
"Ibu senang dengan keputusan kamu, Ibu akan persiapkan pertunanganmu,Ibu tidak sabar ingin kalian segera menikah dan memberi penerus buat keluarga.." ucapan Ibu terhenti kala Rey berbicara.
"Jangan berharap lebih "Rey terkekeh "Aku tidak seingin itu mempunyai anak dari wanita itu"
"Apa maksudmu Nak?"
"Jika Ibu ingin aku menikah dengannya maka kubur dalam dalam impian ibu untuk punya cucu" Rey berwajah datar bahkan sama sekali tak ada rasa segan yang biasa Rey tunjukan pada Ibunya.
"Tapi Nak?"
"Jika ibu ingin aku menikah dengannya maka ibu jangan pernah ikut campur dalam rumah tanggaku!"
"Bicara yang sopan pada ibumu Rey," Sam daddy Rey baru saja tiba Sam begitu senang anaknya memutuskan menuruti keinginan mereka untuk menikah dengan Sonia.
"Kalian lupa aku meniru siapa? ah aku hampir lupa aku punya syarat untuk pernikahanku"
Sam dan Ratih terdiam lalu mencerna ucapan Rey "Kalian tidak berpikir aku melakukan ini dengan suka rela bukan"
"Baiklah apa yang kamu mau" kata Sam.
"Minta maaf pada keluarga Nayla, dan kembalikan nama baik ayahnya!"
"Tapi itu bisa merusak citramu Nak"kata Ratih.
"Aku tidak peduli,"
__ADS_1
"Kami bisa saja meminta maaf namun.. tidak bisakah biarkan saja ini seperti sebelumnya, lagi pula orang itu sudah meninggal" Sam benar benar tidak punya hati tidak bisakah sekali saja dia tak hanya memikirkan nama baiknya saja.
Rey terkekeh "Maka jangan harap ada pernikahan, kalian tau untuk menutupi biaya rumah sakit para korban mereka kehilangan semua milik mereka yang tak seberapa dimata kalian,dan itu karna status tersangka yang kalian buat menjadikan mereka harus bertanggung jawab"
"Itu salah mereka karna tak mau menerima uang pemberian kami" elak Sam.
"Apa jika kalian ada di posisi mereka kalian akan menerima uang itu,,, ah tentu saja kalian akan menerimanya, karna buktinya kalian berani menjual anak kalian sendiri untuk keuntungan kalian bukan" perkataan Rey membuat Sam dan Ratih terpaku.
"Aku beri waktu hingga acara pertunangan ,jika itu tidak kalian lakukan maka jangan harap ada pernikahan" Rey akan pergi dari sana.
"Tapi Rey jika kasus itu diungkap maka kamu akan terkena kasus itu dan bisa saja dipenjara"
"Maka biarkan aku mempertanggung jawabkannya, karna itu kesalahanku" kata Rey lalu melanjutkan langkahnya.
Rey berwajah datar sangat kontras dengan wajah Sonia yang terus tersenyum, bahkan Rey sama sekali tak meladeni para wartawan yang terus bertanya, hanya Sam dan Raksa yang menjawab semua pertanyaan mereka.
Malam ini Rey kembali termenung ponselnya terus berdering tentu saja dari tunangan yang baru kemarin menjadi tunangannya, Rey mendengus lalu mematikan ponselnya.
Rey merindukan Nayla gadisnya sedang apa dia.. ah tentu saja Nay sedang bekerja. Rey menyalakan kembali ponselnya lalu menghubungi Meilani.
"Hallo Mei bisakah kamu lihat keadaan Nayla, kakak ingin melihatnya,kakak merindukannya"
"..."
"Baiklah hubungi kakak jika kamu sudah sampai di Cafe"
__ADS_1
Selang waktu satu jam Meilani menghubunginya namun bukan suara Mei yang terdengar namun terdengar sayup sayup percakapan Nayla ya itu Nayla Rey hapal suaranya.
"Lo baik baik aja?"
"Baik, kenapa?"
"Gue udah tau semuanya Nay"
"Lo bisa cerita sama gue, gimana pun juga itu gak gampang, gue tau lo kuat tapi kadang lo juga perlu nangis buat luapin semua"
"Gue udah nangis dari kemaren, gue emang gak baik baik aja Vin, tapi ya, mau apa lagi? kalo gue terus nangis dia bakal balik lagi ke gue, atau Ibu sama Bima bakal baik baik aja liat gue terpuruk"
"Gue sakit iya, gak mungkin enggak, sakit banget, tapi ini udah jadi keputusan gue"
"Gue yakin lo kuat, nangis yang puas abis itu gak usah nangis lagi"
"Vin.. gue kangen dia" kata terakhir dari Nay yang Rey dengar.
Lalu hening tak ada lagi suara dari sebrang sana hingga terdengar suara Mailani.
"Kakak udah dengerkan? aku gak bisa ketemu kak Nay, aku gak sanggup" Meilani menutup telponnya, menyisakan Rey yang menerawang jauh menatap ponselnya yang tak lagi menyala,tak terasa sudut matanya mengalirkan air mata.
"Aku juga kangen kamu Nay" ucapanya.
_______________
__ADS_1