
Bram bangun setelah beberapa jam tertidur karna mabuk, kepalanya terasa pengar, Bram membawakannya air lemon untuk meredakan sakit kepala Rey "Minuman anda tuan"
"Terimakasih Bram" Rey menegak cairan yang terasa asam itu dan sedikit merasa baik.
Bram berdehem sebelum membuka suara "Tu..an" Bram menghela nafasnya,sedangkan Rey melihat kearahnya menunggu "Tadi nona Nayla kesini"
"Nayla lalu?"
"Itu.. dia kemari saat kau mabuk"
"Jangan bilang aku meracau saat aku mabuk"
"Y..ya dan anda bicara tentang kecelakaan itu" Rey mematung sesaat , "Sh it" Rey segera bangkit untuk mencari ponselnya.
Dengan gelisah Rey menekan kontak Nayla tersambung namun setelah beberapa saat malah terdengar suara operator bicara.
Rey mencoba sekali lagi namun nomer Nay malah tak bisa dihubungi.
__ADS_1
Rey mengambil jaketnya "Bram aku harus menemuinya" Rey melesat pergi.
Bram menghela nafasnya, ini lebih sulit dari yang dibayangkan, karna mau tak mau tuannya harus menerima perjodohannya, dan mengakhiri hubungannya dengan Nay yang bahkan belum seumur jagung.
Rey terus merapalkan permohonan semoga Nayla mau mendengar penjelasannya.
Nayla mengurung diri dikamar setelah dari apartemen Rey, dia tak melihat Ibu, mungkinkah ini alasan Ibu melarangnya berhubungan lagi dengan Rey,apa yang harus Nay lakukan sekarang Nay meremas rambutnya kepalanya semakin sakit telinganya terasa berdengung, dengan cepat Nay mengambil obat di dalam laci dan meminumnya bayangan itu saat kecelakaan itu terjadi terlintas kembali di kepalanya.
"Aaaaaaa" teriak Nay.
Nay hanya menangis "Nay lihat Ibu sayang" Ibu mengampit wajah Nayla "Lihat Ibu Nak,tenang lah"
Ibu memeluk Nayla "Tenang,.. sssstt sudah sayang semua baik baik saja"
Nayla menangis sejadi jadinya di pelukan Ibu, hingga tersisa isakan kecil, Ibu masih memeluk Nayla sambil mengelus punggung Nayla.
Bima baru saja pulang dan melihat Rey yang berjalan di depannya bergegas Bima menghadang sebelum Rey mencapai pintu. "Mau apa kamu kesini" tatapan tajam Bima begitu menusuk Rey, bahkan rautnya menyiratkan kebencian tak ada lagi kata kakak yang terucap dari Bima.
__ADS_1
"Bim, Nayla ada?"
"Gak usah cari kak Nay lagi pergi kamu" Andai Bima bukan adik Nay,mungkin Rey sudah mengangkat lalu melempar tubuhnya hingga tak menghalangi langkahnya,anak yang berumur 15 tahun itu begitu lantang dan berani menghadangnya.
"Tolong Bima Kakak harus bicara sama kakak kamu Nayla,kakak harus menjelaskan sesuatu"
"Sesuatu apa,mengatakan bahwa kamu adalah orang yang menyebabkan ayah kami kehilangan nyawa begitu"
"Bim kakak harus jelaskan"
"Gak ada, sana pergi jangan kembali lagi kesini" Bima masuk kedalam rumah lalu mengunci pintu.
Bima melangkahkan kakinya ke arah kamar Nayla,melihat kakaknya yang tengah tertidur di pangkuan Ibunya. Bima yang tak tau Nayla sedang bersedih langsung berkata "Diluar ada si Rey" Ibu menyentuhkan jari telunjuknya di bibir namun terlambat Nayla yang belum terlelap membuka matanya kembali, dan langsung terduduk.
"Biarin aja" kata Nayla lemas bangun dan masuk kekamar mandi.
Di dalam kamar mandi Nayla meremas dadanya Nayla mengira cintanya masih belum terlalu dalam pada Rey,karna belum terlalu lama.tapi kenapa mengingat akan keputusan yang sudah ia tekadkan mampu membuat hatinya sakit.
__ADS_1