
Ibu Nay melangkah percaya diri meski hanya menggunakan daster, Ibu bahkan menaikkan dagu angkuh "Gak usah kek gitu juga kali bu" bisik Bima.
"Berisik kamu... lihat saja jika si Ratih itu belum juga berubah, aku buat anaknya gila"
"Gimana caranya?"
"Ibu mau nikahin Nay sama Adrian bila perlu pake pelet biar kakak mu mau"
"Wiihh shadhizzzz" Bima terkekeh.
Ibu melanjutkan langkahnya ke ruang tamu sedangkan Bima menuju kamar Nay.
"Selamat malam, Bu Santi" sapa Ibu Rey,ia berdiri dari duduknya.
"Selamat malam silahkan duduk bu Ratih" Ibu duduk tepat di depan Rey, "Oh ini Meylani kan kalau tidak salah"
"Iya ibu apa kabar?" sapa Meylani sambil menyalami ibu Nay.
"Nenek" sapa Naura.
Ibu Nay hanya tersenyum kearah Naura, lalu raut nya terlihat datar lagi.
Rey berdehem "Oh anak anda tentu sudah menceritakan semuanya bukan, bu Ratih"
"Ya, Rey sudah bilang" Ibu Rey menelan ludahnya kasar, sedangkan Rey masih bergeming.
"Jadi gimana sama syarat yang saya minta?"
.
.
Di dalam kamar Nay sedang berdiri dengan gelisah bagaimana mungkin Rey datang dan membawa ibunya,dan apa katanya melamar??
Saat Nayla masih mondar mandir gelisah,Bima masuk kedalam kamarnya "Kenapa sih?"
"Bima kenapa Rey bisa datang sama ibunya kesini?"
Bima mengedik bahu "Gak tau,Mending cepetan kak Nay ganti baju trus keluar liat sendiri" Bima menghentikan ucapannya "Eh.. jangan deh gak keburu nanti keburu terjadi perang di luar" Bima pergi dari kamar Nay.
__ADS_1
Nayla membelalakan matanya lalu secepat kilat meraih cardigan di sisi ranjang, dan berlari keluar, mengingat kejadian dulu saat ibu Rey datang dan membuat ibu marah hingga sekarang.
.
.
"Jadi gimana?" tanya Ibu.
Meylani diam melihat ibunya sendu, Ibu menghela nafasnya lalu berdiri, saat akan menekuk lututnya.. "Tunggu..!"
Ibu Rey menoleh keasal suara anaknya Rey "Saya yang akan menggantikan ibu saya berlutut di depan ibu" Rey melihat kearah Ibu Nay,tanpa melihat ibunya yang sudah berkaca kaca.
"Emh.. Naura ikut om ganteng yuk om punya hadiah buat Naura" Naura yang sejak tadi diam tak mengerti akhirnya ikut Bima.
Rey berlutut di depan Ibu Nay, "Ibu, maafkanlah kesalahan orang tua saya,mereka memang bersalah melakukan kecurangan dan menutupi kesalahan saya, pada dasarnya saya lah yang bersalah atas semua ini" Ibu Rey begitu terenyuh,Rey ternyata begitu menyayanginya dan tak sepenuhnya membencinya, ia merasa bersalah karna menjadi penyebab penderitaan anaknya sendiri.
"Rey" lirih ibu Rey.
Nayla menjatuhkan dirinya disisi Rey sontak semua mata kini tertuju pada Nayla.
Nayla berlutut..
Rey menatap sayang kearah Nay, dan Nayla tersenyum di sela tangan mereka yang saling meremat dan saling menguatkan, Ibu Rey makin merasa bersalah, pada Nay dan Rey yang telah ia dan mantan suaminya pisahkan dulu, tidak Nayla salah saat itu mereka melakukannya bukan murni karna rasa sayang mereka terhadap Rey,namun mereka lebih mendahulukan kehormatan keluarganya karna Rey jadi tersangka.
"Maafkan aku,, "Kata Ibu Rey ia menangkup wajah Nayla dengan kedua tangannya "Aku sungguh bersalah pada kalian, aku tidak bisa melihat ketulusan mu dulu,maafkan aku" Ibu Rey memeluk Nayla.
"Ibu Santi maafkan kesalahan kami dulu, aku dan alm mantan suamiku,tolong jangan pisahkan mereka lagi, dulu karna kesalahan kami dan aku menyesal karna sejak saat itu aku tak pernah lagi melihat senyum anakku Rey" Ibu Rey menangis.
"Rey maafkan ibu" Rey memeluk ibu dan membuat ibunya semakin haru dan menangis di dada Rey, anaknya memeluknya lagi setelah sekian lama.
Ehmm..
Ibu Nay berdehem "Maafkan saya ibu Santi,saya terlalu larut"
Ibu Nay mengehela nafasnya, "Itu yang saya maksud ibu Ratih,kenapa sesuatu harus selalu diukur dengan uang,kalian memang punya uang tapi tak selamanya membuat kalian bahagia,lihatlah korban dari keegoisan kalian bahkan seorang anak yang tak berdosa harus menanggung akibatnya,tumbuh tanpa kasih sayang orang tuanya"
"Iya... maafkan saya"
"Saya juga bersalah, karna saya juga ikut menentangnya dulu, maafin Ibu Nay" Nayla mengangguk lalu menghambur memeluk ibu.
__ADS_1
Meylani menangis haru melihat semuanya dan tak bisa di pungkiri perasaan lega menghampiri semuanya.
Akhirnya semua bisa selesai jika kita mau membuka hati dan memaafkan.
"Lah udah selesai" Bima datang diikuti Naura di belakang nya.
"Kirain mau ada jambak jambakkan, sama cakar cakaran"
"Anak kurang ajar" Ibu menggetok kepala Bima.
"Auh.."
"Ibu Nay kenapa? grandma juga? Daddy kok nangis" Rey mengusap titik air mata di pipinya.
"Ibu gak papa kok,, sini" Naura mendekat,dan Nayla memeluknya.
"Jadi bagaimana bu Santi jadi kan lamarannya di terima?" tanya ibu Rey.
Semua mata kini tertuju pada Ibu Nay.
"Gimana ya?"
"Ibuu!!"
"Gak usah pake merajuk,malu sama anak nanti" lalu mereka tertawa.
"Makasih Bu"
Ibu mengangguk "Mulai sekarang kamu harus lebih dewasa lagi untuk melengkapi suamimu nanti"
"Ibu benar dia sudah tua"
Rey berdehem "Aku tidak terlalu tua sayang" Rey merengut.
"Cih.. tidak mau mengaku" cibir Bima..
"Aku baru 37 tahun..." teriak Rey.
"Astaga jangan teriak kau seperti anak kecil "
__ADS_1
Dan semua tertawa.