
Rey membawa Nayla jalan jalan dan pergi kemana pun Nayla mau setelah sarapan bersama,Nayla sempat bertanya kenapa Naura tak ikut ,namun jawaban Rey membuat Nay salah tingkah, "Kita butuh waktu hanya berdua sayang" dan itu membuat Nay tersenyum malu malu.
*
*
"Kita akan ke butik untuk pakaian pengantin kita"
"Hari ini?"
"Iya tak ada waktu lagi,lagi pula hanya itu saja, sisanya akan di urus Daniel"
"Daniel harus mendapatkan bonus besar karna sudah di repotkan"
Rey mengangguk setuju "Baiklah sesuai keinginanmu" Rey mengecup tangan Nay dan sebelah tangannya menyetir mobilnya.
Rey mengandeng Nay memasuki butik pakaian pengantin ternama,dan mulai memilih "Tidak sayang itu terlalu terbuka" Rey menolak gaun yang ditunjuk Nay yang memiliki model punggung transparan sampai atas bokong,tentu saja dia tak mau punggung mulus Nay dilihat orang lain nanti.
"Bagaimana dengan yang ini?"
"Tidak.. orang bisa melihat bahu mulusmu"
Nayla menghentakkan kakinya lalu duduk sambil menyilangkan tangannya di depan dada "Kamu kenapa?" tanya Rey,namun pandangannya masih fokus kearah ponselnya,karna merasa tak ada jawaban Rey pun mengalihkan pandangannya pada Nay "Kenapa sayang?"
Nayla mengehela nafasnya "Baiklah tuan Rey silahkan pilih sendiri apa yang harus ku pakai,aku akan memakainya dengan senang hati" sejak dua jam lalu Nayla hanya memilih tanpa satu pun disetujui oleh Rey,bahkan seorang pegawai yang menemani pun sudah kewalahan.
"Begini tuan dan nona, saya bisa membuatkan khusus dan sesuai yang kalian inginkan" akhirnya pemilik butik angkat bicara.
"Ah tapi waktunya tidak akan cukup,pernikahan nya satu minggu lagi" dan semua ini gara gara Rey, pagi tadi saat Rey hampir hilang kendali Ibu memergoki Rey yang sedang berada di atas tubuh Nay, sontak saja Ibu menjerit terkejut,dan akhirnya keputusan pun diambil tak akan ada pertunangan dan langsung saja menikah,dari pada anaknya hamil duluan gara gara nafsu duda anak satu itu.
Jangan tanya bagaimana senangnya Rey,tentu saja pria tua itu bahagia sampai sedari tadi ia tak berhenti tersenyum.
"Bisakah kau buatkan dalam waktu satu minggu?" tanya Rey "Aku akan bayar tiga kali lipat" Senyum sang pemilik butik tersungging tentu saja ia akan melaksanakannya.
"Baiklah akan saya usahakan" dan akhirnya mereka melihat contoh desain yang akan Nay kenakan, tentu saja atas seizin Rey.
__ADS_1
Mereka keluar dari butik saat semuanya sudah selesai termasuk toxedo yang akan Rey kenakan.
Hari sudah sore saat mereka tiba di pantai, Rey dan Nayla saling menggenggam satu sama lain berjalan di pinggir pantai dan merasakan kaki mereka bersentuhan diatas pasir tanpa alas kaki.
Senyum terus tersungging diantara keduanya.
Rey memeluk Nay dari belakang saat menyaksikan matahari terbenam "Terimakasih.." bisiknya.
"Huh??"
"Terimaksih sudah menungguku,dan terimakasih sudah mau hidup dengan ku, aku pria tua brengsek yang paling beruntung" Rey mengecup pucuk kepala Nay.
Nay mengangguk dan membalikan tubuhnya hingga mereka kini saling berhadapan "Terimakasih juga sudah kembali, terimakasih karna masih mencintaiku" Nay mendaratkan bibirnya di pipi Rey,sebuah kecupan yang membuat Rey tersenyum bahagia meski hanya di pipi.
"Aku akan terus mencintaimu" Rey memeluk Nay erat dan membubuhkan kecupan lagi dan lagi.
Dari kejauhan seorang perempuan memandang kearah Rey dan Nayla, menyorotkan matanya tajam,dengan tangan mengepal kuat.
.
.
Begitu sampai Nay di sambut Ibu Rey, "Ayo masuk, kami menunggu untuk makan malam" Ibu mengampit tangan Nay menuju ruang makan "Bagaimana kalian sudah memilih gaun untuk pertunangan?"
"Tidak jadi tunangan" kata Rey "Kami langsung menikah" lanjutnya.
"Bagaimana bisa.."
"Karna permintaan ibu Nay" Rey berucap tenang, sedang Nay hanya mencebik ini kan gara gara Rey.
"Ya sudah biar ibu bicara dengan bu Santi nanti,sekarang kita makan malam terlebih dulu"
Nayla melihat Meylani dan Naura namun ada seseorang yang tidak Nay kenal disana seorang perempuan cantik terkesan anggun,dan.. "Ehm.. Hai kamu pasti Nayla, kenalkan aku Amanda"Amanda mengulurkan tangannya.
"Oh.. hai aku Nayla" sapa Nay juga.
__ADS_1
"Aku sepupu suami Meylani" kata Amanda,dari sorotnya Nay melihat seolah dirinya tengah menjelaskan bahwa Amanda hanya keluarga,Nayla hanya mengangguk saja.
"Bu Nay jadi nginep kan?"
"Ya sayang"
"Yey.. kita bisa tidur berdua" Naura memeluk Nay. Nayla tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Naura.
"Ya tentu saja"
"Hai kak Nay" Meylani memeluk Nayla.
"Hei Mey, maaf kemarin belum banyak berbincang,aku penasaran ini sudah berapa bulan?" Nay menyentuh perut Meylani yang sedang mengandung.
"Baru 6 bulan, tidak apa malam ini kita bisa banyak berbincang aku kangen banget sama kakak"
"Ya tentu saja kita bisa tidur bertiga dengan Naura"
"Bolehkah..apa tidak menggangu acara ibu dan anak?" Nayla menggeleng.
"Tidak.."
"Sudah...Ayo duduk sayang"Rey menarik kursi di sebelahnya untuk Nayla. "Nanti kalian bisa bicara sepuasnya setelah makan,kamu pasti sudah lapar.
"Kamu mau makan apa Rey biar ku ambilkan" tiba tiba Amanda menawarkan diri.
Nayla masih diam menunggu reaksi Rey, meski keningnya agak mengkerut,Nayla juga melihat ke arah Meylani yang mencebik dan menatap tajam Amanda.
Sedangkan ibu melihatnya dan tersenyum sungkan pada Nayla.
Ada apa memangnya?
"Tidak perlu kau bisa duduk, dan bersikaplah seperti seorang tamu nona Amanda!" Rey menatap Amanda tajam,namun tak membuat Amanda takut dan menyerah begitu saja.
"Tidak apa Rey, aku tidak keberatan"
__ADS_1
Nayla berdehem "Tidak apa apa nona Amanda duduklah biar aku yang mengambilkan makanan untuk calon suamiku" Amanda terdiam seketika lalu tersenyum canggung, sedang Rey menatap hangat kearah Nayla tidak menyangka bahwa Nay akan mengatakan hal itu di depan semua orang.
Sedang Meylani tersenyum penuh kemenangan,dan ibu mulai makan mereka,tak lagi khawatir akan ada perdebatan diantara mereka.