu.


"Oh, Yasmin sedang tidur. Makasih, rendangnya bu Rosella. Mau,saya bangunkan Yasmin". Tanya Hanafi, mengambil rendang daging di tangan Rosella.


"Aaah...Jangan pak kades,kasian Yasmin. Takutnya, kecapean. Saya, permisi dulu". Pamit Rosella,tak lupa dengan mata genitnya.


Membuat Hanafi, bergidik geli melihatnya. Dia, cepat-cepat meninggalkan pintu. Tak lupa,ke dapur untuk menyalin wadahnya. Sayang sekali untuk di buang,dia berniat untuk memberikan kepada seseorang yang tidak mampu.


"Ngapain kamu,mas? Apa itu,yang kamu tuangkan". Tanya Yasmin, sebenarnya dia tidak tidur. Melainkan,dari WC.


"Rendang daging,dari Rosella yang baru pindah. Daripada di buang,aku kasih ke mbok Jumi. Mereka membutuhkan makanan,yang layak". Jawab Hanafi, membasuh tangannya.


"Ck,kepada orang lain. Baiknya minta ampun,sama istri di sakiti". Gerutu Yasmin, dengan wajah masam.


Hanafi, tidak berkata apa-apa. Dia, langsung berisap-siap untuk mengantar rendang daging ini. Melongos melewati, istrinya.


"Jangan terlalu dekat dengan Rosella,aku tidak suka". Hanafi, menghentikan langkahnya.


"Bukan urusanmu, mas. Sama siapapun,aku dekat". Sahut Yasmin, dengan santainya.


"Terserah,aku cuman mengingatkan dirimu". Kata Hanafi, terdengar tegas.


Yasmin, tidak menghiraukan ucapan suaminya. Baginya, bodo amat.


Selesai mengantar rendang daging,Hanafi bergabung dengan bapak-bapak di warung kopi. Mereka semua, berbincang hangat dan membicarakan banyak hal


Ada sepasang mata,yang tengah mengawasi Hanafi dari kejauhan. Tampak semangat, untuk mendekati hanafi. Walaupun, berlahan-lahan saja.


**********

__ADS_1


"Yasmin,apa kabarmu? Lama sekali,kita tidak bertemu. Lihatlah, kehidupanku jauh lebih enak dari dulu". Kata Indah, tersenyum merekah.


"Lalu,apa hubungannya dengan ku? kalian, memangnya siapa? Dasar,gak jelas". Yasmin, memutarkan bola matanya. Dia,masih sibuk memilih beberapa sayuran.


"Ya ampun, sok gak kenal. Mentang-mentang punya suami, seorang kepala desa ini. Jauh beda dengan suamiku, seorang juragan sapi". Kata indah, mengejek Yasmin.


"Oh, jadi bangga menjadi istri kedua dan di cap sebagai pelakor. Idihhhhh....". Yasmin,bergidik geli.


"Lancang sekali, kamu berbicara seperti itu ha? Memang yah, mulutmu itu tidak pernah di didik". Sahut bu Yahya, langsung.


"Sudahlah,bu. Dia,iri dengan kita yang hidup serba mewah". Indah, lagi-lagi menyombongkan dirinya.


Yasmin,acuh dan tidak berkata apa-apa lagi. Memuakkan baginya, meladeni perkataan mereka. Semakin di lawan, semakin menjadi-jadi.


"Yasmin,kamu berbelanja sayuran. Sama aku, juga". Kekehnya Rosella, tersenyum manis. "Yasmin,boleh gak aku minta bantuan".


Yasmin, langsung terdiam dan menatap ke arah Rosella."Maaf, meminta bantuan apa?". Tanyanya, penasaran.


"Ck, bilang saja kamu ingin menggoda pak kades. Sama kaya dia, seorang janda gatal menggoda pak kades. Sehingga pak kades, menikahinya". Tunjuk Lela, langsung.


Plakkkk....


Yasmin, langsung menampar pipi Lela. Tidak terima dengan perkataannya, sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menahan diri. "Lancang sekali, kamu berbicara seperti ha! Lalu,kamu memiliki bukti kuat? Mana buktinya,saat aku menggoda pak kades. Nyatanya,dia yang berkata bahwa ingin menikahi ku. Lalu,di saksikan oleh orang-orang sekitar. Jaga mulut busuk mu,jangan sampai aku merobeknya". Ancam Yasmin, dengan suara lantangnya.


Lela, langsung ciut menghadapi Yasmin. Begitu juga Rosella, tercengang melihat keberaniannya.


Orang-orang sekitar, tentunya mempercayai ucapan Yasmin. "Huuuu....Lela,jaga mulutmu itu".


"Kamu, sudah memfitnah,bu kades".


"Apa yang di katakan,bu kades. Memang benar, bukankah kamu yang seringkali menggoda pak kades".


"Duhhh....Jangan bikin malu, Lela".

__ADS_1


Banyak lagi, cibiran dari ibu-ibu. Membuat Lela,menangis dan berlalu pergi. Yasmin, bernafas lega karena sudah melawan Lela.


**************


"Yasmin,apa yang sudah kamu lakukan? Lihatlah, orang lain tengah membicarakan dirimu yang bar-bar. Bahkan, sampai menampar wajah Lela". Hanafi, langsung pulang ke rumah. Di saat mendengar ucapan orang lain, tentang Yasmin.


"Kenapa, emangnya mas? Wajarlah,aku bersikap tegas terhadap Lela. Dia, seenaknya memfitnah ku di hadapan orang sekitar. Sesekali,aku memberikan dia efek jera. Mulutnya yang busuk,suka sekali menyebar berita yang buruk". Jawab Yasmin, menghentikan masaknya.


"Astaga,kamu kan tahu? Jika dirimu, istri seorang kepala desa di sini. Tidak bisakah, untuk diam dan tak perlu melawan ucapannya". Kata Hanafi, menggeleng kepalanya.


"Oh,jadi kamu senang hati mas. Di saat melihat istri mu,di rendahkan martabatnya. Di injak-injak, sesuka hati orang lain. Begitu kan mas,karena kamu suka sekali. Melihat ku, menderita dan tersakiti. Ingat mas,aku tidak akan tinggal diam saja. Jujur mas,aku benar-benar kecewa kepada mu. Bahkan,kamu bukan seorang suami yang selalu melindungi istri dan membelanya. Jujur mas,aku malu mengakui dirimu itu sebagai suamiku". Ucap Yasmin, menghapus air matanya. Berlalu,masuk kedalam kamar sebelah.


Hanafi,mengusap wajahnya dengan kasar. Melihat kepergian Yasmin,menghilang di balik pintu.


"Yasmin,keluar kamu dari kamar! Jika tidak aku, adukan kepada bapakmu". Teriak Hanafi, menggedor-gedor pintu kamar.


Yasmin,tak memperdulikan teriakan Suaminya. Dia, meringkuk di atas ranjang meratapi nasipnya. Air matanya mengalir deras,tak henti-hentinya.


Bruaakkkkkkk....


Pintu kamar terbuka lebar, Hanafi bersikukuh untuk mendobrak pintunya. "Bangun Yasmin,jangan menguji kesabaran ku ha". Hanafi,menarik lengan Yasmin.


"Lepassss....Mas, pergilahhh....Jangan mengganggu mas,". Teriak Yasmin,lalu menghempaskan tangan suaminya.


"Turuti perkataan ku, atau aku seret keluar dari kamar ini". Teriak Hanafi, dadanya naik turun mengontrol dirinya. Lagi-lagi Yasmin, mendorong tubuh suaminya itu.


"Cukup,mas!! Kamu, jangan menguji kesabaran ku. Pergilah,urus saja dirimu sendiri. Jangan menghiraukan ku,sanaaaa...". Teriak Yasmin,lagi.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Hanafi menyeret Yasmin keluar. Walaupun, Yasmin berusaha melepas dirinya. "Lepassss.... Lepassss.... Sakiiitttt mas,". Yasmin, meringis kesakitan. Di saat Hanafi, mempererat cengkalan tangannya.


Derai air mata Yasmin,tak mampu meluluhkan perasaan Hanafi. "Yasmin, patuhilah ucap ku ini! Jangan membangkang terhadap ku,paham! Jaga sikapmu Yasmin,jangan bikin malu".


"Kapan aku,bikin malu? Justru Lela, menuduhku macam-macam. Itu,sama saja membuat mu malu dan semakin malu. Ck,kamu memang suka melihat ku di tindas seperti itu kan". Decak Yasmin, menjauhkan dirinya dari Hanafi. "Jika kamu,merasa malu dengan sikapku. Ya sudah,kita berpisah mas. Apa susahnya,biar aku tidak membuatmu malu lagi". Sambung Yasmin, membuat Hanafi menggeretakkan giginya. Tangannya mengepal kuat,tak menyukai perkataan pisah dari mulut istrinya.

__ADS_1


__ADS_2