Melody Cinta Nayla

Melody Cinta Nayla
Bab 62


__ADS_3

Nayla memasuki kamar Naura,Naura sedang tertidur dimatanya terlihat bekas air mata itu membuktikan anak itu barusaja menangis,mungkin kelelahan lalu tertidur.


Nayla mengusap rambut Naura lembut,Nayla menghela nafasnya ia bertekad akan menyatukan Rey dan Naura, ia ingin Naura mendapat kasih sayang dari ayahnya.


Kenapa ia harus peduli? entahlah mungkin karna itu Rey, ia tak ingin Rey menjadi ayah yang kejam dan menjadi pria brengsek.


Ponsel Nay berbunyi dan nama Ibu tertera "Kenapa bu" Nayla menjauh dari ranjang Naura,dan keluar dari kamar Naura.


"Kamu dimana?"


"Aku lagi di rumah Naura"


"Ngapain?"


"Nanti aku cerita di rumah,ibu ada apa telpon?"


"Ibu ngingetin kamu jangan lupa soal keponakannya bu Suri ya Nay jam tujuh malam di resto xx"


Nayla menghela nafasnya "Ibu udah ngomong tiga kali loh hari ini"


"Ibu cuma takut kamu lupa Nay, nanti kalo batal, batal juga dong ibu punya mantu"


"Tuh kan ibu mulai lagi, iya kalo kita cocok,kalo gak?" Nayla menuruni tangga.


"Ya kan usaha dulu,makanya jangan lupa"


"Iya ini juga otw,tibang telat bentar gak papa kan"


"Nay.."

__ADS_1


"Bu lelaki yang gak sabar nunggu cewek tuh, termasuk lelaki egois, berarti itu lelaki gak baik" Nayla hampir menyentuh pintu untuk keluar,lalu tangannya ditarik masuk kembali kedalam.


"Bu udah dulu ini mau berangkat" Nayla mematikan ponselnya.


"Apa sih?" Nay menyimbangi langkah Rey yang menariknya kembali kelantai atas lalu masuk ke kamar Rey, Rey mengunci pintu.


"Mau apa?" Rey meraih Nay kedalam pelukannya.


"Jangan lakukan itu"


"Apa?"


"Jangan temui lelaki itu" pinta Rey,ia mendengar ucapan Nayla yang akan menemui seorang.


"Kenapa sih?" Nayla mendorong dada Rey.


"Nay aku mohon kembalilah padaku,ayo kita hidup bersama, tidak akan ada yang menghalangi kita sekarang"


"Aku mau kita kembali"


"Gak semudah itu Rey" Nayla menggeleng.


"Kenapa?"


"Karna keadaan nya berbeda"


"Apa? aku masih mencintaimu,aku juga masih melihat cinta itu di mata kamu"


"Ini gak mudah ada Naura diantara kita" lirih Nay.

__ADS_1


"Jadi karna itu kamu menghindariku?" Rey mengepalkan tangannya.


"Aku gak tau"


"Aku masih sama aku mencintai kamu,tidak berubah,bahkan tak akan berubah, jika ini tentang Naura aku di jebak waktu itu, Sonia memberi obat di minumanku hingga aku kehilangan kendali dan menyentuhnya demi tuhan aku membenci diriku sendiri dan juga wanita itu" Nayla tertegun.


"Aku tau aku pria berengsek,dulu aku memang suka melakukan itu dengan wanita bayaran,tapi sejak aku mengenalmu aku tak pernah melakukan itu lagi, tapi malam itu Sonia berhasil menjebakku hingga aku melakukan itu"


"Aku tak pernah menemuinya lagi sejak saat itu bahkan ketika dia mengatakan dia mengandung anak ku"


"Apa kamu juga mengabaikannya hingga dia meninggal?" tanya Nay,Rey menatap terkejut Nayla "Aku tau sejak hari dimana Sonia menemui ku ia mengatakan bahwa dia sedang menderita sakit parah,dan memintaku untuk meninggalkanmu"


"Kenapa kamu sekejam itu Rey,membiarkan istrimu sakit sendirian dan sekarang kamu mengabaikan Naura hanya karna kamu gak sadar melakukannya sama Sonia?"Rey bergeming dan tatapannya menjadi datar dan dingin.


"Tolong buka pintunya, dan tolong jangan egois, biarkan aku pergi"


"Jadi karna itu kamu menyerah berjuang denganku?"


"Bukan...buk.."


Rey berjalan kearah pintu lalu membukanya " Pergilah"


"Rey, itu karna.."


"Karna Sonia sakit lalu kamu berkorban kamu berkorban untuk wanita yang sama sekali tak kamu kenal"


"Bukan.. bukan itu.."


"Pergilah,,aku kira cinta kamu tidak selemah itu, aku tidak mengira hanya karna wanita itu sekarat kamu meninggalkanku bahkan kamu tidak tau yang sebenarnya"

__ADS_1


"Rey... bukan..." Rey mendorong Nayla keluar dari kamarnya dan menutup pintu kembali.


Rey mengepalkan tangannya wanita itu meski sudah tiada tetap saja menjadi ular, "Brengsek" Rey meninju tembok dengan kepalan tangannya berkali kali hingga jarinya mengeluarkan darah.


__ADS_2