Melody Cinta Nayla

Melody Cinta Nayla
Bab 69-Hukuman Ani


__ADS_3

Nay akan pulang hari ini ia juga berencana mengambil motor di dealer bersama Bima.


Nayla menyalakan ponselnya yang sudah diisi daya oleh Ani, "Terimakasih Ani"


"Sama sama bu guru" Ani terlihat murung ia masih tak tenang takut dihukum Rey bagaimana kalau gajinya di potong,atau dia di pecat.


"Kenapa?" Tanya Nay pada Ani yang masih berdiri di dekat Nay.


"Tidak apa Bu guru,saya hanya siap sedia jika ibu butuh sesuatu"


"Saya udah mau pulang kok Ani, jadi kamu gak usah bediri terus gitu,tugas kamu udah selesai"


"Saya akan menemani Ibu guru sampai ibu pulang" Seketika Nay ingat tentang Rey yang akan memberi hukuman pada Ani.


"Kamu takut di hukum sama pak Rey ya?" Ani menunduk "Tenang aja Pak Rey gak bakalan hukum kamu,lagian ini juga bukan salah kamu"


"Ini salah saya bu.. maka dari itu saya tidak akan melakukan kesalahan lagi" Nayla mendesah.


"Ya udah saya bicara dulu sama pak Rey ya biar kamu gak di hukum" Nayla sudah membereskan buku bukunya dan dimasukan kedalam tasnya dan berjalan keluar ruang kerja Rey.


"Aduuuh jangan bu guru,.." Ani mengikuti langkah Nayla yang terburu buru.


"Dimana pak Rey?" tanya Nay pada Ani.


"Gak tau, aduh jangan bu guru biarin aja saya dihukum.." Ani takut kalo di tuduh memanfaatkan bu guru. Ani terlihat lebih muda dari Nay karna itu Nay memanggilnya hanya dengan 'Ani' saja, terlebih Ani lebih suka dipanggil seperti itu.


"Ih berisik Ani,permisi Bibi tau dimana pak Rey?" tanya Nay kearah maid yang usianya terlihat lebih tua darinya.


"Sepertinya sedang berenang di lantai dua bu guru" jawab maid tersebut.


"Terimakasih.." Nayla bergegas menaiki tangga untuk ke lantai dua.

__ADS_1


"Aduh bu guru,jangan.." Ani memelas.


"Jangan ikuti saya Ani!"


(Sungguh terlalu kata Bang Roma🤣)


"Eh.. baik bu guru"


Nayla mencari dimana kolam renang, rumah Rey begitu luas Nayla terus celingukan hingga iya tiba di sebuah balkon luas terdapat kolam renang dan taman buatan.


Benar saja Rey sedang berenang kepala Rey menyembul keatas setelah menyusuri kolam, Rey menyadari keberadaan Nay yang sedang melihat kearahnya,Nay menelan ludahnya susah payah melihat tubuh Rey yang hanya di balut celana renang ketat berjalan keluar dari kolam.


'Ya ampun' Nayla membalik badan setelah sadar pemandangan yang tak boleh iya lihat itu. Badan Rey yang tinggi tegap juga perutnya yang berbentuk kotak kotak bak roti sobek Nayla memukul kepalanya agar tak memikirkan hal kotor.


Rey mendekat lalu meraih handuk dan melilitkan nya di pinggang.


Rey ingin menjauh sementara agar Nay bisa menyadari perasaan kecewa Rey,maka dari itu ia pergi pagi pagi sekali ke kantor, namun hilangnya Nayla membuatnya panik dan bergegas pulang dan akhirnya memang ia tak bisa menjauh dari Nayla, tetap saja melihat Nayla rasa kesalnya hilang dan beralih selalu ingin mendekat,apalagi ketika Nay merintih sakit kakinya yang kram,Rey bahkan lupa dengan misinya sekarang.


Rey mendekat kearah Nay yang terlihat gugup, Rey sempat melihat raut Nay yang menjadi merah sebelum berbalik, lalu muncul ide untuk menjahili gadis itu.


"Ada apa hum?" tanya Rey namun bukan suara normal yang Nay dengar namun lebih pada suara bercampur *******.


"Apa yang anda lakukan.. lepaskan... Pak Rey, anda...ti..tidak boleh seperti ini" Nayla mencoba melepaskan tautan tangannya,namun Rey semakin mengeratkannya.


"Kata siapa,aku berhak melakukan apa pun pada gadisku" Rey menempelkan bibirnya di telinga Nay.


"Ap..pa gadisku?.. apanya yang gadisku"


Nay masih bicara dengan gugup apalagi telinga Nay merinding mendengar deru nafas Rey "Tolong lepas pak Rey, nanti orang akan salah faham"


"Biarkan saja, memang kenapa aku melakukan ini dengan kekasihku" bibir Rey mulai merayap ke tengkuk Nay memberinya embusan nafas.

__ADS_1


"Kita sudah putus.." Jantung Nay mulai tak normal.


"Aku tidak pernah menyetujuinya,kamu tak ingat?"


"Tapi kita sepakat" Rey menggeleng "kita tidak sepakat hanya kamu yang bicara aku tidak" Rey melepaskan pelukannya dan menyisakan basah di punggung baju Nay,terdengar desa han lega dari Nay.


Rey tak akan membujuk Nay lagi agar kembali,biarkan ia menjadi egois sekarang dan tetap menjadikan Nay miliknya 'Tak akan aku lepaskan lagi'


Rey duduk di kursi santai sambil melipat tangannya di dada "Karna itu kamu masih kekasihku"


"Tapi.."


"Tidak ada bantahan, jadi ada apa sayang? sudah mau pulang? mau aku antar honey"


Nayla mendesah,baiklah terserah Rey saja, sekarang adalah waktunya masalah Ani, Nay tak mungkin membiarkan Ani dihukum karna kesalahannya.


"Begini pak Rey saya meminta supaya anda tidak menghukum Ani,karna ini bukan kesalahannya"


"Pertama.. hilangkan kata Pak,dan bahasa formalmu sayang!!"


'Berhenti memanggil ku sayang' batin Nay, tidak tau apa hatinya dag dig dug,padahal Rey sengaja melakukan itu untuk menggoda Nay.


"Kedua.. dia memang harus di hukum"


"Hah..? tapi pak" Rey tak menyaut malah memalingkan wajahnya"Baiklah maksudku Rey,tolong jangan hukum Ani" Rey menggeleng "Ini bukan salah Ani tapi salah ku"


"Tetap saja dia sudah lalai"


"Ya sudah biar aku yang mengantikan hukumannya" putus Nay.


"Kamu yakin?" Nayla mengangguk, dan Rey..

__ADS_1


Menyeringai..


_____________


__ADS_2