Melody Cinta Nayla

Melody Cinta Nayla
Bab 86- Lamaran tidak romantis


__ADS_3

Tiba saatnya kita saling bicara


tentang perasaan yang kian menyiksa


tentang rindu yang menggebu


tentang cinta yang tak terungkap


Sudah terlalu lama kita berdiam


tenggelam dalam gelisah yang tak teredam


memenuhi mimpi-mimpimu malam kita


Duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah


perasaanmu, rindumu, seluruh cintamu


dan kini hanya ada aku dan dirimu


sesaat di keabadian


Jika sang waktu kita hentikan


dan segala mimpi-mimpi jadi kenyataan


meleburkan semua batas


antara kau dan aku, kita..


**


Rey dan Nay sedang duduk berdua di belakang rumah Nay, meninggalkan Ibu mereka yang langsung sibuk merencanakan pertunangan untuk Rey dan Nay.


Memandang malam berdua dengan jari bertaut saling menggenggam,Rey menarik kepala Nay agar bersandar di pundaknya "Kita belum kencan kan?" tanya Ret tiba tiba.


Nay menegakkan kepalanya namun Rey menahannya, "Besok kita kencan..!" lebih seperti nada perintah.


"Masa ngajak kencan begitu sih,gak romantis banget"


Rey hanya terkekeh "Lihatkan akhirnya kita bisa bersama" Nayla mengangguk.


"Tadi aku udah takut aku kira ibu bakal marah marah,rupanya cuma ngetes aja" Nayla mencebik "Aku juga nangis seharian aku kira kita bakalan pisah lagi"


Rey memiringkan tubuhnya hingga menghadap Nayla hingga kini Nayla bersandar di dada Rey,sebelah tangannya mengelus rambut panjang Nay dan tangan satunya mengeratkan pelukan di pinggang Nay, dan Nay semakin menenggelamkan dirinya di dada Rey,angin malam yang berhembus tak membuatnya kedinginan karna dekapan hangat Rey.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi" Rey mengecup pucuk rambut Nay lama.

__ADS_1


"Jadi kita kemana besok?" tanya Nay sambil mengurai pelukannya.


"Kamu mau kemana?" Rey menyelipkan rambut Nay kebelakang telinga, lalu memberi kecupan di pipi Nay yang semakin memerah.


Rey tak melepas pandangannya dari wajah cantik Nayla,dan semakin membuat Nayla merona malu.


"Jangan lihat seperti itu, aku malu" Nayla menutup wajahnya.


"Kenapa di tutup ayo buka aku ingin selalu melihat wajahmu" Nayla menggeleng, namun tiba tiba suasana nya menjadi hening..


Nayla membuka matanya namun tak mendapati Rey di sebelahnya, kemana dia?


"Rey..?" Nayla mengeryit kenapa lampu rumah juga mati,Nayla berjalan menyusuri tembok untuk masuk ke dalam rumah, "Rey.."


"Bu..? Bima..? kenapa lampu nya mati?" Nayla terus berteriak. "Kalian jangan bercanda aku takut"


"Rey..? Naura?" Nayla terus memanggil nama semua orang yang tadi ada di rumahnya.


"Auh..." Nayla tersandung lemari sepertinya ia memekik kaki nya terasa ngilu,Nayla berjongkok meraba kakinya yang ngilu sepertinya kuku kakinya patah.


Nayla meneruskan langkahnya ketika melihat cahaya remang remang dari ruang tamu,Nay mengerjapkan mata nya beberapa kali melihat pemandangan di depannya, Nayla menutup mulutnya ketika melihat Rey berlutut dihadapannya dengan memegang kotak beludru di tangannya.


"Nayla..will you marry me?"


Sontak saja semua orang menahan tawa, Bima menepuk dahinya dasar Rey tidak romantis, buat apa pakai acara bikin kejutan kalau ngomong langsung tembak begitu.


Saat semua selesai,Meylani mengirim pesan pada Rey agar bersiap, namun bukannya memberi lamaran yang romantis berupa kata kata puitis lebih dulu, malah langsung tembak pada intinya.


"Kok tidak di jawab?"


"Cepat jawab!!" desak Rey.


Mendengar Rey yang malah mendesak Nay membuat Bima geram "Sudah sudah nyalakan saja lampunya, acara lamarannya sudah selesai" dan keluarlah Daniel dari balik pintu dan menyalakan saklar lampu.


"Kalian ini ngapain sih?" tanya Nay heran.


"Kenapa kamu gak jawab, harusnya jawab Yes i do, begitu!" kata Rey.


Ibu Ney terkekeh,sedangkan Ibu Rey menggeleng "Mana ada yang lamar ceweknya begitu nak"


"Kak Rey gak romantis" Meylani mencebik.


"Gak papa daddy semangat" Naura malah mendukung Rey,


"Dasar bocah sama bapaknya sama aja" kata Bima.


Nayla berjalan kearah Rey yang masih menekuk lututnya,sambil terkekeh, "Udah berdiri,, tanpa di jawab juga kamu udah tau jawabannya apa".

__ADS_1


Namun fokus Rey malah kearah kaki Nayla yang berjalan agak terpincang,Rey membelalakan matanya saat melihat kaki Nay berdarah "Darah.." pekiknya "Sayang kamu berdarah, kenapa kakimu? apakah sakit" seketika Rey menjadi panik,meski tak banyak namun kaki Nay mengeluarkan darah yang menetes membasahi lantai.


"Cuma sedikit ngilu aja"


"Apanya yang sedikit, sayang kamu berdarah" Rey membopong Nayla dan berjalan panik dan mendudukan Nayla di kursi.


Nayla masih terbengong sampai sampai tak menyadari dirinya kini sudah duduk di kursi "Dan cepat panggil dokter!" Teriak Rey.


Daniel mengangguk dan segera menghubungi dokter.


"Rey aku cuma kepentok lemari tadi waktu lampu mati,kuku aku cuma patah aja, cukup kasih anti septik juga sembuh"


"Astaga sayang ini berdarah,kamu harus di obati..maaf gara gara ide konyol mereka kamu jadi begini" racaunya.


Nayla mendesah "Terserahlah"


Bima membawa baskom berisi air hangat untuk membersihkan ibu jari Nay yang berdarah,juga kotak obat.


Rey mengambil dan langsung membersihkan luka Nay dengan telaten.


Auh..


Nayla sedikit meringis karna merasa perih "Betulkan sakit, maaf sayang maafkan aku, apa sakit sekali? aku pelan pelan kok ya"


Semua mata sejak tadi tertuju pada Rey yang memperlakukan Nay dengan lembut, merasa tersentuh, juga Nay yang mulai berkaca kaca, merasa terharu dengan perlakuan Rey yang begitu menghawatirkannya.


Daniel melihat tuannya tidak menyangka tuan Rey yang dingin berubah hangat saat bersama Bu guru itu, ia di hubungi oleh Meylani untuk membantu dan acara lamaran tuannya,Daniel tak terlalu terkejut ketika wanita yang akan dilamar adalah ibu guru Nay,karna sejak awal ia merasakan ada yang aneh antara tuan dan guru yang mengajar nonanya.


"Sudah, apa masih sakit?" kata Rey ,saat selesai membalut luka Nay.


"Terimakasih"


"Maaf membuatmu tersandung"


"Lain kali aku tidak akan membiarkan mu terluka lagi" janji Rey "Aku bisa gila melihat kamu kesakitan"


"Astaga Rey ini gak terlalu sakit"


"Tuan dokternya hampir tiba" potong Daniel.


"Ya ampun pak Daniel saya sudah gak papa, batalin aja"


Rey mendelik "Tidak bisa kamu harus tetap di periksa!"


"Apanya? aku gak apa apa terus udah di obatin juga,lagian aku lebih suka kamu yang obatin" Nayla menunduk malu.


Rey mengulum senyumnya "Baiklah Dan.. batalkan saja dokternya!" Rey terus saja melihat manik mata Nay, mereka saling memandang tanpa menghiraukan orang disekitarnya sudah berhambur meninggalkan ruang tamu tersebut,baiklah tak perlu lamaran romantis mereka punya cara sendiri untuk ber romantis ria.

__ADS_1


"Ya..ya anggap aja dunia milik berdua" Bima membawa Naura agar tak terkontaminasi kelakuan Rey dan Nay.


__ADS_2