
Meylani masuk lebih dulu kerumah Rey,mengabaikan ibu juga Amanda yang berada di belakang.
"Tante Mey.." Naura berlari senang menyambut Meylani dan memeluknya, "Grandma.."
"Oh cucu Grandma,sudah makin besar"
Naura beralih melihat Amanda "Hai sayang aku Amanda" Amanda mengulurkan tangannya,namun Naura hanya mengangkat bahunya acuh.
"Naura gak boleh gitu sayang,kenalin ini tante Amanda"
"Naura udah denger Grandma"
"Naura" Meylani memanggil "Ayo kita temuin Daddy" Naura menyambut uluran tangan Meylani dan berjalan masuk untuk menemui Rey.
"Kalian sudah datang?" Rey bergegas lalu memeluk Mey, juga mengecup keningnya.
Rey melihat kearah ibu dan seseorang di belakangnya,Rey mengangkat alisnya "Emm Rey kami bertemu di bandara dan ibu mengajak Amanda untuk menginap saja disini,tidak apa kan?"
"Apa semua hotel sudah penuh, lalu jika dia sudah datang jika aku menolak apa ibu akan mengusirnya"
"Rey kenapa bicara seperti itu.."
"Pastikan saja dia tak membuat ulah.." Rey berbalik dan mengampit Meylani,untuk istirahat dikamarnya.
Ibu mendesah, bahkan Rey tak bertanya kabarnya.
Sedang di belakang Amanda mengepalkan tangannya 'Sial lihat saja nanti kau akan tunduk padaku'
"Ayo Manda kita istirahat dulu"
Rey,ibu dan Meylani duduk di kursi di ruang keluarga setelah mereka istirahat beberapa jam.
"Langsung saja,, aku akan menikah" kata Rey, sontak saja ibu dan Meylani terkejut,selama ini Rey tak pernah dekat dengan perempuan mana pun,lalu tanpa basa basi ia mengatakan akan menikah.
"Kakak bercanda?"
Namun raut Rey tak menunjukkan bahwa dirinya sedang bercanda.
"Siapa wanita yang beruntung itu?"
"Bukan dia tapi aku yang beruntung"
"Boleh ibu tau siapa dia?" tanya Ibu.
"Tentu karna aku juga ingin ibu melakukan sesuatu"
__ADS_1
Ibu mengeryit "Ibu akan berusaha.."
Rey menggeleng "Tidak ibu jangan coba coba melakukan apapun,cukup lakukan satu hal"
Meylani hanya mendengarkan lalu menghela nafasnya, kakaknya masih saja keras terhadap ibu.
"Baiklah, apa yang harus ibu lakukan" desahnya.
"Tidak berat, hanya berlutut dan meminta maaf pada mereka"
Ibu tercekat "A..apa? berlutut" sungguh itu melukai harga dirinya.
"Kakak bercanda?" sanggah Mey.
"Itu tidak seberapa dengan apa yang sudah ibu lakukan pada keluarga mereka"
"Apa maksudmu Nak?"
"Memang kesalahan apa yang sudah ibu lakukan,pada mereka, siapa mereka,siapa calon istri kakak?" Meylani makin penasaran.
"Nayla" Satu nama yang membuat ibu dan Meylani tercekat,dan mendasak suasana menjadi hening.
Di balik pintu Amanda mendengarkan sambil menyeringai 'Wah sepertinya akan seru'
.
.
"Oh kami akan menemui kakak iparku" kata Meylani bangga.
Sedangkan ibu hanya tersenyum tipis "Oh ya, boleh aku ikut?" tanya nya.
Belum Meylani menjawab Rey turun dengan Naura di genggamannya, sungguh pemandangan yang langka bagi ibu dan Meylani, dan Amanda juga sempat terpana melihat Rey yang tampil sempurna dan terlihat tampan.
"Kalian sudah siap?"
"Iya kak ayo"Meylani begitu bersemangat begitu tau siapa yang akan mereka lamar.
"Amanda kami pergi dulu" Ibu menepuk punggung Amanda lembut.
"Boleh kah aku ikut, aku sendirian dirumah ini?" Amanda memelas.
"Maaf Amanda ini acara keluarga " cegah Mey.
"Tapi aku keluarga Jefry, dan Jefry suamimu"
__ADS_1
"Apa kau melihat Jefry disini?" tanya Rey, Amanda tertegun lalu menggeleng.
"Tapi.." belum selesai Amanda bicara Rey sudah pergi dan di susul Meylani, Ibu tersenyum tipis lalu mengikuti Rey dan Meylani.
"Sial.." Amanda begitu geram karna terus diacuhkan.
.
.
Rey mengetuk pintu rumah Nayla dan di buka oleh Nayla, Nayla tertegun saat melihat Rey dengan balutan pakaian resmi di depan pintu.
Nayla melihat kearahnya sendiri yang hanya mengenakan kaos oblong dan hot pants, rambut acak acakan juga mata yang masih sembab akibat menangis sepanjang hari, Rey terkekeh lucu melihat expresi Nay yang cengo.
"Ada apa sayang? kenapa menatapku seperti itu, oh aku begitu tampan bukan?"
Nayla memerah malu "It..tu.. kenapa kemari?"
"Melamarmu"
"Hah??"
"Tapi.. "
"Cepatlah berdandan sebelum ibu mertuamu kemari, sebenarnya tidak masalah untukku tapi.." Rey nyaris terbahak,saat secepat kilat Nay berlari masuk kedalam.
"Kenapa sih kak, lari lari liat setan ya?" Bima menggeleng saat mendengar suara debuman pintu kamar Nayla.
Nayla berniat mengambil air minum karna sejak kemarin ia tak keluar kamar dan tenggorokkannya sudah kering keronta.
Namun mendengar pintu di ketuk ditambah suasana hening di rumah ia terpaksa berubah haluan, entah kemana ibu, juga Bima yang mendadak muncul saat Nayla sudah mengetahui siapa pengetuk pintu itu.
Bima penasaran dan melihat siapa tamu yang datang.
"Oh... calon ipar mari masuk" Bima mempersilahkan Rey masuk, Bima melihat dibelakang Rey ada ibu dan Meylani "Oh bawa pasukan toh.. mari nyonya nyonya silahkan masuk"
"Terimaksih " kata Meylani "Bima"
"Loh kenal aku toh?" Meylani hanya tersenyum.
Bima masuk kearah dapur lalu ke belakang rumah mencari ibu yang sedang duduk di teras belakang "Ada tamu bu"
"Siapa? kok ibu gak denger?"
"Calon mantu, lagian ibu ngelamun gimana mau denger"
__ADS_1
Ibu menghela nafasnya lalu berdiri mengibas sedikit dasternya lalu bertolak pinggang "Persiapan perang ya Bu" Bima terkekeh. "Tapi dia juga bawa pasukan"
"Ibu gak takut" ibu berjalan angkuh menuju ruang tamu.