
Rey masih berlutut dihadapan ibu, "Apa yang akan kamu buktikan bahwa kamu tidak akan menyakiti Nayla?"
"Apapun yang anda inginkan akan saya lakukan" jawab Rey.
"Baiklah bawa orang tuamu, dan suruh mereka berlutut dihadapanku"
"Maaf saya tidak bisa melakukan itu" Rey memang menceritakan tentang kehidupannya,namun ia tak menceritakan kematian daddynya, atau keadaan hubungan nya dengan ibunya sangat buruk, dan Rey tak ingin melibatkan wanita itu lagi dalam hidupnya,jika bisa.
Ibu terkekeh "Kamu takut harga diri orang tuamu tercoreng dengan berlutut didepan kami, yang hanya keluarga miskin"
Rey menggeleng sungguh itu tidak ada dalam benaknya "Maka dari itu pergilah tinggalkan Nayla, kami tidak sederajat dengan kalian dan hanya akan membuat keluargamu malu"
"Daddy sudah meninggal.." Ibu diam dengan wajah yang sedikit terkejut "Jadi saya tak mungkin bisa memintanya datang dan berlutut di depan ibu"
"Dan Ibu saya,, hubungan saya dan Ibu merenggang karna.."
"Karna ibumu tak menyetujui hubungan mu dan Nayla" potong ibu, Rey mengangguk.
"Lalu apa yang akan dilakukan oleh pria sepertimu,bahwa dengan ibumu saja kamu tidak punya hubungan baik, apalagi nanti jika Nay menjadi istrimu,, haruskan ia menjadi menantu yang di benci mertua nya, dan hidup dalam kesedihan.. begitu?"
"Aku tak mau setetes air mata Nayla menangisi kesedihan apalagi hanya karna orang orang seperti kalian"
"Saya akan pastikan itu tidak akan terjadi"
"Ya mungkin saat ada kamu ibumu akan bersikap baik,bagaimana dibelakangmu"
"Sepertinya ibu terlalu sering melihat drama ikan terbang" kekeh Bima yang kini melihat perdebatan Ibu dan Rey.
"Kami bisa hidup jauh darinya bila perlu hanya ada kami, dan aku tidak akan membiarkan ibuku mendekati Nya"
__ADS_1
"Astaga.." desah ibu "Kau fikir Nayla mau suaminya nanti menjadi anak durhaka yang menjauh dari anaknya"
Rey mengulum senyum kala kata suami yang Ibu Nay ucapkan "Jangan tersenyum, aku serius!!"
"Maafkan saya bu" Rey kembali menunduk.
"Aku tak mau tau bawa ibu mu kemari, biar aku yang menilai seberapa tulusnya kalian"
"Apakah itu artinya ada kesempatan untuk ku" Rey mendongak.
"Jangan berharap lebih, aku yang akan memutuskan nanti"
Rey beranjak dari berlututnya "Baiklah saya akan pastikan Ibu saya datang"
Ibu memalingkan muka, Rey menyalami ibu dan pergi dari rumah Nay, Bima mencebik saat Rey pergi menjauh.
"Ibu terlalu baik sama dia"
"Auh.. sakit bu beneran" Bima mengusap telinganya yang terasa panas "lagian kemarin aku udah ngerjain Rey"
"Hah?"
"Aku nguras ATM Rey lebih dari lima ratus juta"
"Hah?"
"Kenapa...kebanyakan ya bu?"
"Kurang banyak harusnya 1M sekalian.
__ADS_1
Buat beli apa?"
"Aku beli 5 motor"
"Terus motornya mana?"
"Ya...dirumah Rey lah ngapain dibawa kesini"
PLAK..
"Aduh ibu,, sakit" Ibu mengeplak kepala Bima.
"Harusnya bawa kesini"
"Ck.. buat apa"
"Kita buat usaha ojek online" ibu menyeringai.
"Ish.. sejak kapan ibu jadi mata duitan, lagian motor nya mahal mahal bu, sayang kalo di sewain buat ngojek"
"Terus ngapain motornya di bawa kerumah Rey"
"Di titip bu, sampai ibu ngasih restu baru Bima tarik tuh motor"
PLAK..
Lagi lagi ibu mengeplak kepala Bima.
"Ish ibu.." Ibu pergi dari hadapan Bima tanpa bicara lagi.
__ADS_1
Ibu melewati kamar Nay, masih terdengar isakan dari dalam kamar Nay, Ibu berlalu dan masuk kedalam kamarnya biarlah ibu terlihat buruk sekarang ibu hanya harus memastikan Nayla tak terluka lagi nanti.