
"Apa yang kamu berikan padaku Amanda?" Nayla merasakan matanya mulai berkunang kunang.
"Tenanglah, dan nikmati saja sensasinya" Amanda melepas ikatan Nayla saat tubuh Nayla terasa semakin lemas.
Nayla mulai terbatuk saat merasakan tenggorokannya terasa panas, panas yang semakin menjalar keseluruh tubuhnya,keringat mulai muncul di dahi Nayla meremas rambutnya saat merasakan tubuhnya terasa mendidih.
"Kamu sudah mulai merasakan nya kamu butuh bantuan seseorang Nayla" Amanda terkekeh.
"Sebentar lagi Rey akan datang dan dia akan menyaksikan kehancurannya sendiri,bagaimana jika dia menyaksikan wanita yang dicintainya hancur, kehormatannya dikoyak oleh dua pria sekaligus.. ck.. itu akan menjadi kehancurannya yang paling sempurna, dia akan merasa bersalah karna tak bisa menjaga kekasihnya sendiri"
"Kamu.. brengsek Amanda" Amanda tertawa saat melihat tangan Nayla mengepal menahan rasa didalam tubuhnya yang semakin membara.
"Jangan ditahan Nayla, kamu bisa mati lebih baik terima bantuanku kamu hanya perlu menyerahkan dirimu dua pria di depanmu bisa memuaskan has ratmu sekarang" obat perangsang yang Amanda berikan semakin bereaksi.
Nayla semakin terbakar tidak ia tak boleh menyerah ia tak akan menyerah,tapi rasa sakit dan rasa gatal pada intinya semakin mendesaknya,nafasnya mulai terengah.
Brak.. Rey menendang pintu gudang tempat penyekapan Nayla, dan disambut tepukan tangan oleh Amanda tepat waktu.
__ADS_1
Dua orang pria menodongkan senjata pada Rey, namun tatapan Rey terfokus pada Nayla yang duduk dengan gelisah, wajahnya memerah,dengan mata yang terpejam erat "Apa yang kau lakukan sialan" Rey hendak maju namun Amanda menodongkan senjata pada Nayla.
"Maju lah maka aku akan menembaknya"
"Bereng sek sia lan kau,apa yang kau berikan padanya?"
"Hanya obat perangsang, lihat sampai kapan dia akan bertahan tidak meminta bantuan pada dua pria itu" Amanda duduk tenang dengan pistol yang masih mengarah pada Nayla.
"Rey.. tolong... akkhh" Nayla hendak berjalan meski sempoyongan ke arah Rey, namun dua pria berbadan tegap itu menahannya dan mulai meraba pinggang Nay.
Amanda tertawa hambar "Aku.. aku mau penderitaanmu!" Amanda merasa sakit saat Sonia meninggal Sonia yang selama ini menemaninya dan menghiburnya disaat ia diabaikan oleh keluarga dan orang disekitarnya,hanya Sonia yang menerimannya,dia kehilangan Sonia dan itu semua gara gara Rey,cinta pertama Sonia dengan kejamnya mengabaikan Sonia hingga Sonia meregang nyawanya seorang diri.
"Dan penderitaanmu saat Nayla hancur,itu akan sempurna bukan"
Rey meremas rambutnya ia seakan kehilangan nafasnya saat lagi lagi Nay berteriak "REY... Akhhh"
Amanda memang hanya memberi sedikit obat perangsang itu agar Nayla masih tersadar dan dengan mendengar jeritan Nayla akan semakin membuat Rey menderita "Maafkan aku sayang.."
__ADS_1
Nayla meremas gaun pengantinnya yang sudah tak berbentuk beberapa robekan akibat tarikan tangannya sendiri Nayla mencakar tangannya sendiri hingga berdarah, namun tak terasa sedikitpun.
"Jangan lakukan itu sayang.. jangan lukai dirimu.." Nayla terus mencakar dari leher hingga tangan bahkan kaki, berharap akan mengalihkan rasa sakitnya
"Kumohon Amanda berhentilah" Rey terduduk ia sungguh tak sanggup melihat Nay begitu kesakitan.
"Rupanya dia cukup kuat juga, baiklah kalian boleh memulainya" katanya pada dua pria yang sejak tadi menunggu perintah.
"Tidak jangan.. jangan lakukan itu Si alan !!" teriak Rey.
Namun semakin Rey menderita Amanda semakin terbahak.
Dua pria berbadan besar itu mulai mendekati Nayla berjongkok dan mulai meraba paha Nayla merambat keatas,"Tidak jangan lakukan ku mohon" Nayla mundur dan semakin mundur.
Rey tak berdaya saat pistol yang dipegang Amanda masih mengarah pada Nayla.
"Maafkan aku sayang.." Rey tertunduk air matanya mengalir deras ia tak berdaya,Rey baji ngan ia bahkan tak bisa melindungi Nayla nya.
__ADS_1