
Rey berjalan tergesa kearah meja makan dengan tangan terkepal erat dan rahang yang mengeras "Mey.. bilang pada sepupu suami mu segera angkat kaki dari rumahku!"
Trang.. semua orang terkejut dan Amanda menjatuhkan sendoknya.
"Ada apa Rey" tanya ibu.
"Ibu tak perlu tau,jika sampai aku pulang dia..." Rey menunjuk Amanda yang terlihat pucat "Masih ada di sini, maka aku yang akan menyeretnya keluar dari rumahku, tak peduli dia sepupu, atau adik kandung Jefry" Rey pergi meninggalkan Ibu yang gemetar dan Mey yang terkejut.
Rey jika marah akan melebihi singa yang kelaparan setidaknya itu yang ibu rasakan ketika memaksa nya menikahi Sonia dulu,Rey bahkan tak peduli pada ibu yang melahirkannya sekalipun.
Dan kini tiba tiba Rey marah pada Amanda apa yang sudah Amanda lakukan hingga Rey marah. "Amanda sebenarnya apa yang terjadi?" tanya ibu.
"Sudah kubilang ibu jangan ajak dia kemari,dia bisa buat kekacauan" desis Mey.
"Aku gak ngelakuin apa apa kok bu" sangkal Amanda.
"Ibu menghargai kamu karna ibu kenal dengan orang tuamu,tapi ibu gak akan diam kalau kamu mengusik Rey,sudah ibu bilang rencana untuk perjodohan mu tergantung kemauan Rey, dan ibu tak ingin memaksakan Rey, maka dari itu ibu gak pernah janji sama kamu, dan saat Rey menolak ibu sudah bilang jangan lakukan apapun" Ibu meradang baru saja hubungannya dan Rey membaik sekarang ibu harus mendengar kemarahan Rey.
Meylani menekan ponselnya "Mas.. Amanda buat masalah disini, suruh dia pulang atau aku gak mau pulang kesana"
Meylani beranjak dari duduknya setelah sebelumnya menatap tajam Amanda.
Amanda mencengkram tangannya kuat dia sudah di permalukan dia tidak akan biarkan.
Nayla keluar dari kamar setelah membersihkan diri dan berjalan ke meja makan, ia melihat Amanda yang beranjak dari duduknya "Puas kamu sudah berhasil mengusirku" desis nya.
Nayla mengeryit tak mengerti "Apa maksud mbak Amanda"
"Pura pura gak ngerti, gara gara kamu Rey mengusirku" Nay membelalakan matanya, "Tapi jangan harap aku menyerah, aku akan buat Rey menyesal memilih kamu"
"Kamu gak malu sama kata kata kamu nona Amanda" sudah cukup Nayla mulai geram.
"Harusnya kamu yang malu Nayla, kamu menjadi duri di pernikahan Rey terdahulu,aku hanya sedang membuat keadilan sekarang dan aku yang akan menjadi duri di hubungan kalian" Amanda berlalu begitu saja bahkan sengaja menyenggol bahu Nay.
Nayla terpaku otaknya sedang mencerna ucapan Amanda..
.
.
Rey tiba di kantor ia terburu buru sebab ada tamu yang menunggu benar saja ketika masuk keruangan dia sudah disambut oleh orang tersebut.
"Lama tak bertemu tuan" Bram menunduk hormat pada Rey.
"Apa yang kau lakukan seorang CEO tak boleh menunduk seperti itu" Rey memeluk Bram.
"Saya di posisi ini berkat anda"
__ADS_1
"Ya baiklah jangan diungkit lagi, bagaimana kabarmu?"
"Baik tuan,seperti yang anda lihat, saya datang lebih awal dari hari H,bagaimana dengan anda?"
"Baik.. Hmm apa ada masalah?"
"Ya aku membawa hasil penyelidikan yang anda mau" Bram memberikan sebuah map pada Rey.
"Kau membawanya langsung kenapa tak mengirim lewat email saja"
"Ada yang harus saya sampaikan langsung"
Rey membaca semua matanya membelalak tak percaya "Ini,."
"Benar tuan ada kemungkinan besar dia merencanakan semua ini, sejak awal mendekati ibu anda"
"Lalu kenapa dia baru melakukannya sekarang?"
"Mungkin karna anda sudah menemukan nona Nayla" Rey mengangguk.
"Baiklah aku akan minta seseorang untuk mengawasinya"
Rey menekan tombol interkom dan memanggil Daniel.
tak butuh waktu lama Daniel datang setelah sebelumnya mengetuk pintu "Dan perintahkan orang untuk menjaga Nay dari jauh, jangan sampai dia terluka sedikit pun"
"Satu lagi awasi terus Amanda,jangan sampai dia buat masalah" Daniel keluar untuk menjalankan perintah Rey.
Rey mendesah lalu merebahkan diri di sandaran sofa.
"Bagaimana dengan Nona Nayla aku penasaran setelah sekian lama akhirnya bertemu lagi"
"Ya dan hari ini,kami sedang bertengkar" Rey mendesah lelah baru satu hari ia di acuhkan rasanya mau meledak.
"Apa yang terjadi"
"Ini gara gara wanita sialan itu" Rey lalu menceritakan tentang kesalah fahaman Nay.
Bram mencebik "Tentu saja nona akan marah jika itu terjadi pada anda bagaimana?"
Ah.. itu memang benar dirinya yang salah.
"Jadi apa yang akan anda lakukan pada wanita itu?"
"Kita lihat dulu dia melakukan apa baru kita bertindak, yang aku khawatirkan dia melukai Nay jika perkiraan kita benar.."
"Kau menginap dimana? ah menginap dirumahku saja!"
__ADS_1
"Sebenarnya aku tak akan lama,aku harus kembali, lagi pula aku juga harus menjemput anak dan istriku untuk pernikahan anda"
"Tak masalah aku akan kirim orang untuk menjemput mereka nanti, lagipula aku butuh bantuanmu"
"Apa itu tuan?"
"Urus perusahaanku sementara,aku akan sibuk mengurus pernikahan"
"Apanya yang sibuk tuan semua sudah di urus Daniel"
"Sudahlah jangan banyak bicara lagi pula masalah ini juga penting dan sekarang aku harus mendapat maaf dulu dari Nayla, jika tidak aku bisa gila karna dia mengacuhkanku" Rey beranjak dari duduknya,setelah sebelumnya mengambil sesuatu di laci meja kerjanya.
"Tapi tuan.." Bram menggeleng kala secepat kilat Rey keluar dari ruangannya.
.
.
Rey pulang untuk menemui Nay, tentu saja setelah mengetahui bahwa Nay masih berada dirumahnya,begitu memasuki pekarangan rumah Rey melihat Nay, dan Naura tengah bermain di taman,ada ibu dan Meylani yang duduk dikursi memperhatikan dan sesekali tertawa, Nayla mengejar Naura dengan mata tertutup kain.
"Kalo Naura dapet nanti ibu gelitikin ya" Nayla terus meraba,dan Naura terus berpindah dan tertawa.
"Ayo Naura lari..." Teriak Meylani.
Saat Nayla hampir memegang Naura kakinya tersandung dan hampir terjatuh "Akhh..." Nayla berteriak namun ia tak merasakan sakit, saat seseorang meraih pinggangnya, dan Nayla tau siapa itu, tentu saja itu Rey.
"Hati hati sayang.." bisiknya Nay masih setengah jongkok dengan Rey yang memeluknya dari belakang.
Nayla menggeliat mencoba melepas pelukan Rey "Lepas.."
Nay membuka penutup matanya saat Rey melepas pelukannya. "Loh pada kemana?" Nay tak melihat siapa pun termasuk Naura yang tadi sedang bermain dengannya, tanpa Nay sadari orang orang pergi diam diam saat melihat Rey mendekati Nayla.
"Mereka masuk kedalam"
"Ish... itu curang namanya aku belum menang!" Nayla mencebik.
"Kemari.." Rey menarik Nayla menuju ke danau kecil, di halaman rumah Rey.
Rey memeluk Nay dari belakang menyusupkan kedua tangannya di pinggang Nay "Masih marah..?"
Nayla tak menjawab "Sayang.."
"Kalau aku masih marah mau apa?"
"Aku akan terus berusaha sampai kamu memaafkan aku" Rey mengecup rambut Nay sekilas.
"Kamu ngusir Amanda?" Rey mengangguk "Dia marah sama aku, katanya aku dulu yang jadi duri dirumah tangga kamu, sekarang dia yang akan jadi duri di hubungan kita" itu yang Rey takutkan Amanda datang untuk membalaskan dendamnya.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya? kenapa dia ngomong kaya gitu, siapa Amanda?"