Melody Cinta Nayla

Melody Cinta Nayla
Bab 97- Bangun


__ADS_3

Biar cinta kita tumbuh harum mewangi


Dan dunia menjadi saksinya


Untuk apa kita membuang-buang waktu


Dengan kata kata perpisahan


Demi cinta kita aku akan menjaga


Cinta kita yang t'lah kita bina


Walau hari terus berganti hari lagi


Cinta kita abadi selamanya


.


.


Rey mematung saat tembakan kembali terdengar..wajah Rey memucat lalu menengok ke belakang,namun desa han lega terdengar kala melihat Bram dan Daniel baik baik saja, rupanya seorang polisi menembak Amanda saat Amanda mengarahkan pistolnya pada Rey.


Rey masuk kedalam mobil dan membaringkan Nayla,Rey hendak masuk kekursi kemudi namun Daniel menahannya "Biar saya saja tuan"


Rey masuk kembali ke kursi penumpang laku memangku Nay, "Bertahalah sayang"Rey mengecup dahi Nay yang masih mengucurkan darah, Rey menekan luka agar darah tak terlalu banyak keluar.


"Cepatlah Dan" mohon Rey, namun mobil Daniel sudah melaju dengan kencang "Ya tuhan apa yang sudah kulakukan, maafkan aku sayang" Rey memeluk tubuh Nay yang sudah tak berdaya dipangkuannya, beberapa cakaran di tangan dan lehernya juga terlihat mengenaskan,tak hentinya Rey mengutuki dirinya sendiri tak bisa menjaga Nay dengan baik.


"Kamu harus kuat, kamu harus bertahan,dengar aku sayang!!!" Rey terus meracau sambil terisak dan tak hentinya menciumi Nayla.


Setelah perjalanan yang terasa panjang akhirnya mereka tiba dirumah sakit,Nayla langsung ditangani, Rey terduduk kala brangkar yang membawa Nayla ke ruang ICU.


Daniel masuk setelah menghubungi Bima lalu menghampiri Rey, "Tuan bangun lah bu guru akan baik baik saja" Daniel memapah Rey agar duduk dikursi tunggu.

__ADS_1


Rey terus saja meneteskan air matanya,ia sungguh tak berdaya.Rey memejamkan matanya tangannya menopang kepala yang terasa berdenyut hatinya terasa perih melihat Nay tak berdaya, semua karna kesalahan Rey,kesalahannya dimasa lalu,andai ia tak melakukan semua kebodohan itu memilih jalan yang salah dengan menikahi Sonia,meninggalkan Nayla hanya demi perusahaan orang tuanya, seharusnya dari dulu ia tak perduli dengan semua itu dan tetap bertahan disisi Nayla, mungkin tidak akan ada Amanda sia lan yang menyakiti Nay nya.


Bram tiba di rumah sakit setelah menyelesaikan urusan dengan polisi,Bram menghela nafasnya "Tuan Amanda tewas di tempat" katanya.Rey mencengkram erat tangannya giginya gemelutuk andai polisi itu tak menembak Amanda maka dirinya sendiri yang akan menghabisinya.


"Dia seharusnya menderita lebih lama!" matanya memicing tajam,tak rela kematian ular itu lebih cepat tanpa penderitaan harusnya dia menyikasanya lebih dulu sebelum membunuhnya.


Sudah satu jam namun dokter belum juga keluar, Keluarga sudah berdatangan ibu Nay menangis saat mendengar anaknya terluka, begitupun Meylani dan ibu Rey, namun Rey masih setia dalam kebungkamannya matanya memancarkan kesedihan namun tak lagi menangis rautnya berantakan dan kemejanya berlumur darah Nay yang menempel, Ibu memeluk Rey dengan tulus "Maafkan ibu.." Seandainya dulu ia tak memaksa Rey menikahi Sonia ini tak akan terjadi.


.


.


Sudah satu minggu Nay terbaring dan belum juga terbangun Rey selalu menemani dan mengurus segala sesuatunya mulai dari memandikan juga menggantikan pakaiannya.


Ibu Nay selalu datang setiap hari wanita paruh baya itu selalu membawakan makanan untuk Rey, dan berbincang sebentar dengan putrinya lalu pulang ibu Nay percaya Rey bisa menjaga Nay dengan baik.


"Sayang bangunlah..aku merindukanmu" Rey mengecup tangan Nay yang dia genggam.


"Dia ngotot pengen kesini" Rey mengangguk.


"Tak apa terimakasih sudah mengantarnya"


"Bagaimana sekarang?" tanya Bima.


"Masih sama dia belum bangun,sepertinya dia masih merajuk" Bima terkekeh, mereka hanya bisa berdoa agar Nay cepat sadar.


"Daddy aku mau bicara sama ibu Nay" Rey mengangguk,Naura naik keatas ranjang Nayla "Ibu Nay, katanya mau jadi mommyku, ayo bangun lalu menikah dengan Daddy,aku juga mau punya mommy,ibu Nay aku juga mau sekolah lagi nanti Ibu Nay yang antar aku,,, tidak nanti mommy yang antar aku,ayo bangun.. aku akan memanggil mommy mulai sekarang"


Cup..


Naura mengecup pipi Nayla, Rey berkaca kaca, ternyata Naura benar benar menyayangi Nayla,anaknya itu begitu tulus. "Baiklah sayang mommy mu harus istirahat pulanglah dengan om Bima" Rey mengelus rambut Naura yang memeluk Nay.


"Apa Naura gak boleh nginep daddy"

__ADS_1


"Tidak Naura"Naura cemberut.


"Baiklah mommy aku pulang dulu" Naura mengecup pipi Nay lagi sebelum turun dari ranjang.


"Ayo om.." ajak Naura.


"Kak aku pulang dulu, cepat bangun jangan terlalu lama, duda tua ini akan semakin tua jika kakak tidur terlalu lama,apa kakak mau menikah dengannya kalau dia terlalu tua" Rey tak tersinggung dengan ucapan Bima, dia malah merasa terhibur mendengar guyonan Bima saat hatinya begitu sedih.


Rey membaringkan dirinya disisi Nayla dan memeluk pinggang gadisnya pelan agar tak menyakiti tubuh tak berdaya Nay, lalu mulai memejam.


.


.


Rey baru saja keluar dari kamar mandi,handuk di tangannya terjatuh saat melihat pergerakan Nayla,mata itu mengerjap lemah. "Hai.. sayang" kata Rey pelan.


Nayla masih menyesuaikan cahayanya matanya terpejam lama lalu terbuka "Rey.." nyaris tak terdengar.


..."Ya sayang.." Rey tersenyum begitu cerah "Ya sayang aku disini" Rey mengecupi wajah Nay. "Terimakasih sudah bangun.."Rey menekan tombol disisi kanan ranjang Nay....


..."Rey.."...


...Rey mengangguk,"Ya.." tangannya tak henti mengelus tangan Nay, dokter datang untuk memeriksa keadaan Nayla....


"Selamat datang nona" sapa dokter. Nayla kembali memejam tubuhnya masih lemah.


"Dokter kenapa dia memejamkan matanya lagi" Rey panik takut Nay tak akan bangun lagi.


"Tidak apa tuan nona hanya tidur tubuhnya masih lemah, namun keadaannya sudah normal"


"Terimakasih dokter" Rey duduk di sisi Nayla setelah dokter pergi.


"Baiklah tidur lah lagi tapi kali ini jangan terlalu lama" Tentu saja satu minggu terasa begitu lama bagi Rey,bagaimana jika ia merasakan seperti orang lain yang menjalani koma selama berbulan bulan bahkan bertahun tahun, sepertinya dia tak akan sanggup.

__ADS_1


__ADS_2