
"Kamu pilih, yang hitam atau putih?"
Tiyas melirik dua stiletto, sepatu dengan hak tinggi dan tipis di hadapannya itu. Ia menatap kedua pasang benda itu dengan perasaan ragu. Sepatu tipe seperti ini benar-benar salah satu musuh Tiyas, ia bisa-bisa akan mengalami sakit kaki menjelang tidur jika memakainya seharian.
"Berapa ukuran sepatumu?" Bagas kembali bertanya. Tak mendapat jawaban dari Tiyas, pria itu kemudian menoleh. Mendapati wanita itu yang kini termenung sembari menatap sepatu-sepatu pilihannya.
"Jangan lihat harganya. Semua saya yang belikan," sambung Bagas dengan tarikan di ujung bibirnya. Merasa bahwa ia cukup royal hari ini.
Tapi ternyata pernyataan itu malah membuat Tiyas kembali tersinggung. Penghinaan ini namanya. Walaupun sebenarnya bukan salah Bagas, karena pria itu tidak tahu.
"Saya pakai yang flat shoes aja, Mas." bisik Tiyas yang sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Bagas.
Kening Bagas kembali berkerut. Selera Tiyas benar-benar tidak terpikir olehnya. Biasanya para wanita akan memilih stiletto untuk pasangan dress mereka. Tapi wanita ini malah berbeda.
"Loh, kenapa? Saya pikir sepatu ini cocok untuk kamu," tanggap Bagas yang menatap dua buah pasang sepatu tersebut. Seperti menimbang-nimbang mana yang pas dengan setelah Tuyas hari ini.
Tunggal Adhitama itu menghela napas kesal. Kenapa rasa-rasanya Bagas lebih cerewet dari informasi yang didapatkan tentang pria itu? Kenapa Bagas harus repot-repot memadu padankan pakaiannya hari ini?
"Mas," panggil Tiyas yang berusaha untuk tenang. "Saya bukannya kurang ajar mau menolak pemberian dari, Mas. Tapi saya sama model sepatu begitu udah jadi musuh abadi. Jadi mending flat shoes aja ya, Mas."
Mata Bagas mengerjap cepat, sebelum ia membalik tubuhnya untuk menyembunyikan senyuman kecil yang tercipta karena merasa lucu dengan perkataan Tiyas.
Pria itu dengan cepat berbalik seraya berdeham.
"Oke," katanya kemudian menatap pramuniaga yang sejak tadi terdiam di sana. "Bawakan sepatu yang dia mau. Saya akan tunggu di depan."
Tiyas mengangguk dengan wajah polosnya. Kemudian berbalik menatap pramuniaga yang tersenyum malu menatapnya. Sedikit memiringkan kepalanya, bingung dengan respon pegawai wanita ini.
"Mba, senyumnya cukup untuk sekarang. Kalau mau sedekah senyum nanti lagi aja, mending bawa saya ke bagian flat shoes yuk!" saran Tiyas dengan senyum canggungnya yang diiyakan dengan ramah oleh pegawai tersebut.
Akhirnya tidak butuh waktu lama. Pilihan Tiyas jatuh pada sepatu berwarna putih dengan manik di sepanjang tali belakangnya. Karena tak ingin mendengar ocehan ataupun perkataan Bagas yang membuatnya naik pitam, akhirnya Tiyas memakai sepatu itu dan membungkus sneakersnya.
__ADS_1
"Sudah? Satu saja?" tanya Bagas kepada Tiyas yang tengah menenteng tas belanjanya berisi sneakers itu.
Tiyas mengangguk singkat.
"Gak usah banyak-banyak, Mas. Gak perlu, lagian kalau sepatu model begini ada dirumah beberapa walaupun gak banyak banget. Saya gak suka koleksi-koleksi sepatu begitu."
Wanita itu tidak berbohong, ia bukan sedang bersandiwara menjadi orang miskin. Pada kenyataannya, Tiyas memang tidak hobi mengoleksi sepatu atau tas branded seperti teman-temannya yang lain. Sebagai wanita, Tiyas memang terbilang simpel dalam segi berpakaian. Ia bukan seorang wanita yang ribet, terkecuali jika tengah menghadiri sebuah acara resmi.
Sudah sejak lama, Tiyas sering memberikan tas, sepatu serta bajunya yang beberapa bahkan belum dipakai pada acara amal yang sering ibunya hadiri. Bukan semata-mata karena Tiyas anak orang terpandang, tetapi karena barang-barang seperti itu terlihat mubazir di matanya jika sudah berlebihan.
Sulung Adhitama itu lebih senang untuk menghabiskan uangnya untuk skincare, bodycare, haircare dan berbagai perawatan bagian tubuhnya.
Bagas mau tak mau mengangguk. Biarlah jika memang keinginan Tiyas seperti itu. Ia kemudian mengedikkan dagunya, kode untuk mereka segera keluar dari toko tersebut.
"Terakhir kita cari tas buat kamu," kata Bagas seraya melangkah tegas, seperti sudah mengetahui dimana letak barang-barang wanita seperti itu. "Saya lihat kamu selalu pegang ponselmu ditangan. Lupa bawa tas atau bagaimana?
"Sengaja," jawab Tiyas dengan singkat. Wanita itu setia mengekori Bagas ke toko sebelahnya. Dimana terdapat tas-tas cantik merk ternama. "Mas lihat sendiri tadi saya pakai baju apa? Ponsel tinggal kantongi, gak perlu ribet bawa tas."
"Saya mau yang itu, Mas. Satu aja cukup," celetuk Tiyas tiba-tiba dengan tangannya menunjuk salah satu tas kecil berwarna hitam dengan tali rantai emas terpajang di atas sana.
Bagas menoleh pada pegawai disana, ia mengangguk. Dan langsung menuju kasir untuk pembayaran. Sedangkan Tiyas, wanita itu setelah memakai tas yang dipilih nya langsung keluar dari toko selagi menunggu Bahas selesai melakukan pembayaran.
"Ayo, kamu mau beli apa lagi?" tanya Bagas setelah menyusul Tiyas di luar toko. Namun fokusnya kini terbagi menjadi dua pada ponselnya.
Karena tak kunjung mendapatkan apa yang ia mau, Bagas langsung saja menyambungkannya pada telepon kantor. Tanpa sadar pria itu menelepon sembari berjalan tanpa berbicara apapun. Alhasil, Tiyas mengekori Bagas sembari menikmati mal yang semakin sore semakin ramai.
"Kok perut gue perih ya," gumam Tiyas sembari memegangi perutnya yang terasa perih juga sedikit mual. Wanita itu segera mengecek ponselnya dan terkejut karena ini hampir pukul tiga sore.
"Mas," panggil Tiyas yang jaraknya cukup jauh dari Bagas. Tetapi karena calon suaminya itu tengah fokus pada ponselnya, panggilan Tiyas tidak terdengar. Karena merasa perutnya semakin perih, wanita itu berlari kecil dan menarik jas belakang Bagas.
Pria tampan itu menghentikan langkahnya. Menoleh ia ke belakang dan tersadar bahwa telah mengabaikan Tiyas.
__ADS_1
"Sisanya kita bahas besok di kantor. Saya lagi ada urusan penting." titahnya sebelum memutus panggilan tersebut dan memusatkan atensinya pada Tiyas. "Sorry, tadi ada masalah sedikit."
"Kalau Mas lagi sibuk, gak masalah kok. Tapi makan dulu ya, perut saya perih, Mas" ringis Tiyas berusaha menekan rasa malunya. Sepanjang hidupnya baru kali ini makan harus izin kepada seseorang. Biasanya ia hanya perlu berhenti di restaurant dan pesan makan sepuasnya.
Bagas terperanjat, sudah berapa jam mereka melewati makan siang? Bagaimana bisa ia lupa dan membuat anak orang kelaparan?
"Sorry. Kayaknya saya terlalu fokus untuk mengubah penampilan kamu sampai-sampai lupa tawarin kamu makan. Bahkan saya juga gak tawarin kamu minum sama sekali sejak kita bertemu," sesal Bagas dengan helaan napas panjang. "Ayo, kamu mau makan apa? Jepang, Korea, Thailand atau China?"
Benar-benar tawaran menggiurkan. Semuanya kesukaan Tiyas, ia sangat menyukai makan. Makan sudah menjadi hobinya. Tak ayal kalau ia sedang berpergian ke luar negeri, bukan wisata atu pemandangannya yang jadi fokus Tiyas. Tetapi kulinernya, itu menjadi incaran pertamanya.
"Yang Indonesia aja, Mas."
Tapi lagi-lagi, Tiyas harus bersikap sesederhana mungkin. Walaupun setidaknya orang biasa masih bisa mencicipi sushi, ramen atau sejenis hidangan Jepang lainnya. Tapi disini Tiyas tidak ingin melakukan itu.
Disisi lain, Bagas rasanya prihatin dengan keadaan Tiyas. Setelah tidak bisa membeli baju yang bagus. Wanita itu bahkan belum bisa mencicipi hidangan khas dari negara lain. Lain kali Bagas akan mengajak Tiyas untuk setidaknya mengenalkan berbagai hidangan enak dari berbagai negara.
"Kalau begitu ikut aja. Saya tahu dimana makanan enak khas Indonesia di dalam mal ini," ajak Bagas yang kemudian kembali berjalan lebih dulu, namun sedikit lebih lambat langkahnya.
Akhirnya keduanya sampai di restoran Indonesia. Setelah memesan akhirnya mereka mencari meja dan duduk sembari menunggu makanannya datang.
Setelah berjam-jam Bagas mengajak jalan Tiyas. Pria itu akhirnya punya waktu untuk bertanya sesuatu hal.
"Tiyas," panggil Bagas dengan ragu.
"Ya?"
"Namu kamu siapa?"
Wanita itu mengerutkan keningnya. Memusatkan penuh atensinya pada Bagas.
"Tiyas," jawabnya dengan santai tanpa beban.
__ADS_1
"Tanpa kamu jawab juga saya udah tau," sahut Bagas dengan berdengus pelan. Ia melirik malas pada calon istrinya. "Nama lengkap kamu. Apa nama lengkap kamu?"