
"Bram.. aku sudah bertemu dengannya" Rey menghubungi Bram, asistennya yang sudah menemaninya sejak dulu, Bram masih berada di London,Inggris.
Rey memutuskan pindah ke Indonesia satu tahun lalu sejak kematian sang daddy, dan menyerahkan pengurusan perusahaannya di Inggris kepada Bram, Rey hanya sesekali bertandang kesana untuk mengontrol pekerjaan Bram, Rey membagi rata, saham yang di miliki daddy nya pada istri kedua juga adik tirinya, termasuk Meilani,yang kini memilih tinggal di Malaysia setelah menikah.
Sedangkan Rey memilih tinggal di Indonesia untuk mengurus cabang, yang sejak Rey tangani makin melesat, tentu saja ada alasan kenapa ia memilih Indonesia, alasan yang hanya satu...Nayla.
Ibunya masih ada dan masih di sibukkan dengan yayasan yang dimilikinya,sering kali pergi keluar negeri bersama suami nya , Ibunya memutuskan untuk menikah kembali setelah Meilani menikah.
"Aku butuh bantuanmu Bram"
"Apa Daniel tidak bisa di andalkan" Daniel masih saudara dari Bram yang Bram sarankan untuk menggantikannya menjadi asisten Rey.
"Tidak,hanya aku lebih percaya padamu" Bram mendesah, ia juga tak bisa mengabaikan ia sendiri sudah menikah, tapi Rey masih terpaku pada satu gadis sejak dulu.
"Baiklah aku akan minta seseorang untuk mencari tau, maaf aku belum bisa mengunjungimu tuan,kau memberiku tanggung jawab yang besar"
"Tak apa.. terimakasih" Rey mendesah, hari ini Rey untuk pertama kalinya cuti hanya untuk menguntit Nayla.
Rey keluar dari mobil memasuki sekolah, ia akan menemui Nayla dengan alasan membicarakan tentang Naura, tak masalah asalkan ia bisa bertemu dengan Nayla, meski memakai nama Naura ia tak peduli.
Naura yang tak Rey anggap seperti anaknya,namun dirinya tak bisa memungkiri jika ada darahnya di bocah itu dan itu yang menjadikannya menyesal hingga sekarang.
Saat Rey hendak tiba diruangan Nayla,dia melihat Nayla juga berjalan kearah yang sama,Rey menatap Nayla penuh kelembutan juga kerinduan yang mendalam.
__ADS_1
Nayla sempat tertegun sesaat, lalu menormalkan mimik wajahnya kembali, menghela nafasnya "Silahkan pak Rey" Nayla membuka pintu ruangannya. Semua guru disana mempunyai ruangan sendiri.
Rey masuk lalu duduk di kursi bersebrangan dengan Nayla, mereka hanya tersekat oleh meja, Nayla mengambil sesuatu dari lemari di bawah mejanya, satu kantung besar berisi bermacam benda dan menaruhnya di hadapan Rey, Rey mengeryit apa maksud Nayla.
"Apa ini?" tanya Rey.
"Saya kemarin meminta anda untuk membicarakan tentang ini, ini semua barang teman teman Naura yang di ambil secara diam diam oleh Naura"
"Anak itu mencuri?"
"Ya itu bahasa kasarnya" kata Nayla, sungguh ia sedang menyembunyikan debaran jantungnya, berada berdua dengan Rey di dalam satu ruangan membuatnya takut, Nayla takut tak bisa menahan dirinya untuk menghambur memeluk Rey melepaskan rindunya, tidak, tidak boleh Rey sudah menikah akan di sebut apa dirinya jika memeluk suami orang.
"Baiklah aku akan mengurusnya" kata Rey.
"Maksud anda apa? mengurus seperti apa?"
"Berhenti bicara formal seolah tak mengenalku Nay" tekankan Rey kata katanya "Kamu membuatku seperti orang asing" lirih Rey.
Nay menahan nafasnya melihat Rey seperti ini membuatnya sakit Rey terlihat tak berdaya. "Apa kamu benar benar sudah menganggapku orang asing?"
"Saya hanya bersikap profesional" kata Nayla namun matanya sama sekali tak memandang Rey.
Rey terkekeh,"Daddy.."pintu terbuka menampilkan Naura yang memekik melihat daddynya berada di sekolah,setelah sekian lama daddy nya menyempatkan diri datang tentu saja bocah itu bahagia.
__ADS_1
"Baiklah aku juga harus profesional" Rey melihat kearah Naura menatapnya tajam,Nayla mengeryit sejak kemarin ia tak melihat tatapan sayang dari Rey kepada Naura,layaknya ayah pada anaknya apa yang sebenarnya terjadi "Kamu mencuri semua barang itu Naura?" tegas dan lebih kepada menyeramkan dari nada yang Nayla dengar, Naura menunduk.
Selama ini ia tak pernah memantau Naura ia hanya memerintahkan 'Pecat saja orang yang memberi laporan mengenai Naura' ia tak mau repot pergi kesekolah hanya untuk panggilan untuk kenakalan Naura.
"KATAKAN!!" Bentak Rey bahkan Rey berdiri dari duduknya, Naura sudah menagis.
"Apa yang kamu lakukan..?" Nayla berjalan kearah Naura memeluk gadis kecil itu "Kamu menakutinya!!" bentak Nay.Naura menagis menyebunyikan wajahnya si perut Nayla.
"Dia pantas mendapatkannya"
"Apa nya yang pantas? apa seperti itu kamu memperlakukan anakmu" Nayla bahkan lupa bahasa formalnya tentu saja Nayla marah ia tak menyangka begitu Rey memperlakukan Naura apa yang terjadi dengan Rey yang lembut,kenapa hanya tatapan benci yang diberikannya pada Naura.
Pembicaraan keduanya menciptakan kegaduhan beberapa guru bahkan sampai melihat apa yang terjadi di ruangan Nayla.
Nayla berjongkok mengahapus air mata Naura "Naura kamu ke kelas dulu ya, ibu mau bicara sama daddy nya Naura"
Naura menggelang "Daddy marah sama Naura.. hiks..hiks.."
"Enggak Naura tenang aja daddynya Naura gak akan lama kok marahnya,nanti ibu Nay bujuk daddynya Naura untuk gak marah lagi sama Naura asal Nauranya nurut sama ibu" Naura mengangguk.
Nayla mengantar Naura keluar dan mendapati beberapa guru di depan pintu "Bu Lala, bisa minta tolong temani Naura sebentar" Lala hanya mengangguk. "Terimakasih"
"Ayo sayang" Lala membawa Naura menjauh dari ruangan Nayla begitu pun para guru yang sejak tadi mendengar teriakan di dalam ruang Nayla membubarkan diri.
__ADS_1