Melody Cinta Nayla

Melody Cinta Nayla
Bab 90- Pertengkaran pertama


__ADS_3

Nayla,Meylani dan Naura sudah dalam satu selimut mereka akan tidur bersama di kamar Meylani, karna ranjang Naura tak bisa menampung mereka bertiga.


Naura sudah tertidur di tengah tengah antara Nayla dan Meylani "Aku gak tau kamu sudah nikah trus sekarang udah hamil aja"


Meylani tersenyum "Iya setelah daddy meninggal aku di lamar Jefry dia teman kuliah aku dulu,terus ketemu lagi di tempat kerja,terus ya gitu deh" Meylani bersemu kala menceritakan awal ia dan Jefry memutuskan untuk menikah, Meylani yang merasa tak pernah di pernah di perhatikan oleh orang tuanya mendapatkan kasih sayang dari suaminya bahkan berlebihan untuknya,Jefry melimpahinya dengan cinta yang banyak.


"Jadi bagaimana pertemuan kembali kalian aku penasaran"balas Meylani.


Nayla lalu menceritakan tentang pertemuan yang awalnya dengan Naura,namun justru membuatnya bertemu dengan Rey.


"Oh ya manis sekali, dan iya bagaimana kabar kak Vina?" Vina adalah sahabat Nay sejak ia bekerja di cafe dulu.


"Iya sepertinya hanya aku saja yang belum menikah bahkan Vina juga sudah menikah"


"Oh ya dengan siapa?"


"Dia menikah dengan Doni,dia teman kami juga, aku juga bahkan tidak menyangka mereka akan menikah, bahkan mereka selalu bertengkar jika sedang bersama"


Mereka terus mengobrol hingga tak terasa mereka tertidur, karna lelah berbicara.


Nayla bangun kala merasakan tenggorokkan nya kehausan dan melihat kearah nakas "Airnya habis" Nayla beranjak dari tidurnya dan melihat ke arah jam di ponselnya "Pukul 12 malam"


Nayla keluar kamar dan menuju dapur Nayla berjalan dengan mata setengah terpejam karna mengantuk,kamar Meylani dilantai satu tapi tetap saja jarak ke dapur cukup jauh.


Namun dari jauh terdengar sayup sayup orang berbicara, siapa yang mengobrol di malam hari seperti ini? pikirnya.


Nayla terus mendengar suara semakin terdengar jelas dan ternyata dari arah dapur.

__ADS_1


Langkah Nayla terhenti karna ucapan dari salah satu orang yang tengah berbincang, mungkin bukan berbincang,namun berbicara sendiri, karna lebih dominan dengan suara perempuan yang terus berbicara.


"Kamu yakin dengan pilihan kamu?" tanyanya.


"Dia terlihat biasa saja di banding aku," Nayla menajamkan penglihatannya melihat Amanda yang hanya memakai gaun tipis, dan Rey yang duduk di meja Bar. "Kamu menolak Ibu yang mau menjodohkan kita karna dia"


"Aku lebih cantik,dan berpengalaman," Amanda mulai berani mendaratkan tangannya di dada Rey dan merabakan jari lentik nya di dada Rey, yang masih tak bergeming.


Nayla melihatnya merasa panas dingin apa lagi ketika Amanda mendekatkan dirinya dan berbisik di telinga Rey "Bagaimana kalau di coba,aku bisa memuaskanmu" Bahkan dari kejauhan Nayla bisa melihat belahan dada Amanda yang sepertinya tak memakai B*a, Tangan Nayla sudah mengepal dengan pipi memerah,namun Nayla masih membiarkan dan ingin melihat reaksi Rey atas godaan Amanda jika memang Rey leleki brengsek ia akan tergoda dengan Amanda, yang benar saja kucing pendiam saja jika di suguhi ikan dia akan langsung menerkamnya.


Rey masih menatap datar Amanda dan meminum cairan sedikit kuning kecoklatan di gelas kecil yang juga diisi es.


Sepertinya mereka belum menyadari dibelakang mereka ada sosok singa betina yang siap meledak.


"Bagaimana?" bisik Amanda lagi, kali ini tangan lentiknya sudah merayap diatas paha Rey.


Sudah cukup Nay tak tahan lagi dengan langkah anggun ia berjalan kearah kulkas dan melewati Rey dan Amanda, Rey menegang kala melihat Nayla dengan santai berjalan melewatinya dan mengambil air dalam kulkas.


"Sayang jangan salah faha.."Rey begitu takut Nay akan salah faham, Rey sama sekali tak berniat untuk berduaan dengan Amanda, ia memutuskan untuk minum sebentar setelah menyelesaikan banyak pekerjaannya yang tertunda.namun tiba tiba ada Amanda yang ikut duduk di sebelahnya.


"Gak papa lanjutin aja ngobrolnya" Kata Nay tersenyum manis namun tatapannya tajam menghunus Rey."Sepertinya sedang seru"


"Sayang.." Rey menghampiri Nay, namun Nay malah mundur menjauhinya. Rey semakin ketar ketir bagaimana jika Nayla benar benar marah dan mereka tak jadi menikah, membayangkannya saja membuat Rey hampir mati "Dengarkan aku.."


Nayla menepis tangan Rey yang akan menyentuhnya.


Amanda melihat dengan senyum puasnya dia berhasil membuat Rey dan Nay goyah.

__ADS_1


"Sayang aku mohon.." Rey memelas,namun tatapan Nay tetap tak mau meluruh pada Rey.


Nayla pergi setelah meminum air dingin,dan membawa satu gelas penuh berjalan kearah kamar Meylani, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Rey.


Rey menatap nyalang Amanda seolah menyiratkan ancaman lihat saja jika terjadi sesuatu dengan hubungannya dan Nayla.


Namun Amanda hanya tersenyum manis dan membuat Rey semakin muak.


Rey mengejar Nayla dan terus berusaha bicara dan menjelaskan "Sayang dengarkan aku semua yang kamu lihat tak seperti itu.."


"Apa..? kalau aku gak dateng terus itu akan berlanjut, dan itu gak menepis kemungkinan kamu tergoda Rey"


"Sayang dengar baik baik, aku sama sekali gak bermaksud berbicara dengannya,dan aku gak tergoda sama sekali" jelas Rey "Aku cuma minum aja..terus"


"Terus dia raba raba kamu, pegang pegang, kamu biarin aja" Rey terdiam ia dia salah karna tidak menepis tangan Amanda, namun dia terlalu malas untuk berdebat jadi Rey memilih mengacuhkannya saja,lagi pula ia sama sekali tak tergoda.


"Kalau aku yang diperlakukan seperti itu oleh laki laki lain apa yang akan kamu lakukan?"


"Jangan coba coba!" Rahang Rey mengeras,tentu saja ia tak akan membiarkan orang itu hidup dengan tenang,akan Rey patahkan tangannya jika ada lelaki yang berani menyentuh Nay nya.


"Tentu saja akan ku coba"


Brak..


Nayla menutup pintu kamar Meylani keras, ia bahkan lupa di dalam kamar ada Meylani dan Naura yang mungkin akan terbangun dengan suara debuman pintu.


______________

__ADS_1


Nah loh Nayla marah, bang Rey sih coba coba🤭🌹


Mudah mudahan gak sampei bab 100 udah tamat, tergantung aku nulis panjang pendeknya 😅


__ADS_2