
"Ada apa sebenarnya? kenapa dia ngomong kaya gitu, siapa Amanda?"
"Tidak usah khawatir aku akan mengurusnya"
"Apa sangat serius?"
"Entah, tapi untuk berjaga jaga, aku menyuruh orang untuk menjagamu"
"Hah..?"
"Tidak usah khawatir mereka akan menjagamu dari jauh, aku hanya takut dia mencelakaimu saat aku tak ada" Rey mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, "Pakai ini, apa pun yang terjadi jangan pernah lepaskan mengerti" Nayla mengangguk saat Rey menyematkan kalung berbandul biru yang indah
"Apa ini sebuah alat pelacak yang sering ada di novel novel itu?"
Rey terkekeh "Kamu terlalu banyak membaca novel sayang"
"Ck... biasanya seperti itu kan terus nanti kalau lagi dalam bahaya si pria bisa tau cewek nya ada dimana"
Rey mengangguk "Baiklah anggap saja seperti itu" Rey mencium kening Nay dan mengeratkan pelukannya
"Aku harus pulang, sekarang"
"Aku antar" Rey menggandeng Nay.
"Kamu tidak bekerja?"
"Tidak, ada CEO handal yang menggantikanku sementara"
"Siapa.."
"Bram"
"Bram.. asisten kamu dulu?"
"Ya.."
"Bagaimana kabarnya.. ? apa dia sudah menikah..? Ah sudah punya anak? berapa anaknya? aku penasaran.."
__ADS_1
"Kamu terlalu penasaran pada pria lain sayang, aku cemburu.." Rey merangkul pundak Nay.
"Ck.. mulai lagi" Nay mencebik, dan Rey terkekeh.
.
.
Hari yang dinanti akan segera tiba esok Rey dan Nay akan melangsungkan pernikahan, malam ini mereka sudah berada di hotel tempat di adakannya pernikahan.
Rey dan Nay sudah tiga hari tak bertemu atas larangan Ibu Nay.mereka hanya berhubungan lewat ponsel,seperti sekarang mereka tengah berbincang lewat telpon.
Di tengah tengah obrolan seseorang mengetuk kamar Nay "Rey ada yang mengetuk pintu kamarku"
"Hmm.. buka sayang ini aku"
"Kamu gila ini sudah malam dan kita dilarang ketemu sampai besok"
"Ayolah sayang buka pintunya aku merindukanmu"
"Tidak mau ibu nanti marah"
Nayla mematikan ponselnya dan berjalan kearah pintu lalu membukanya,Rey merangsek masuk "Bagaimana kalau ada yang melihat nanti"
"Tidak akan" Rey memeluk Nay dan mulai medaratkan ciuman nya "Aku rindu sekali tiga hari tak bertemu terasa lama" Rey makin merapatkan dekapannya dan terus mendaratkan kecupan kecupan lembut di bibir Nay.
Nayla terkekeh lalu melingkarkan tangannya di bahu Rey "Aku juga"
"Oh ya,,?" Nayla mengangguk "Aku tidak sabar untuk besok,kamu tau aku ingin segera melahapmu sampai habis" bisik Rey sambil menggigit kecil telinga Nay.
Nayla memerah membayangkan mereka akan bersatu bersama dan tak akan berpisah lagi, Nayla mengigit bibir bawah nya lalu tangannya menangkup rahang Rey menariknya semakin mendekat dan melu mat bibir Rey, Rey tertegun namun hanya sesaat lalu mulai membalas dan memperdalam ciuman mereka,Rey mendekap pinggang Nay, semakin erat, Rey menggeram kala merasakan ciuman Nay yang menggebu, Astaga ia baru merasakan Nay begitu dominan kali ini meski sedikit kaku, Rey membawa Nay kearah sofa dan mulai merebahkan Nay tanpa melepas tautan nya.
Tergesa gesa Rey membuka kancing kemejanya dan terpampanglah dada keras Rey dan perut kotak kotak nya, Rey mendesis kala merasakan tangan Nay mulai meraba di sebagian dada lalu turun keperut.
Rey pun tak tinggal diam tangannya mulai menjalar dan meremat semua yang bisa dijangkaunya, "Ah..." Nay mendesah saat Rey mendaratkan kecupan di lehernya.
Saat akan membuka kancing piama Nay.., "Rey.. sudah" Nay tak ingin mereka melewati batas,yang benar saja mereka belum menikah, meski ia mulai terbuai dan menginginkan lebih.
__ADS_1
Rey menggeram, dia tak bisa menahan has ratnya,namun dia harus berhenti "Maaf sayang" Rey mengancing lagi dua kancing piyama Nay yang sudah terbuka. lalu mengecup keningnya.
"Keluarlah sebelum ada orang yang memergoki kita"
"Aku seperti pencuri yang takut ketahuan,baiklah sampai jumpa besok sayang, aku mencintai mu"
"Hmm.. aku juga" Rey mengecup dahi Nay sekali lagi lalu meraih kemeja yang tadi ia lempar asal dan pergi dari kamar Nay.
Rey tak ingin pergi sebenarnya namun ia takut semakin tak bisa menahan has ratnya jika terus bersama Nay.
.
.
Rey berdiri tegang dihadapan cermin penampilannya sudah sempurna namun ia terus saja menarik dan menghembuskan nafas mengurangi kegugupannya.
"Bagaimana penampilanku Dan?" tanyanya pada Daniel.
"Anda sangat tampan tuan"
"Benarkah?"
"Benar tuan nona Nay pasti terpesona pada anda"
"Aku merasa gugup.."
"Itu biasa tuan untuk seorang pengantin" Bram memasuki kamar Rey "Mari tuan prosesinya akan segera di mulai"
Rey menarik dan menghembuskan nafas lagi sebelum keluar menuju aula hotel tempat di adakannya pernikahan.
Rey berdiri tegang di depan altar menanti Nay yang sedang di jemput Bima,namun sudah lima belas menit Bima tak datang juga,para tamu sudah mulai berbisik tentang pengantin wanita yang tak kunjung datang.
Tiba tiba Daniel berlari tergesa dan terengah mengahampiri Rey "Tuan.." Daniel membisik kan sesuatu.
"Sh it" Maki Rey dan berlari diikuti Bram.
Rey masuk kedalam lift menuju kamar Nay, jantungnya berdebar kencang bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi, membuka kamar Nayla tergesa, penjaga di depan kamar sudah tergeletak dilantai juga Bima yang Daniel temukan pingsan tepat di depan pintu.
__ADS_1
Rey meremas rambutnya bagaimana ia bisa lengah.
"Amanda sialan..!!! Arghh"