Melody Cinta Nayla

Melody Cinta Nayla
Bab 76- Mendekati Naura (1)


__ADS_3

Nayla mendesah melihat motor baru terparkir di depan rumahnya, sebuah motor matik yang kemarin di belikan Rey, Empat lagi dikirim kerumah Rey tentu saja Bima memang mengerjai Rey, untung barang nya bisa dijual lagi,kalau tidak ia akan getok Bima sampai kepalanya benjol.


Nay melarang Bima untuk memberi tau ibu tentang Rey, Nay belum siap Nay bahkan berbohong kalau motor itu di bayar dengan cara kredit.


Nay memacu motornya ke rumah Rey tentu saja tugasnya juga belum selesai mengajar Naura, karna terikat kontrak Rey, sebenarnya itu alasan Rey untuk terus dekat dengan Nay.


Nay masuk ke gerbang rumah Rey dan melihat para pekerja yang menata taman,tak ada lagi pohon pinus rindang hanya beberapa yang tersisa, juga beberapa sedang membuat gazebo dekat danau kecil di tengah tengahnya.


Nay masuk seperti biasa disambut Ani yang di tugaskan untuk melayani Nayla.


"Selamat pagi bu guru"


"Pagi Ani, Naura nya udah siap?"


"Sudah Bu, tapi kata tuan bu guru harus temui tuan terlebih dahulu"


"Oh,, mau apa?" tanya Nay, kenapa ia jadi gugup.


"Saya tidak tau bu, hanya itu pesan nya"


"Ya udah.. pak Rey nya dimana?"


Nay Menaiki tangga untuk menuju kamar Rey, "Kenapa di kamar sih gak bisa apa di ruang tamu aja" jantung Nay bergedub kencang pikiran kotor tiba tiba menyerang nya,ngapain lagi coba di kamar kalau bukan.. Nay menggeleng lagi.


Nay mengetuk pintu, setelah beberapa saat Rey membuka pintu, sepertinya Rey baru selesai mandi masih memakai handuk hanya saja kali ini Rey menggunakan handuk kimono.


Nayla mencebik, "Kebiasaan deh pakai baju dulu sana" Nay menelan ludahnya kasar rambut basah Rey,jangan lupakan perut kotak kotaknya yang tertutup di balik handuk kimononya, Nay berbalik namun Rey menarik hingga Nay masuk kedalam kamar.


"Kenapa sih masih malu?"


Rey menyudutkan Nay ke tembok.

__ADS_1


"Ap..apa sih, trus mau apa tadi suruh kesini?" Nay gugup Rey manatapnya intens.


"Tidak ada hanya kangen saja" Rey mengungkung Nay dengan kedua tangannya, Rey mendekatkan wajahnya untuk mencium Nay, hampir saja Rey mendaratkan bibirnya di bibir Nay saat tangan Nay membungkam mulut Rey. "Kenapa? tak mau ku cium?"


"Bu.. bukan,bagaimana kalau aku yang akan menciummu" Rey mengeryit curiga.


Nayla mengangguk "Baiklah ayo cium aku" Rey menunjuk bibirnya.


Nayla menggeleng "Tidak sebelum kamu memejamkan matamu"


"Kenapa mesti tutup mata"


"Ayolah aku malu" rengek Nay.


Rey gemas lalu mencubit pipi Nay "Baiklah aku tutup mata" Rey memejam,diluar dugaan Nayla mengecupnya di pipi lalu lari dari kamar Rey.


"Saya akan menunggu di bawah pak!!" teriak Nay sambil berlari.


Nayla meraba dada nya yang berdetak cepat,berada dekat Rey membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. "Dasar duda mesum" Nay menepuk pipinya yang terasa panas.


Nayla memasuki ruang kerja Rey dan melihat Naura sudah berada disana "Hai Naura?"


"Hai bu guru" Kata Naura raut bocah itu terlihat lesu.


"Kenapa kamu sakit lesu gitu" Nayla menyentuh dahi Naura. "Gak panas"


Naura hanya diam saja, Nayla mengerti anak itu bosan dia tak bisa belajar di sekolah dan juga tak bisa keluar rumah,ia harus segera membuat Rey dekat dengan Naura,dan mengembalikan Naura kesekolah.


"Kamu udah sarapan belum?"


Naura mengangguk "Ibu belum,, mau temenin ibu makan bubur diluar gak?" Naura mengangguk antusias, itu hanya alasan Nayla sudah sarapan dan dia ingin mengajak Naura keluar rumah.

__ADS_1


"Mau.." Naura antusias,Anak itu benar benar ingin keluar rumah.


"Oke tapi kita harus minta izin Daddy dulu" Nayla beranjak dan mengulurkan tangannya kearah Naura "Ayo"


"Pasti daddy gak izinin"


"Pasti diizinin kok,asal Naura bilangnya sambil senyum... mau coba?"


Nayla menggandeng Naura menuju ruang makan,terlihat Rey baru saja akan duduk "Kamu sudah sarapan?" tanya Rey, tentu saja bukan pada Naura, tapi pada sang kekasih Nayla.


Nayla tak menjawab Rey, hanya melihat kearah Naura sambil berbisik "Ayo bicara!"


"Daddy..." Naura berkata takut takut.


"Hmm??"


"Boleh gak Naura ikut bu guru, sarapan bubur diluar" Naura tersenyum meski senyumnya lebih ke meringis takut, tangannya meremat kuat tangan Nay.


"Kamu belum sarapan, mau bubur biar di buatkan koki,tak perlu keluar" lagi lagi Rey hanya melihat kearah Nayla, Nayla menatap Rey tajam seolah mengisyaratkan 'Mana janji kamu yang akan bersikap baik pada Naura', tentu saja itu bukan keinginan Rey, namun Nay terus memaksanya.


Rey mendesah "Baiklah boleh" Rey melihat kearah Naura, Naura mendongak melihat Rey,baru kali ini ia melihat daddynya menatapnya.


Naura tersenyum, Rey memalingkan wajahnya lagi.


"Baik kalo gitu pak Rey kami keluar dulu" Kata Nay.


"Aku ikut" Rey beranjak dari duduknya, bagaimana mungkin Rey membiarkan Nay makan diluar sendirian.


"Boleh tapi minta izin pada Naura" Nay benar benar menginginkannya dekat dengan Naura. Mata Nay memicing kearah Rey, yang hanya di jawab ******* dari Rey.


"Ehmmm Naura.. boleh daddy ikut?"

__ADS_1


Naura mengangguk sambil tersenyum ceria "Boleh dad" tentu saja boleh, kapan lagi ia bisa pergi bersama daddynya dan itu membuatnya bahagia.


__ADS_2