
"Apa kamu tidak mengingatku" Rey bertanya seiring degupan jantungnya. "Apa kamu tidak merindukan ku" bisik Rey namun masih terdengar oleh Nayla.
Nayla tak menjawab namun ia berbalik dan melihat manik Rey sekuat tenaga ia menyembunyikan tangisnya,Nay menelan ludahnya bibirnya tercekat ia sungguh merindukan pria ini, prianya, tapi tidak dia bukan prianya lagi.
Nayla menarik nafas panjang 'Tidak,,,tahan Nayla ada Naura apa yang akan dipikirkan anak itu nanti'. Mata Nayla beralih kepada Naura yang terlihat bingung "Naura bisa taruh ini dulu di dalam, kamu bisa mandi dulu sebelum pulang" Naura hanya mengangguk,lalu berjalan masuk.
Setelah Naura masuk Rey berjalan mendekat tangannya terangkat ingin meraih Nay kedalam pelukannya,namun Nayla mundur menjauhinya. "Silahkan duduk saya akan buatkan minum" Nayla berjalan cepat kearah dapur.
Nayla mengambil air dingin dan meminumnya dengan segera,tenggorokannya terasa kering dan panas sekaligus, belum cukup Nayla membasuh wajahnya di wastafel tangannya meremas pinggiran meja,Rey sudah punya anak bahkan berusia lima tahun itu artinya mereka mempunyai anak diawal penikahan, mengapa rasanya Nayla seperti terhianati, Rey berjanji akan terus mencintainya namun diawal pernikahan Rey sudah menyentuh Sonia hingga mereka memiliki anak.
Nayla menarik nafas panjang,dia tak boleh egois bukankah dulu dirinya yang menyuruh Rey pergi, lalu berbahagia dengan istrinya.
Nayla menghapus bulir beningnya berjalan kearah kamar untuk mengganti pakaian, terdengar suara nyanyian Naura dari kamar mandi, anak itu sudah bisa mandi sendiri, dan dia suka mandi dirumah Nay,katanya dia tidak pernah mandi memakai gayung dengan air yang tersedia di bak mandi,tentu saja Naura berasal dari keluarga kaya, rumah Nay memang sederhana dengan satu kamar mandi dekat dengan kamar,juga satu berada di dapur,namun tidak ada konsep shower atau bathub karna mereka tak sekaya itu untuk membangun kamar mandi mewah.
__ADS_1
Nayla sudah keluar dari kamar dengan baju yang berbeda, lalu mengambil air untuk ia suguhkan kepada Rey, Nayla berusaha keras untuk menghilangkan raut sedihnya.
"Silahkan minumnya, Pak..Rey" Rey yang tengah duduk mendongak melihat Nayla yang menaruh gelas minum untuknya.
Rey masih memperhatikan Nayla yang duduk di depannya dengan meja yang menjadi penghalang,sungguh Rey ingin berlari mendekap Nayla, melu mat bibir merah alaminya, dan mencumbuinya hingga Nayla menjadi miliknya, namun Rey harus menahannya ia harus melihat bagaimana Nayla terhadapnya, masih belum bicara mereka masih sibuk dengan pikirannya masing masing.
"Saya.."
"Aku.."
Grep..
Secepat kilat Rey merengkuh Nayla kedalam pelukannya, Nayla membeku nafasnya seolah terhenti.
__ADS_1
"Persetan dengan anak itu, aku kira seumur hidupku, aku tidak akan bertemu denganmu,aku merindukanmu,setiap hari, setiap waktu,setiap detik... aku kira aku akan mati tanpa bertemu lagi denganmu" Rey berbisik lirih,Nayla bahkan bisa merasakan satu tetes airmata Rey jatuh di bahunya.
Nayla ingin membalas pelukan Rey,ia sungguh ingin mendekapnya erat merasai aroma Rey yang masih ia ingat,aroma ini, aroma maskulin ini.
'Aku juga merindukanmu' namun itu hanya dia ucapkan dalam hati. Tangan Nay mendorong dada Rey, hingga pelukan itu terlepas "Maaf pak Rey, ada yang harus saya sampaikan" Nayla mendongak melihat raut Rey yang terlihat lemah dimatanya, mata Rey bahkan masih mengembun, Nay ingin menghapus air mata itu menggantinya dengan kecupan lembut di kedua mata Rey,namun itu tak boleh terjadi.
"Daddy.. Bu Nay?" Naura melihat dengan bingung kearah dua orang dewasa di hadapannya,
Nayla menghela nafasnya lagi "Sebaiknya membicarakannya di sekolah saja,anda bisa membawa Naura pulang sekarang"
Rey termangu tangannya bahkan masih mengapung di udara,beginikah reaksi Nay saat bertemu dengannya, mengapa Nayla tak melihat betapa Rey merindukannya, apakah rindu ini hanya ia yang merasakannya sendiri.
"Bu Nay, Naura boleh menginap lagi kan?" Nayla mengangguk.
__ADS_1
"Oh ya katakan pada Nenek Naura pulang, juga sama om ganteng" Nayla mengangguk lagi "Ya udah ayo Dad..!!" Naura menarik tangan Rey,Rey berjalan pasrah namun matanya masih melihat raut Nayla,ia ingin melihat tatapan itu, tatapan Nayla yang mengatakan bahwa Nayla juga merindukannya.
Nayla menutup pintu rapat, setelah terdengar suara mobil menjauh Nayla luruh ke lantai "Ah mengapa rasanya sakit" Nayla meremas dadanya, mengapa begitu sesak menahan perasaannya, "Aku juga,, aku merindukanmu Rey,,,hiks..hiks.." Nay terus meracau "Aku juga merindukan mu.. sungguh.."