
"Mbak, kenapa mau menikah dengan juragan Tono? Mau-maunya,jadi istri kedua pria tua itu". Faris, menggeleng kepalanya. Bagaimana bisa, kakaknya menikah dengan juragan Tono? Memiliki peternakan sapi,yang lumayan banyak dan beberapa empang.
"Terserah mbakmu, Faris. Baguslah,jika mbakmu menikah dengan seorang juragan Tono. Banyak uang dan terjamin kehidupan indah". Sahut bu Yahya, menyetujui pilihan anaknya.
"Istri pertamanya, sakit-sakitan Faris. Semoga saja, istri pertamanya cepat mati. Biar aku, yang berkuasa. Ini adalah kesempatan emas,mana mungkin mbak mengabaikan. Jadi, Mbak bisa menginjak-injak harga diri Yasmin". Kata indah, tersenyum smrik.
"Benar,aku setuju dengan Indah. Sebagai Abang,tertua yang baik. Jelas, merestui hubungan antara indah dan juragan Tono. Apa lagi, juragan Tono seringkali datang ke sini. Dia, sudah terpikat dengan indah. Kita, bisa santai-santai tanpa bekerja keras seperti ini". Tegas Hamid, menepuk pundak Faris.
"Terserah,aku tidak ikut. Lebih baik,aku tinggal di sini dan bekerja di sawit". Bantah Faris, langsung.
"Baguslah,jika kamu tidak ikut nantinya". Sahut indah, menatap sinis terhadap adiknya.
"Kamu ini yah, Faris. Mau di ajak hidup enak, gak mau. Kamu, ingin terus-menerus seperti ini ha? Pikir Faris,siapa tahu? Kamu, dapat pekerjaan yang bagus dari suaminya indah". Bentak bu Yahya, langsung.
"Intinya, Faris tidak mau bergantungan dengan kalian. Aku, ingin membuka lembaran baru. Jangan ganggu aku, semoga langgeng tarus sampai kakek nenek Mbak. Cuman itu,doaku untuk Mbak indah ". Kata Faris, langsung berangkat kerja.
"Aneh sekali,mau di ajak hidup enak gak mau". Gumam Indah.
"Alahhhh.... Biarkan saja, nanti dia berubah pikiran kok". Sahut Hamid, tersenyum.
Indah, tidak sabar menikmati kehidupan mewahnya. Tidak masalah menikah dengan,pria jauh lebih tua. Asalkan,uang dan uang. Tidak memperdulikan,jika dirinya menjadi istri kedua.
"Ibu, tidak sabar tinggal di rumah mewahnya berlantai dua itu". Kata bu Yahya,mulai berkhayal kemana-mana.
Tiba waktunya, juragan Tono datang. Dia,membawa penghulu dan saksi-saksi lainnya. Sudah pastilah,di atur oleh juragan Tono.
Mata berbinar seketika, melihat kemolekan tubuh indah.tak sabar, mencicipi istri barunya itu.
Ijab Kabul, berjalan dengan lancar. Akhirnya, Indah sah menjadi istri muda seperti juragan Tono.
"Mas, apakah ibu dan abangku bisa ikut". Rengeknya Indah, bergelut manja dengan pria tua. Ueeeekk.. ingin sekali,indah muntah saat ini. Tetapi,dia tahan demi uang dan uang.
__ADS_1
"Tentu boleh, istriku". Jawab juragan Tono, langsung membawa indah ke dalam mobil. Tak lupa, memboyong ibu dan kakaknya.
Bu yahya dan Hamid, tersenyum merekah. Mereka berdua, tidak sabar untuk menikmati menjadi orang kaya lagi.
Juragan Tono,tak sabar ingin memiliki seutuhnya tubuh indah. Di dalam mobil,tangan juragan Tono tidak diam. Membuat Indah,merasa risih dengan kelakuan pria tua itu.
"Abangmu, tidak memiliki pekerjaan kan? Dia,bisa bekerja di kandang sapi. Cari bahan pangan sapi,bersihkan kandang sapi,dan lainnya. Nanti, abangmu akan di urus oleh kepercayaan mas". Ucap juragan Tono, tersenyum smrik.
"Apa? Apa tidak ada pekerjaan lainnya,masa disuruh merawat sapi". Gerutu Hamid, langsung membantah.
"Kalau tidak mau, jangan tinggal di tempatku. Aku, cuman menginginkan indah. Bukan kamu, jika tidak mau. Yah, silahkan sana pergi". Tegas juragan Tono, dengan tatapan tajam.
"Mau yang mana,bang? Mau kerja sama suamiku,atau kerja di sawit sama Faris". Sahut indah, kesal dengan Kakaknya.
"Mending di sawit lah,ogah sama sapi". Tolak Hamid, langsung. Mobil, tiba-tiba berhenti berjalan.
"Ya sudah,keluar kamu sana. Tidak perlu, ikut dengan kami". perintah juragan Tono, langsung bergegas Hamid keluar dari mobil.
*************
Pernikahan Indah dan juragan Tono. Tersebar luas, tentunya di penuhi dengan cibiran dari orang-orang sekitar.
"Mau-maunya yah, indah menikah dengan juragan Tono. Sudah tua begitu,". Kata pak Jamal, menghirup secangkir kopi panas.
"Biarlah,dia juga yang jalani rumah tangganya pak. Kita, doakan semoga yang terbaik untuk indah". Sahut bu Aminah, karena tidak menyukai suaminya menjelekkan orang lain.
"Yasmin, sebenarnya juragan Tono pernah untuk niat menikahi mu. Jelaslah,bapak tolak mentah-mentah. Mana mungkin, menikah anak bapak kepada pria tua dan memiliki istri". Pak Jamal, melirik ke arah Yasmin.
Yasmin, cengir kuda mendengar ucapan ayahnya. Palingan demi uang,mana mau Mbak indah sama pria tua. Batin Yasmin, menggeleng kepalanya.
"Besok siap-siap Yasmin,kamu akan menikah dengan nak Hanafi. Jangan bikin malu dan jangan bikin aneh-aneh". Tegas pak Jamal, langsung di angguki Yasmin.
__ADS_1
"Pak, sudahlah jangan ngomong seperti itu. Yasmin, bukan anak kecil lagi. Insyaallah, besok berjalan dengan lancar. Yakan Yasmin,". Bu Aminah, menoleh ke arah anaknya.
"Iya,bu. Yasmin, tidak berbuat macam-macam. Tenang saja, Yasmin tidak akan mempermalukan kalian lagi. Buktinya, sudah sampai tahap ini". Jawab Yasmin, tersenyum manis.
"Baguslah, kamu diam di dalam kamar saja. Jangan keluar, tidak perlu membantu yang lainnya. Bapak,pegang ucapan mu Yasmin". Tegas pak Jamal, berlalu pergi meninggalkan istri dan anaknya.
Yasmin, lagi-lagi terdiam. Ada rasa sesak di dadanya, seakan-akan dirinya tengah di paksakan.
"Nak, jangan dengarkan perkataan bapak mu. Dia, tegas seperti itu demi kebaikan mu. Bapak, sangat takut jika terulang lagi dan mengecewakan perasaannya". Bu Aminah, menenangkan hati anaknya.
"Gak papa,bu. Aku paham kok,bu. Coba saja,dulu mengikuti perkataan bapak. Kemungkinan, Yasmin tidak pernah merasakan gagap berumah tangga". Yasmin, tertunduk sedih.
"Gak papa,nak. Ini adalah pelajaran untukmu,agar kedepannya jauh lebih baik". Bu Aminah, memeluk erat tubuh anaknya.
"Makasih,bu. Maaf, Yasmin pernah mengecewakan perasaan ibu dan bapak. Insyaallah, Yasmin tidak akan mengecewakan kalian lagi". Yasmin, menghapus air matanya. Entahlah,apa yang terjadi di pernikahan nanti? Apa aku sanggup, menghadapi sikap mas Hanafi. Ya Allah, semoga mas Hanafi tidak seburuk itu.
Ya Allah, lindungilah pernikahan anak kami. Cukup sekali,dia merasakan terpuruk gagalnya membina rumah tangga. Untuk kali ini, tidak lagi. Batin bu Aminah, mengelus pucuk kepala anaknya.
Ting......
Sebuah pesan masuk di ponselnya, Yasmin. Tertera, tidak ada nama.
[Lihatlah, calon suamimu sangat dekat sekali dengan seorang wanita. Tidak wajar kan, wanita itu bergelut manja dengan pak Hanafi. Walaupun, mereka sepupuan].
Seseorang mengirim foto Hanafi, bersama dengan seorang wanita. Berpose dengan bergandengan tangan.
Yasmin, memilih untuk diam dan tidak membalas pesan misterius tersebut. Toh, untuk apa mencari tahu dan cemburu. karena mereka, tidak ada rasa cinta.
[Pastilah, wanita itu akan mengusik rumah tangga mu dan pak Hanafi].
"Siapa sih,ngirim pesan gak jelas? dasar kurang kerjaan, sekali." Gerutu Yasmin, langsung memblokir nomor tersebut.
__ADS_1